Tangerang, Suararealitas.co – Indo Livestock 2026 kembali hadir sebagai pameran dan forum bisnis industri peternakan terbesar di Indonesia yang mempertemukan pelaku usaha, akademisi, pemerintah, serta penyedia teknologi dari dalam dan luar negeri. Ajang ini menjadi wadah strategis untuk mendorong transformasi sektor peternakan nasional menuju sistem produksi yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Penyelenggaraan Indo Livestock 2026 menampilkan berbagai inovasi terkini di bidang pembibitan, pakan ternak, kesehatan hewan, peralatan peternakan, pengolahan hasil ternak, hingga teknologi digital yang mendukung peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan nasional.
Selain pameran, Indo Livestock 2026 juga menghadirkan konferensi internasional, seminar teknis, serta forum diskusi yang membahas berbagai isu strategis, mulai dari biosekuriti, keberlanjutan industri, kesejahteraan hewan, hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan daya saing sektor peternakan Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu pelaku usaha peternakan unggas sekaligus Ketua KPUN, Alvino Antonio, menilai penyelenggaraan pameran industri peternakan memberikan manfaat besar bagi peternak karena membuka akses terhadap berbagai informasi dan teknologi terbaru. Menurutnya, peternak dapat memperoleh pengetahuan mengenai peralatan kandang, pakan, obat-obatan, hingga jaringan pemasok yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas usaha.
Ia mengatakan kegiatan semacam ini tidak hanya memperkenalkan inovasi terbaru di sektor peternakan, tetapi juga membantu peternak menemukan solusi dan mitra usaha yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Selain menyoroti perkembangan teknologi peternakan, Alvino juga menyinggung kondisi harga telur yang masih berfluktuasi mengikuti dinamika pasokan dan permintaan. Menurutnya, program pemerintah yang menghubungkan langsung dapur penyedia makanan dengan produsen telur merupakan konsep yang baik karena berpotensi menggerakkan perekonomian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor peternakan.

Namun demikian, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar. Menurutnya, pemerintah perlu memiliki data yang akurat mengenai jumlah produksi dan tingkat permintaan telur untuk mengantisipasi potensi kelebihan pasokan yang dapat menekan harga di tingkat peternak.
“Kalau harga telur jatuh, pemerintah harus bisa melihat apakah memang terjadi kelebihan pasokan atau ada faktor lain. Semua itu harus didukung data yang akurat,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah melalui berbagai instrumen, termasuk cadangan pangan pemerintah dan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dapat meningkatkan penyerapan hasil produksi peternak saat harga sedang turun. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi keberlangsungan usaha peternak rakyat.
Menurutnya, mekanisme penyerapan ketika harga rendah dan operasi pasar saat harga tinggi dapat menjadi salah satu solusi untuk menciptakan keseimbangan pasar yang lebih baik.
Selain itu, Alvino berharap pemerintah kembali menghadirkan program bantuan pangan bergizi yang melibatkan produk peternakan, khususnya telur, sehingga dapat membantu meningkatkan konsumsi masyarakat sekaligus menyerap hasil produksi peternak.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kunci utama dalam menjaga stabilitas sektor perunggasan adalah tersedianya data yang terintegrasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dengan data yang akurat mengenai produksi dan kebutuhan pasar, kebijakan yang diambil akan lebih tepat sasaran serta mampu mengurangi ketidakpastian yang selama ini sering memicu perdebatan mengenai kondisi kelebihan maupun kekurangan pasokan.
“Pemerintah daerah sebenarnya memiliki data di lapangan. Jika data produksi dan kebutuhan dapat terkontrol dengan baik, maka kondisi pasar juga akan lebih mudah dikelola,” katanya.




































