Gara-gara Harga Pangan Melejit, Kowantara Minta Pemerintah Bertindak

- Jurnalis

Kamis, 12 Februari 2026 - 18:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, suararealitas.co – Kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali dirasakan para pelaku usaha warung tegal (warteg).

Ketua Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni menyebut, bahwa lonjakan harga tahun ini tergolong tinggi dan berdampak langsung pada biaya operasional pedagang.

“Kalau menghadapi Ramadan ini sudah maklum, karena memang ada ritual kenaikan harga. Setiap Ramadan itu pasti begitu. Cuma ini kan fatalitasnya tinggi banget,” ujar Mukroni di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mengungkapkan sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan signifikan, di antaranya cabai rawit yang menembus Rp75 ribu per kilogram, bawang merah sekitar Rp50 ribu per kilogram, serta telur ayam yang ikut merangkak naik.

Selain itu, beras dan minyak goreng juga mengalami kenaikan yang cukup terasa.

“Ada empat yang lumayan berat, yaitu beras, cabai rawit, bawang merah, dan minyak goreng. Itu yang mengalami kenaikan cukup tinggi,” katanya.

Menurut Mukroni, kondisi tersebut menjadi beban tambahan bagi pedagang warteg karena biaya bahan baku merupakan komponen utama dalam perhitungan porsi makanan, selain biaya operasional, sumber daya manusia, dan sewa tempat.

Baca Juga :  Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jayakarta Pimpin Aksi Bersih Lingkungan di Danau Cincin Papanggo

“Bahan baku naik saja sudah mempengaruhi keuntungan. Pendapatan berkurang karena biaya operasional semakin tinggi,” jelasnya.

Mukroni menyebut, dari sekitar 50 ribu outlet warteg di Jakarta, mayoritas merasakan dampak kenaikan harga, terutama di wilayah Jabodetabek.

Sementara untuk daerah lain, pihaknya masih menghimpun data dari anggota.

Sebagai langkah menyiasati kondisi tersebut, para pedagang melakukan sejumlah penyesuaian tanpa menaikkan harga jual secara signifikan. Salah satunya dengan substitusi bahan dan penyesuaian ukuran.

“Misalnya cabai rawit yang tadinya 100 persen, kita campur dengan tomat. Telur juga kita pilih ukuran yang lebih kecil. Yang penting satu butir tetap ada, daripada harga dinaikkan,” terangnya.

Selain itu, beberapa pedagang juga menyesuaikan ukuran piring atau porsi sajian agar tetap terlihat proporsional di mata pembeli.

Mukroni mengakui, opsi menaikkan harga sebenarnya terbuka. Namun, kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi membuat pedagang berhati-hati.

“Sejak pandemi daya beli belum kuat. Sekarang juga ada persaingan, misalnya program makan gratis di sekolah. Itu juga berpengaruh. Sementara harga kebutuhan naik karena permintaan meningkat,” ujarnya.

Baca Juga :  Intip 10 Brand Mobil Cina Paling Laris di Tanah Air pada Juli 2025

Ia menilai lonjakan permintaan menjelang Ramadan turut memicu ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan.

Bahkan, kebutuhan dalam jumlah besar untuk program tertentu dinilai memperbesar tekanan terhadap ketersediaan bahan pangan.

“Kalau demand terlalu besar dibanding supply, harga pasti naik. Ini harus dimitigasi pemerintah supaya warteg tidak terlalu terdampak,” tegasnya.

Mukroni juga menyoroti faktor cuaca ekstrem dan krisis iklim, seperti fenomena La Nina dan El Nino, yang berdampak pada produksi pertanian.

“Musim hujan terus, banjir dan longsor di beberapa daerah sentra seperti Kudus dan Tegal mengurangi produksi cabai dan bawang. Ini perlu diantisipasi,” katanya.

Meski pemerintah telah menyampaikan komitmen untuk menjaga stabilitas harga pangan menjelang Ramadan, Mukroni berharap langkah konkret di lapangan dapat segera dirasakan pelaku usaha kecil.

“Kita berdoa harga bisa stabil atau turun. Tapi pengalaman tahunan, menjelang Ramadan kenaikannya cukup tinggi. Harapannya pemerintah bisa benar-benar memitigasi dari sisi produksi dan distribusi,” pungkasnya.

Berita Terkait

Potensi PAD Rp25 Miliar Tak Tercapai, Aktivis Soroti Buruknya Pelayanan PBG Jakarta Barat dan Investasi Terhambat?
Alvino Antonio: Indo Livestock 2026 Bantu Peternak Akses Teknologi, Data Jadi Kunci Stabilitas Harga Telur
Sekda Uus Kuswanto Buka Festival Jakarta Great Sale 2026
Cigarnesia 2026 Sukses Digelar, 1.500 Batang Cerutu Dinikmati Pengunjung Selama Tiga Hari
Pendapatan Sewa Rusunawa Rawa Buaya Naik 200 Persen, Kesadaran Warga Semakin Meningkat
Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Dolar AS Menguat hingga Sentuh Rp18.066
DKI Siaga Lonjakan Harga Pangan, Warga Diimbau Belanja Bijak Jelang Idul Adha
Sambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah: Semangat Berqurban Tuju Arah Transformasi Ancol

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:53 WIB

Potensi PAD Rp25 Miliar Tak Tercapai, Aktivis Soroti Buruknya Pelayanan PBG Jakarta Barat dan Investasi Terhambat?

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:47 WIB

Alvino Antonio: Indo Livestock 2026 Bantu Peternak Akses Teknologi, Data Jadi Kunci Stabilitas Harga Telur

Kamis, 11 Juni 2026 - 10:16 WIB

Sekda Uus Kuswanto Buka Festival Jakarta Great Sale 2026

Minggu, 7 Juni 2026 - 19:34 WIB

Cigarnesia 2026 Sukses Digelar, 1.500 Batang Cerutu Dinikmati Pengunjung Selama Tiga Hari

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:42 WIB

Pendapatan Sewa Rusunawa Rawa Buaya Naik 200 Persen, Kesadaran Warga Semakin Meningkat

Berita Terbaru