Tahun Baru Hijriyah: Saatnya Berhijrah dari Seremoni ke Substansi

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 23:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aceng Syamsul Hadie El-Gontory

MAJALENGKA, Suararealitas.co – Setiap kali Tahun Baru Hijriyah tiba, kita menyaksikan berbagai bentuk perayaan. Ada pawai obor, doa bersama, tabligh akbar, hingga berbagai kegiatan seremonial lainnya. Semua itu tentu baik sebagai bentuk syiar dan ekspresi kegembiraan umat Islam menyambut pergantian tahun. Namun pertanyaan yang patut diajukan adalah: apakah makna hijrah yang menjadi ruh Tahun Baru Hijriyah benar-benar telah kita hayati?

Tahun Baru Hijriyah sejatinya bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam. Ia merupakan pengingat terhadap sebuah peristiwa monumental dalam sejarah umat manusia: hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa yang kemudian dijadikan titik awal kalender Islam itu bukanlah sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi besar yang mengubah wajah peradaban.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada alasan filosofis mengapa para sahabat tidak menjadikan kelahiran Nabi atau turunnya wahyu pertama sebagai awal penanggalan Islam. Mereka memilih hijrah karena di dalamnya terkandung pesan tentang perjuangan, keberanian, perubahan, dan pembangunan masyarakat yang lebih baik. Dengan kata lain, Islam ingin mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari status atau simbol, tetapi dari kemampuan melakukan perubahan menuju keadaan yang lebih baik.

Baca Juga :  Polres Bogor Laksanakan Patroli Malam untuk Cegah Kejahatan di Wilayah Kabupaten Bogor

Sayangnya, dalam praktik kehidupan modern, makna hijrah sering kali direduksi menjadi sekadar simbol identitas atau ritual tahunan. Kita bersemangat merayakan Tahun Baru Hijriyah, tetapi sering lupa melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Padahal esensi hijrah justru terletak pada keberanian meninggalkan kebiasaan buruk dan membangun karakter yang lebih baik.

Di tengah berbagai persoalan bangsa, semangat hijrah menjadi semakin relevan. Ketika korupsi masih menjadi penyakit kronis, hijrah berarti berpindah dari budaya penyalahgunaan amanah menuju integritas. Ketika ruang publik dipenuhi ujaran kebencian dan polarisasi, hijrah berarti berpindah dari permusuhan menuju persaudaraan. Ketika masyarakat terjebak dalam sikap apatis terhadap berbagai persoalan sosial, hijrah berarti berpindah dari ketidakpedulian menuju kepedulian.

Hijrah juga memiliki dimensi intelektual. Umat Islam tidak boleh berhenti pada romantisme kejayaan masa lalu. Semangat hijrah mengajarkan pentingnya bergerak maju, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat pendidikan, dan membangun daya saing. Sebab peradaban besar tidak dibangun oleh nostalgia, melainkan oleh kerja keras dan inovasi.

Lebih jauh lagi, hijrah mengajarkan bahwa perubahan selalu membutuhkan pengorbanan. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat meninggalkan kenyamanan, harta benda, bahkan kampung halaman demi sebuah cita-cita besar. Filosofi ini sangat penting di era sekarang, ketika banyak orang menginginkan perubahan tanpa kesediaan untuk berjuang dan berkorban.

Baca Juga :  Camat Pakuhaji Pimpin Rapat Koordinasi Guna Bahas Persiapan Estafet Kirab Pemilu 2024

Karena itu, Tahun Baru Hijriyah seharusnya menjadi momentum muhasabah nasional sekaligus refleksi pribadi. Kita perlu bertanya: sudahkah kita berhijrah dari kebiasaan yang merugikan menuju kebiasaan yang bermanfaat? Sudahkah kita berpindah dari sekadar mengeluh menjadi berkontribusi? Sudahkah kita meninggalkan egoisme dan mulai memikirkan kepentingan yang lebih luas?

Pada akhirnya, makna Tahun Baru Hijriyah tidak terletak pada seberapa meriah perayaannya, melainkan pada seberapa besar perubahan yang berhasil kita lakukan. Sebab hijrah yang sesungguhnya bukanlah perpindahan fisik, melainkan perpindahan nilai; dari kegelapan menuju cahaya, dari kemunduran menuju kemajuan, dan dari diri yang biasa-biasa saja menuju pribadi yang lebih bermakna bagi sesama.

Jika semangat itu mampu kita hidupkan, maka Tahun Baru Hijriyah tidak akan berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi energi moral untuk membangun masyarakat yang lebih adil, beradab, dan bermartabat. Itulah esensi hijrah yang sesungguhnya.[]

Berita Terkait

Makan Minum Rapat Rp1,49 Miliar di Rajeg Viral di Media Sosial, BARATA Layangkan Somasi
Bungkam Soal Konsumsi Rp1,49 Miliar, Kini 40 Proyek Infrastruktur Rajeg Jadi Sorotan
Rp1,49 Miliar untuk Nasi Kotak Rapat, Kecamatan Rajeg Kenyang Anggaran
Fungsi Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Disorot, GMNI Desak Respons Atas Laporan Penyalahgunaan Wewenang
Pelayanan Publik Balai Desa Warungpring Dikritik Warga, Kades Dinilai Persulit Permohonan Salinan Warkah Tanah
BPKAD Bungkam Terkait BPKB Milik Armada DLHK yang Terselip
Idul Adha: Ketika Pisau Kurban Tajam ke Hewan, Tapi Tumpul ke Keserakahan
Masyarakat Rajeg Segera Nikmati Akses Air Bersih, Perumdam TKR Wujudkan Pemerataan Layanan di Kabupaten Tangerang‎

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:33 WIB

Makan Minum Rapat Rp1,49 Miliar di Rajeg Viral di Media Sosial, BARATA Layangkan Somasi

Minggu, 21 Juni 2026 - 21:03 WIB

Bungkam Soal Konsumsi Rp1,49 Miliar, Kini 40 Proyek Infrastruktur Rajeg Jadi Sorotan

Jumat, 19 Juni 2026 - 18:48 WIB

Rp1,49 Miliar untuk Nasi Kotak Rapat, Kecamatan Rajeg Kenyang Anggaran

Selasa, 16 Juni 2026 - 19:59 WIB

Fungsi Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Disorot, GMNI Desak Respons Atas Laporan Penyalahgunaan Wewenang

Senin, 15 Juni 2026 - 23:40 WIB

Tahun Baru Hijriyah: Saatnya Berhijrah dari Seremoni ke Substansi

Berita Terbaru