Palembang, Suararealitas.co — Menandai tahun ketiga peringatan Hari Kebaya Nasional pasca-ditetapkannya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 19 Tahun 2023, Dewan Pimpinan Pusat Perempuan Indonesia Maju (DPP PIM) secara resmi mengonsolidasikan gerakan pelestarian budaya secara serentak di berbagai wilayah Nusantara. Mengusung semangat penguatan identitas bangsa, DPP PIM menegaskan pentingnya komitmen pasca-penetapan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada akhir tahun 2024 lalu.
Ketua Umum DPP PIM, Lana T. Koentjoro, menyampaikan bahwa peringatan tahun ini menjadi momentum penting untuk menyatukan kembali gerakan yang sebelumnya telah tersebar di berbagai daerah pada tahun kedua. Puncak perayaan Hari Kebaya Nasional 2026 dijadwalkan akan berlangsung pada 24 Juli di Jakarta, yang diperkuat dengan rangkaian kegiatan kebudayaan di berbagai daerah pendukung, termasuk parade akbar di Kota Palembang.
Lana T. Koentjoro menegaskan bahwa lahirnya Hari Kebaya Nasional merupakan hasil perjuangan kolektif dari berbagai organisasi dan komunitas perempuan di Indonesia. Namun, pengakuan internasional yang diraih pada 4 Desember 2024 melalui pengajuan bersama (joint nomination) regional tidak boleh membuat komitmen pelestarian menjadi kendur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pengakuan UNESCO bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Kita harus konsisten menunjukkan bahwa kebaya benar-benar dijalankan dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujar Lana.
Sinergi Kowani Mengawal Catatan Rekor MURI dan Pelestarian Budaya
Sejalan dengan arahan konsolidasi nasional dari DPP PIM, Dewan Pimpinan Daerah PerempuanIndonesia Maju (DPD PIM) Sumatera Selatan turut mengimplementasikan gerakan ini secara masif melalui perhelatan “Parade Kebaya Songket: Pesona Perempuan Indonesia” yang digelar di Kota Palembang. Lebih dari sekadar selebrasi, parade di Palembang ini ditargetkan untuk mencatatkan Rekor MURI dalam kategori perempuan berkebaya dengan kain songket terbanyak. Langkah ini sekaligus menjadi strategi wilayah untuk mengangkat Jembatan Ampera sebagai ikon pariwisata Sumatera Selatan ke tingkat internasional.
Dukungan penuh terhadap perhelatan akbar ini juga datang langsung dari Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) periode 2024–2029, Nannie Hadi Tjahjanto, yang hadir langsung di Palembang. Ia menyampaikan rasa syukur dan bangganya dapat menyaksikan secara langsung parade kebaya dan songket yang berhasil mencatatkan rekor MURI tersebut.
“Ini suatu kebanggaan buat saya tersendiri dan suatu kehormatan tentunya. Yang mana kebaya sudah dikenalkan di UNESCO, tentu kita sebagai generasi penerus harus melestarikan,” ungkap Nannie di sela-sela acara.
Nannie memuji langkah konkret Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, BKOW, Dekranasda, serta jajaran pimpinan daerah yang telah memberikan dukungan luar biasa dalam memadupadankan kebaya dengan kain songket, yang dinilainya membuat tampilan busana tradisional tersebut menjadi jauh lebih cantik. Menurutnya, inisiatif ini sangat visioner dan menjadi inspirasi bagi seluruh daerah di Indonesia untuk mengangkat warisan budaya khas masing-masing, baik batik maupun tenun.
Menjawab Tantangan 100 Tahun Perjuangan Perempuan
Sebagai rumah besar bagi organisasi perempuan di Indonesia, Kowani menegaskan bahwa gerakan berkebaya ini memiliki akar filosofis yang kuat dengan perjuangan gender. Nannie mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali semangat Kongres Perempuan pertama tahun 1928 menjelang usia 100 tahun Kowani. Ia mengingatkan kembali memorandum para perintis mengenai pentingnya kesetaraan gender, pencegahan pernikahan dini, pendidikan yang setara, hingga kesamaan hak dan jabatan.
Nannie menganalisis bahwa meski di tingkat menengah ke atas keterwakilan perempuan sudah menunjukkan keberhasilan nyata ditandai dengan lahirnya sejarah Presiden perempuan di Indonesia, Ketua DPR RI, hingga jaksa, namun perjuangan di tingkat menengah ke bawah masih harus terus diteriakkan.
“Di usia menuju 100 tahun ini, kita harus pastikan tidak ada lagi KDRT, perdagangan manusia, anak terlantar, hingga keterlibatan perempuan sebagai kurir narkoba akibat desakan ekonomi,” tegas Nannie.
Bersamaan dengan Hari Internasional Anti Narkotika, ia menyerukan pentingnya penguatan ketahanan keluarga dengan menyosialisasikan program “1.000 Profesi, 1.000 Organisasi, dan 1.000 Komunitas” guna memberikan solusi nyata bagi perempuan Indonesia, termasuk melalui profesi wartawan hingga dosen.
Pendekatan Pentahelix dan Dampak Nyata terhadap UMKM
Untuk memastikan keberlanjutan tradisi ini, DPP PIM terus mendorong penerapan kolaborasi pendekatan pentahelix yang melibatkan sinergi erat antara pemerintah, komunitas, akademisi, media, pelaku usaha, hingga masyarakat luas. PIM juga mengimbau pemerintah daerah dan pegiat budaya di seluruh Indonesia untuk aktif mendokumentasikan serta mendaftarkan variasi kebaya khas daerah sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional.
Lebih dari sekadar perayaan budaya, DPP PIM melihat gerakan berkebaya dan bersongket sebagai motor penggerak ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif. Melalui pembudayaan busana tradisional, berbagai sektor industri kreatif yang mayoritas digerakkan oleh perempuan kini mengalami pertumbuhan yang signifikan.
“Ketika masyarakat mengenakan kebaya, terdapat multiplier effect ekonomi yang sangat luas. Mulai dari pengrajin batik, tenun, songket, penjahit, desainer muda, pengrajin aksesori, hingga industri makeup artist (MUA) ikut bergerak. Gerakan berkebaya ini secara nyata memperkuat ekonomi keluarga melalui pemberdayaan perempuan,” tambah Lana T. Koentjoro.
Dampak nyata terhadap ekonomi hilir ini diamini secara konkret oleh Nannie Hadi Tjahjanto. Ia menekankan bahwa esensi dari Hari Kebaya Nasional bukan sekadar berjalan mengenakan pakaian adat, melainkan sebuah gerakan ekonomi yang masif.
“Dari kebaya ini kita telah mengangkat seluruh UMKM Indonesia. Mulai dari selop, kain ganding, hingga jasa MUA. Saya sendiri bersanggul dan berdandan subuh-subuh menggunakan berbagai aksesori. Jadi, sudah berapa banyak UMKM yang dilibatkan dalam satu tubuh saya saja? Hal inilah yang kami perjuangkan dan dukung luar biasa agar Hari Kebaya ini membawa dampak nyata bagi Indonesia,” tutur Nannie.
Merespons tren positif antusiasme publik di ruang-ruang terbuka, kampus, dan sekolah, DPP PIM berkomitmen untuk terus mendekatkan kebaya kepada generasi muda. PIM mendukung penuh inovasi para desainer muda yang menghadirkan adaptasi warna, motif, dan bahan modern agar kebaya tidak lagi diidentikkan dengan busana yang rumit.
DPP PIM menggarisbawahi bahwa strategi pengenalan melalui program terstruktur seperti Kebaya Go to School dan Kebaya Go to Campus harus terus digalakkan dengan tetap menjaga pakem dasar busana (seperti model Kutu Baru). Hal ini sejalan dengan aksi nyata yang dilakukan di berbagai daerah, seperti di Sumatera Selatan, di mana kebaya dipadukan secara fleksibel dengan kain songket modern serta gaya hidup kasual anak muda masa kini.
Melalui konsolidasi nasional ini, DPP Perempuan Indonesia Maju bersama seluruh elemen organisasi kewanitaan berharap semangat Hari Kebaya Nasional dapat terus diwariskan secara berkelanjutan, sekaligus memastikan budaya lokal tetap hidup, relevan, dan menjadi pilar kekuatan ekonomi kreatif bangsa di tengah perubahan zaman.
Tentang Perempuan Indonesia Maju (PIM)
Perempuan Indonesia Maju (PIM) adalah organisasi kemasyarakatan tingkat nasional yang berdedikasi untuk mengoptimalkan potensi perempuan Indonesia di berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan, sosial, ekonomi kreatif, dan pelestarian kebudayaan Nusantara demi mewujudkan ketahanan nasional yang inklusif.




































