Hari Paru Sedunia 2026, PDPI Serukan Pentingnya Menjaga Paru Sepanjang Kehidupan

- Jurnalis

Jumat, 25 September 2026 - 16:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Suararealitas.co – Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengajak masyarakat untuk menjaga kesehatan paru sejak dalam kandungan hingga usia lanjut dalam rangka memperingati Hari Paru Sedunia atau World Lung Day 2026 yang jatuh pada Jumat (25/9/2026).

Ajakan tersebut disampaikan dalam konferensi pers daring yang digelar PDPI pada Jumat (25/9/2026), dengan mengusung tema “A Lifetime of Lung Health” atau “Kesehatan Paru Sepanjang Kehidupan”.

Dalam konferensi pers tersebut, PDPI menyoroti pentingnya menjaga kesehatan paru secara berkelanjutan, mulai dari masa kehamilan, anak-anak, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia. Upaya ini dinilai penting mengingat tingginya beban penyakit pernapasan, paparan polusi udara, serta penggunaan produk tembakau yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut dr. Jatu Aphridasari, Sp.P (K), tema Hari Paru Sedunia 2026 menegaskan bahwa kesehatan paru bukan hanya persoalan ketika seseorang mengalami batuk atau sesak napas.

“Kesehatan paru dibangun sejak awal kehidupan. Dipengaruhi lingkungan masa kanak-kanak dan remaja, harus dijaga sepanjang usia produktif, dan menjadi bagian penting dari healthy ageing,” jelas Jatu.

Hari Paru Sedunia diperingati setiap 25 September sebagai gerakan global yang diinisiasi Forum of International Respiratory Societies (FIRS) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan paru serta mendorong tindakan nyata dalam mencegah dan mengendalikan penyakit pernapasan.

Pada 2026, FIRS menempatkan empat fase sebagai fokus utama, yakni mendukung perkembangan paru yang sehat, mengoptimalkan pertumbuhan paru, mempertahankan kesehatan paru selama usia dewasa, serta menjaga kesehatan dan fungsi paru hingga usia lanjut.

Beban Penyakit Paru Masih Tinggi

PDPI menyoroti tingginya beban penyakit pernapasan, baik di tingkat global maupun nasional.

FIRS menyebutkan lebih dari 750 juta orang di dunia hidup dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Kedua penyakit tersebut secara bersama-sama menyebabkan sekitar 3,8 juta kematian setiap tahun.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 363 juta orang hidup dengan asma pada 2023, dengan sekitar 442.000 kematian. Sementara itu, PPOK menyebabkan sekitar 3,4 juta kematian pada tahun yang sama dan menjadi penyebab kematian ketiga di dunia.

Tuberkulosis (TB) juga masih menjadi ancaman kesehatan global. WHO memperkirakan sebanyak 10,7 juta orang mengalami TB pada 2024.

Sementara itu, kanker paru tetap menjadi salah satu masalah kesehatan utama dunia. WHO memperkirakan terdapat sekitar 2,5 juta kasus baru kanker paru dan 1,8 juta kematian akibat penyakit tersebut pada 2022.

Di Indonesia, beban penyakit paru juga masih tinggi. Lebih dari 6 juta orang diperkirakan hidup dengan asma dan sekitar 5 juta orang mengalami PPOK.

Indonesia juga menyumbang sekitar 10 persen kasus TB dunia, dengan lebih dari satu juta orang diperkirakan mengalami penyakit tersebut setiap tahun.

Adapun estimasi GLOBOCAN 2024 menunjukkan terdapat sekitar 58.000 kasus baru kanker paru dan lebih dari 53.000 kematian akibat penyakit tersebut di Indonesia dalam satu tahun.

Polusi Udara Mengancam Kesehatan Paru

Kesehatan paru tidak dapat dipisahkan dari kualitas udara yang dihirup setiap hari.

Baca Juga :  Puskesmas Pembantu Cipete Hilang, Aktivis Tanyakan Komitmen Pemkot Tangerang

WHO memperkirakan polusi udara berkontribusi terhadap sekitar 7 juta kematian prematur setiap tahun. Selain itu, sekitar 99 persen populasi dunia masih hidup dengan kualitas udara yang tidak memenuhi pedoman kualitas udara WHO.

Polusi udara, terutama partikel halus PM2.5, dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan dan paru-paru. Paparan partikel tersebut dapat memicu peradangan, meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia, memperburuk asma dan PPOK, serta berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular dan kanker paru.

Ancaman polusi udara semakin relevan bagi Indonesia karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berulang di sejumlah wilayah, terutama Sumatra dan Kalimantan.

Selain itu, Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Aktivitas vulkanik dapat menghasilkan abu dan partikel halus yang berpotensi masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu kesehatan, terutama pada anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit jantung dan paru sebelumnya.

Karena itu, menjaga kesehatan paru juga berarti menciptakan udara yang lebih bersih di rumah, sekolah, tempat kerja, jalan raya, dan lingkungan masyarakat.

Tembakau dan Vape Jadi Ancaman Kesehatan Paru

Selain polusi udara, penggunaan tembakau masih menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya menjaga kesehatan paru di Indonesia.

Sekitar 70 juta orang dewasa di Indonesia menggunakan tembakau. Rokok konvensional meningkatkan risiko PPOK, kanker paru, penyakit kardiovaskular, dan stroke. Dampaknya juga dirasakan oleh orang yang tidak merokok melalui paparan asap rokok orang lain.

Ancaman lain datang dari rokok elektronik atau vape. Penggunaannya pada orang dewasa Indonesia meningkat sekitar 10 kali lipat, dari 0,3 persen pada 2011 menjadi 3 persen pada 2021, atau lebih dari 6 juta pengguna.

Data yang dikutip PDPI juga menunjukkan sekitar 12 persen pelajar Indonesia berusia 13–17 tahun menggunakan rokok elektronik.

Rokok elektronik bukan produk bebas risiko. Aerosolnya dapat mengandung nikotin dan berbagai bahan kimia yang berdampak terhadap sistem pernapasan serta berpotensi menyebabkan ketergantungan nikotin, terutama pada usia muda.

Persoalan lain adalah peredaran rokok ilegal. Survei Nasional Rokok Ilegal 2024 melaporkan proporsi peredaran rokok ilegal sekitar 6,87 persen, meningkat dibandingkan 5,5 persen pada 2022.

Rokok ilegal tetap mengandung tembakau yang dibakar dan menghasilkan asap dengan berbagai zat berbahaya. Peredarannya juga menjadi tantangan tambahan dalam upaya pengendalian konsumsi tembakau nasional.

Menjaga Kesehatan Paru Harus Dimulai Sejak Dini

PDPI menekankan bahwa upaya menjaga kesehatan paru harus dilakukan sepanjang daur kehidupan, bahkan sebelum seseorang mengalami gejala penyakit.

Pada masa kehamilan dan anak-anak, perlindungan dari asap rokok dan polusi udara, pemenuhan nutrisi, imunisasi, serta pencegahan infeksi berperan penting dalam mendukung perkembangan paru yang sehat.

Pada usia sekolah dan remaja, aktivitas fisik, lingkungan bebas rokok dan vape, serta udara bersih menjadi investasi penting bagi fungsi paru di masa depan.

Sementara itu, pada usia dewasa, berhenti merokok, menghindari paparan zat berbahaya di tempat kerja, menjaga aktivitas fisik, dan mengikuti vaksinasi sesuai kebutuhan dapat membantu mempertahankan fungsi paru.

Pada usia lanjut, pengendalian penyakit kronis, aktivitas fisik, rehabilitasi paru, pemenuhan nutrisi, vaksinasi, serta akses terhadap pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam mempertahankan kualitas hidup.

Baca Juga :  Tindakan Nyata Kemanusiaan, Abdul Syukur Center (ASC) Kembali Gelar Donor Darah Ke 20

FIRS juga menekankan pentingnya udara bersih, berhenti merokok, aktivitas fisik, vaksinasi, nutrisi sehat, serta tindakan nyata menghadapi perubahan iklim sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan paru.

Jangan Menunggu Sesak untuk Memeriksakan Paru

PDPI mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala yang berpotensi menandakan gangguan paru.

Batuk berkepanjangan, sesak napas, mengi, produksi dahak berlebihan, batuk darah, nyeri dada, infeksi saluran pernapasan berulang, serta penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan medis.

Pemeriksaan kesehatan paru dapat meliputi evaluasi klinis, tes fungsi paru seperti spirometri, pemeriksaan radiologi, serta pemeriksaan infeksi, termasuk tuberkulosis, sesuai kondisi pasien.

Deteksi dini memungkinkan penanganan dilakukan lebih cepat, membantu mencegah kerusakan paru lebih lanjut, mengurangi risiko perburukan penyakit dan rawat inap, serta mempertahankan kualitas hidup pasien.

Akses Pemeriksaan dan Pengobatan Perlu Diperluas

Selain pencegahan dan deteksi dini, pemerataan akses terhadap pemeriksaan dan pengobatan penyakit paru juga menjadi perhatian dalam peringatan Hari Paru Sedunia 2026.

FIRS menyoroti kesenjangan akses terhadap pemeriksaan penunjang dan obat-obatan, termasuk terapi inhalasi untuk asma dan PPOK serta pengobatan kanker paru.

Ketersediaan inhaler dilaporkan jauh lebih rendah di negara berpendapatan rendah dibandingkan negara berpendapatan tinggi. Padahal, pengobatan inhalasi yang tepat dapat membantu mengendalikan gejala, mengurangi kekambuhan, menekan kebutuhan rawat inap, dan mempertahankan aktivitas pasien.

Karena itu, pelayanan kesehatan paru perlu diperkuat secara terintegrasi, mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan primer hingga rumah sakit rujukan.

Penguatan tersebut mencakup diagnosis asma dan PPOK, pemeriksaan fungsi paru, pengendalian tuberkulosis, layanan berhenti merokok, penanganan penyakit paru pasca-TB, penanganan penyakit jamur paru, deteksi kanker paru, serta rehabilitasi paru.

PDPI Ajak Masyarakat Jadikan Kesehatan Paru Prioritas

Dalam momentum Hari Paru Sedunia 2026, PDPI mengajak masyarakat, tenaga kesehatan, pemerintah, institusi pendidikan, dunia usaha, media, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjadikan kesehatan paru sebagai prioritas.

PDPI menegaskan bahwa kesehatan paru tidak hanya menjadi urusan dokter paru dan tidak dimulai ketika seseorang sudah sakit.

“Kesehatan paru tidak hanya urusan dokter paru. Kesehatan paru dimulai dari udara yang dihirup ibu hamil, lingkungan tempat anak tumbuh, pilihan untuk tidak mulai merokok pada masa remaja, hingga akses diagnosis berkualitas pada usia lanjut,” ujar Jatu.

Menurut PDPI, kesehatan paru perlu dijaga sejak seseorang berada dalam kandungan, selama masa pertumbuhan, sepanjang usia produktif, hingga usia lanjut.

Paru yang sehat hari ini menentukan kualitas kehidupan di masa depan. Udara bersih dan lingkungan bebas asap tembakau bukan kemewahan, melainkan bagian dari hak dasar setiap orang untuk dapat bernapas dengan sehat dan menjalani kehidupan yang berkualitas.

Melalui tema “A Lifetime of Lung Health” atau “Kesehatan Paru Sepanjang Kehidupan”, PDPI mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan lingkungan yang lebih sehat demi menjaga fungsi paru dan kualitas hidup generasi mendatang.

Berita Terkait

Sambut Hari Olahraga Nasional, Prudential Indonesia Serukan Gaya Hidup Aktif sebagai Investasi Kesehatan
PDPI Ingatkan Bahaya Kabut Asap Karhutla: PM2,5 Bisa Tembus Paru-paru
Diduga Abaikan Kebersihan, Pabrik Tahu di Jamblang Cirebon Didesak Segera Diperiksa
Capaian UCJ NTB Baru 29,34 Persen, Kemendagri Dorong Perlindungan Pekerja Rentan dan Informal
Health Talk di Rusunawa Pesakih Dorong Warga Terapkan Pola Hidup Sehat
Kader Posyandu Mawar Purasari ikuti Lomba Cipta Menu PMT Berbahan Lokal
Antusiasme Warga Kalibata City Meroket, Jalan Sehat HUT RI Diikuti 1.500 Peserta
Lansia Menunggu Berjam-jam, Pelayanan Dokter Spesialis Saraf RSUD Kalideres Tuai Keluhan

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 16:17 WIB

Hari Paru Sedunia 2026, PDPI Serukan Pentingnya Menjaga Paru Sepanjang Kehidupan

Senin, 21 September 2026 - 11:47 WIB

Sambut Hari Olahraga Nasional, Prudential Indonesia Serukan Gaya Hidup Aktif sebagai Investasi Kesehatan

Sabtu, 5 September 2026 - 15:33 WIB

PDPI Ingatkan Bahaya Kabut Asap Karhutla: PM2,5 Bisa Tembus Paru-paru

Sabtu, 5 September 2026 - 13:35 WIB

Diduga Abaikan Kebersihan, Pabrik Tahu di Jamblang Cirebon Didesak Segera Diperiksa

Rabu, 2 September 2026 - 17:11 WIB

Capaian UCJ NTB Baru 29,34 Persen, Kemendagri Dorong Perlindungan Pekerja Rentan dan Informal

Berita Terbaru