RSUD Tigaraksa, Pasien dibiarkan Antri Untuk Mati ?

- Jurnalis

Rabu, 17 Desember 2025 - 15:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum Poros Tangerang Solid (Portas), Hilman Santosa, menilai pola layanan kesehatan darurat di rumah sakit daerah tersebut semakin kaku dan terlalu bertumpu pada prosedur administratif.

Ketua Umum Poros Tangerang Solid (Portas), Hilman Santosa, menilai pola layanan kesehatan darurat di rumah sakit daerah tersebut semakin kaku dan terlalu bertumpu pada prosedur administratif.

KABUPATEN TANGERANG, Suararealitas.co — Dugaan buruknya pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Tigaraksa menuai kritik dari berbagai pihak.

Ketua Umum Poros Tangerang Solid (Portas), Hilman Santosa, menilai pola layanan kesehatan darurat di rumah sakit daerah tersebut semakin kaku dan terlalu bertumpu pada prosedur administratif.

Menurut Hilman, dalam praktiknya, standar operasional prosedur (SOP) justru kerap ditempatkan lebih tinggi dibanding kebutuhan medis pasien yang datang dalam kondisi darurat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sekarang sepertinya yang paling darurat di IGD itu bukan pasien, tapi administrasi. SOP harus aman dulu, baru pasien menyusul,” ujar Hilman, Rabu (15/12/2025).

Ia menyebut, kondisi tersebut mencerminkan persoalan sistemik dalam layanan kesehatan publik, di mana prosedur acap kali dijadikan pembenaran untuk menunda tindakan medis awal.

“Kalau pasien sesak napas, berdarah, atau korban kecelakaan masih harus menunggu bed untuk ditangani, berarti yang dikelola bukan layanan gawat darurat, tapi manajemen antrean,” katanya.

Hilman menegaskan, SOP semestinya berfungsi sebagai panduan untuk mempercepat pengambilan keputusan medis, bukan menjadi alasan pembatasan tindakan.

“SOP itu dibuat untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk menjelaskan kenapa nyawa harus menunggu. Kalau yang diselamatkan justru SOP-nya, ada yang keliru, inimah kayak pasien dibiarkan Antri untuk mati,” ujarnya.

Baca Juga :  Studi Rancangan Undang-Undang: Kajian Yuridis Terhadap Dualisme Kewenangan Antara Kepolisian dan Kejaksaan dalam Tahap Penyelidikan dan Penyidikan

Ia juga menyoroti dugaan perubahan fungsi IGD yang dinilai lebih menyerupai ruang tunggu darurat ketimbang unit penyelamatan medis.

“Kalau pasien hanya dicek tensi, disuruh duduk, lalu menunggu tanpa kepastian, itu bukan gawat darurat. Itu ruang tunggu dengan alat medis,” kata Hilman.

Lebih jauh, Hilman menilai Dinas Kesehatan memiliki peran sentral dalam memastikan IGD berfungsi sesuai mandatnya. Menurut dia, pengawasan tidak cukup dilakukan melalui laporan administratif.

“Seharusnya Dinas Kesehatan hadir di depan, memastikan IGD benar-benar menjadi ruang penyelamatan. Kalau yang diawasi hanya kertas dan laporan, sementara di lapangan pasien menunggu tanpa tindakan, berarti yang dijaga administrasinya, bukan keselamatan manusianya,” ujarnya.

Hilman juga mengaitkan persoalan tersebut dengan kondisi pelayanan di tingkat puskesmas yang selama ini kerap dikeluhkan masyarakat.

“Pelayanan di puskesmas yang memprihatinkan itu sudah menjadi rahasia umum. RSUD semestinya menjadi tempat terakhir yang memberi rasa aman, bukan malah meniru standar pelayanan yang sama menyedihkannya,” katanya.

Baca Juga :  PWI Dukung Program Rumah Bersubsidi untuk Wartawan, Tak Ganggu Independensi Pers

Menurut Hilman, ketika puskesmas dan RSUD sama-sama mengecewakan, kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan negara akan terkikis.

“Kalau puskesmas mengecewakan lalu RSUD juga mengecewakan, masyarakat mau lari ke mana? Jangan sampai pelayanan kesehatan berubah menjadi urusan coba-coba nasib,” ucapnya.

Sebagai perbandingan, Hilman menyinggung rumah sakit daerah lain yang secara fasilitas dinilai lebih terbatas, namun mampu menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.

“RSUD Berkah secara fasilitas jauh lebih sederhana dibanding RSUD Tigaraksa. Tapi di sana, nyawa dan tindakan jadi prioritas. Bukan prosedur,” katanya.

Menurut Hilman, perbandingan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama tidak terletak pada ketersediaan fasilitas, melainkan pada keberpihakan kebijakan dan keberanian mengambil keputusan medis dalam situasi darurat.

“Fasilitas boleh kalah, gedung boleh biasa saja. Tapi keberpihakan pada pasien harus nomor satu. Kalau rumah sakit yang serba terbatas bisa bertindak cepat, sementara yang lebih lengkap justru bersembunyi di balik SOP, berarti masalahnya bukan di fasilitas,” pungkasnya.

Berita Terkait

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Hadiri Panen Raya Jagung Nasional dan Launching 166 SPPG Polri Bersama Presiden RI
Satgas TMMD Ke-128 Kodim 1710/Mimika: Pemasangan Atap Rampung, Progres Pembangunan 5 Rumah Capai 90 Persen
Pdt. Anton Wamang Menarik Pernyataan soal Keterlibatan Oknum TNI dalam Kematian Putrinya di Camp Wini Mp.69 Tembagapura
Bersatu Dengan Alam, Satgas TMMD Kodim 1710/Mimika Tanam Ribuan Bibit Mangrove
TNI Koops Habema Sampaikan Duka Cita atas Meninggalnya Nalince Wamang dan Komitmen Lindungi Warga
Tambang Batu Bara di Pesisir Selatan Diduga Langgar Aturan Minerba
Panglima TNI Dampingi Presiden RI Pada Kegiatan Penyerahan Hasil Kerja Satgas PKH
Polisi Tangkap Pria intip wanita di toilet, Masyarakat diimbau Gunakan 110 Untuk Respon Cepat Aduan

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:50 WIB

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Hadiri Panen Raya Jagung Nasional dan Launching 166 SPPG Polri Bersama Presiden RI

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:24 WIB

Pdt. Anton Wamang Menarik Pernyataan soal Keterlibatan Oknum TNI dalam Kematian Putrinya di Camp Wini Mp.69 Tembagapura

Sabtu, 16 Mei 2026 - 09:44 WIB

Bersatu Dengan Alam, Satgas TMMD Kodim 1710/Mimika Tanam Ribuan Bibit Mangrove

Sabtu, 16 Mei 2026 - 09:40 WIB

TNI Koops Habema Sampaikan Duka Cita atas Meninggalnya Nalince Wamang dan Komitmen Lindungi Warga

Jumat, 15 Mei 2026 - 10:18 WIB

Tambang Batu Bara di Pesisir Selatan Diduga Langgar Aturan Minerba

Berita Terbaru

Nasional

Makam Ki Mauk Diresmikan Bupati Kabupaten Tangerang

Minggu, 17 Mei 2026 - 16:38 WIB

Megapolitan

Gubernur DKI Lepas Peserta Digiland Run 2026

Minggu, 17 Mei 2026 - 13:27 WIB