Halal Bihalal Praktisi Hukum: Prof. Dr. Firman Wijaya Soroti Tantangan Penegakan Hukum di Era Dinamis

- Jurnalis

Senin, 6 April 2026 - 19:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Suararealitas.co – Perkumpulan Praktisi Hukum dan Ahli Hukum Indonesia menggelar acara Halal Bihalal yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional bertema “Masa Depan Penegakan Hukum Indonesia: Antara Kepastian, Keadilan, dan Kemanusiaan”. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus forum diskusi strategis bagi akademisi, praktisi, dan penegak hukum dalam merespons dinamika hukum yang terus berkembang.

Forum ini menghadirkan berbagai pandangan kritis terkait kondisi penegakan hukum di Indonesia, mulai dari tantangan implementasi regulasi baru hingga urgensi reformasi sistem peradilan yang lebih adaptif dan berkeadilan. Salah satu narasumber yang hadir dalam forum tersebut adalah Prof. Dr. Firman Wijaya, S.H., M.H., seorang akademisi hukum.

Sejumlah narasumber menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepastian hukum, keadilan, dan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam setiap proses penegakan hukum. Namun dalam praktiknya, ketiga prinsip tersebut kerap berada dalam ketegangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, persoalan klasik seperti lambannya proses peradilan (justice delay), tingginya beban perkara, serta lemahnya koordinasi antar lembaga penegak hukum turut menjadi sorotan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap sistem hukum.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Firman Wijaya, S.H., M.H. menyoroti perubahan peran hukum di tengah kompleksitas zaman. Ia menilai hukum tidak lagi dapat berdiri sebagai satu-satunya “pemandu” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga :  BRI BO BSD Gelar Senam Bersama Bea Cukai Banten untuk Perkuat Sinergi dan Kebugaran

“Hukum dulu dipandang sebagai penuntun utama. Tapi hari ini, ada banyak kekuatan lain yang juga mengklaim sebagai pemandu, seperti ekonomi, politik, bahkan jurnalisme,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hukum kini berada dalam ruang yang dinamis dan tidak lagi bersifat linear. Ia mengibaratkan hukum sebagai arus yang terus bergerak, mengikuti perubahan sosial yang semakin kompleks.

Pemikiran tersebut sejalan dengan pandangan Ronald Dworkin yang menempatkan hukum sebagai bagian dari bangunan peradaban. Sementara itu, konsep tiga nilai dasar hukum yang diperkenalkan oleh Gustav Radbruch yakni keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum dinilai masih relevan, meski dalam praktiknya seringkali sulit dipertemukan.

“Keadilan dan kepastian hukum sering diibaratkan seperti saudara kembar yang tidak selalu bisa berjalan seiring,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa hukum tidak cukup dipahami sebagai kumpulan norma, tetapi sebagai sistem yang hidup dan berinteraksi dengan realitas sosial. Karena itu, pembentukan undang-undang harus didukung oleh naskah akademik yang kuat sebagai jembatan antara teori dan praktik.

Lebih lanjut, ia menyoroti mulai kaburnya batas antara hukum pidana, perdata, dan administrasi negara. Fenomena seperti restorative justice hingga mekanisme alternatif penyelesaian sengketa menunjukkan bahwa pendekatan hukum semakin fleksibel dan kontekstual.

Baca Juga :  BRI Jakarta Daan Mogot Hadirkan Layanan Perbankan di PT United Tractors

Sebagai penutup, ia kembali mengingatkan bahaya justice delay yang dapat merusak rasa keadilan masyarakat. Menurutnya, proses hukum yang berlarut-larut justru mendorong masyarakat mencari alternatif penyelesaian di luar pengadilan.

Fenomena ini dikenal sebagai road justice, di mana masyarakat mulai beralih ke mekanisme seperti mediasi, konsiliasi, arbitrase, hingga model baru seperti dispute board.

“Pencari keadilan sekarang tidak hanya datang ke pengadilan. Mereka mencari ruang lain yang lebih cepat dan efisien,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa sistem peradilan formal menghadapi tantangan serius, baik dari sisi kecepatan, efektivitas, maupun beban perkara.

Di sisi lain, reformasi hukum seperti pembaruan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dinilai sebagai langkah penting, meski implementasinya masih membutuhkan kesiapan aparatur serta harmonisasi antar lembaga.

Firman menegaskan, tanpa koordinasi yang kuat, hukum berisiko kehilangan maknanya dalam praktik.

“Kalau tidak ada harmonisasi dan kerja sama antar penegak hukum, maka hukum bisa menjadi lemah dalam implementasi,” tegasnya.

Ia pun berharap para akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dapat berperan sebagai golden bridge atau jembatan emas yang menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan sistem hukum yang lebih responsif dan berkeadilan.

 

Berita Terkait

KOWANI Satukan Kolaborasi Perempuan Indonesia Dukung Tempe Menuju UNESCO dan Ketahanan Pangan Nasional
KOWANI Dorong Penegakan Hukum yang Berkeadilan dan Perlindungan bagi Perempuan Pengusaha
KOM-JU Matangkan Agenda Mubes Lewat Pra-Mubes Bertema Pancasila, Progresif, Revolusioner
Gubernur DKI Buka Konferensi WAPOR Asia Pasifik 2026
Bulutangkis Kapolri Cup 2026 Resmi Dibuka, Diikuti 1.219 Peserta dari Kategori Umum, Polri, dan Difabel
Perumdam (TKR) Berikan Pemasangan Sambungan Langganan Gartis Sebagai Bentuk Kepedulian Warga
Debarkasi KM Ciremai dari Surabaya Berjalan Aman dan Lancar, Polres Pelabuhan Tanjung Priok Pastikan Pengamanan Optimal
Situasi Kamtibmas di Kawasan JICT Tanjung Priok Kondusif, Aktivitas Bongkar Muat Kapal Berjalan Aman dan Lancar

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:11 WIB

KOWANI Satukan Kolaborasi Perempuan Indonesia Dukung Tempe Menuju UNESCO dan Ketahanan Pangan Nasional

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:47 WIB

KOWANI Dorong Penegakan Hukum yang Berkeadilan dan Perlindungan bagi Perempuan Pengusaha

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:41 WIB

KOM-JU Matangkan Agenda Mubes Lewat Pra-Mubes Bertema Pancasila, Progresif, Revolusioner

Senin, 27 Juli 2026 - 21:14 WIB

Gubernur DKI Buka Konferensi WAPOR Asia Pasifik 2026

Senin, 27 Juli 2026 - 17:15 WIB

Perumdam (TKR) Berikan Pemasangan Sambungan Langganan Gartis Sebagai Bentuk Kepedulian Warga

Berita Terbaru

Nasional

Gubernur DKI Buka Konferensi WAPOR Asia Pasifik 2026

Senin, 27 Jul 2026 - 21:14 WIB