Jakarta, (16/9) Suararealitas.co – PT Graha Usaha Teknik (PT GUT) secara resmi mengumumkan pelaksanaan pembangunan pembangkit energi bersih di tiga lokasi berbeda secara simultan untuk mendukung percepatan transisi energi nasional. Proyek strategis berbasis panas bumi (geothermal) ini mencakup wilayah Salak 7, Patuha 2, dan Dieng 2.
Proyek ini ditargetkan menyuplai energi bersih dengan kapasitas masif, di mana pengembangan wilayah Dieng 2 dan Patuha 2 masing-masing diproyeksikan menambah kapasitas sebesar 55 Megawatt (MW) guna memperkuat keandalan sistem kelistrikan ramah lingkungan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai perusahaan yang 100% lokal, PT GUT membuktikan bahwa kedaulatan teknologi tidak harus bergantung pada ekspatriat. Alih-alih mendatangkan tenaga kerja asing, PT GUT justru secara konsisten mendidik dan menempa para engineer muda Indonesia agar menguasai keahlian teknis tingkat tinggi di bidang kelistrikan, instrumentasi, mekanikal, dan sipil.
Strategi penguatan talenta domestik ini terbukti berhasil melahirkan SDM lokal yang tidak hanya andal di dalam negeri, tetapi juga memiliki daya saing tinggi untuk bertarung di panggung global.
Rekam jejak internasional PT GUT menjadi bukti nyata keberhasilan para engineer lokal ini. Berbekal keahlian anak bangsa, PT GUT telah sukses mengeksekusi berbagai proyek global lintas negara, mulai dari proyek substation kelistrikan di Singapura dan Filipina, proyek energi di Vietnam dan Thailand, pembangunan instalasi kelistrikan berskala besar di Selandia Baru dan Kenya, Afrika, hingga keterlibatan dalam proyek global terintegrasi di Korea, Spanyol, dan Norwegia.
Langkah progresif ini berjalan selaras dengan kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Sekretariat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE). Regulasi pemerintah terus dipacu untuk menyederhanakan izin, memberikan kepastian investasi, serta mempercepat bauran energi nasional.
Ketentuan regulasi terbaru ini menjadi payung hukum vital sekaligus stimulus bagi sektor swasta untuk berkontribusi aktif dalam memitigasi dampak perubahan iklim global.
Menjawab tantangan dan dinamika regulasi EBT tersebut, Direktur Utama sekaligus Direktur Operasional PT GUT, Kuswanto Rahayu (Dade), menyatakan kesiapan penuh dari sisi operasional dan teknis.
“Regulasi dari Kementerian ESDM memberikan arah strategis yang semakin jelas bagi industri. PT GUT memandang tantangan regulasi ini sebagai peluang besar untuk membuktikan bahwa kapabilitas engineer lokal mampu mengeksekusi proyek kompleks dengan standar kualitas internasional tertinggi. Pembangunan simultan di tiga proyek geothermal besar ini mempertegas keunggulan kompetitif perusahaan dalam menjawab target transisi energi bersih,” ujarnya.
Di sisi lain, Direktur Marketing PT GUT, Agung Sutiastoro, menyoroti pertumbuhan tren pasar yang masif terhadap kebutuhan pasokan energi ramah lingkungan.
“Permintaan pasar untuk energi hijau dari sektor industri maupun komersial kini berkembang sangat pesat. PT GUT hadir dengan portofolio solusi ketenagalistrikan terintegrasi guna menjawab ekspektasi pasar tersebut. Sebagai perusahaan nasional dengan jangkauan global, kami berkomitmen menjadi mitra strategis tepercaya yang mampu memberikan nilai tambah serta efisiensi optimal pada setiap implementasi proyek energi baru terbarukan,” ujarnya.
Untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi di sektor ketenagalistrikan, PT GUT mengundang seluruh relasi, kolega bisnis, dan mitra industri untuk mengunjungi stan perusahaan pada ajang pameran Enlit Asia / Electricity Connect 2026.
Pameran berskala internasional ini akan diselenggarakan pada 22–24 September 2026 di ICE BSD City, Indonesia. Momentum ini menjadi kesempatan berharga untuk berdiskusi langsung mengenai peluang kerja sama proyek baru, sekaligus membagikan pembaruan serta perkembangan teknologi terkini dalam dunia power dan energy.



































