Jakarta, Suararealitas.co — Puluhan ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim Indonesia menyerukan penguatan persatuan dunia Islam sekaligus mendorong pembentukan aliansi global kemanusiaan sebagai respons atas eskalasi konflik global, khususnya di Timur Tengah.
Seruan tersebut tertuang dalam pernyataan bersama bertajuk “Urgensi Persatuan Dunia Islam untuk Penciptaan Tata Dunia Baru yang Damai, Adil, Sejahtera, dan Beradab” yang ditandatangani lebih dari 50 tokoh lintas organisasi keislaman, akademisi, dan pemimpin masyarakat, pada Senin (13/4/2026).
Para tokoh menyoroti serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dinilai telah menimbulkan tragedi kemanusiaan baru, di tengah konflik di Gaza, Palestina, yang belum juga berakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka menilai eskalasi konflik tersebut berpotensi meluas dan membawa dampak global.
“Perang ini berpotensi menyulut konflik global, bahkan perang dunia ketiga. Jika tidak segera dihentikan, dampaknya akan sangat luas bagi peradaban manusia,” demikian disampaikan dalam pernyataan tersebut.
Dalam pandangan para tokoh, konflik ini juga menyimpan potensi eskalasi yang lebih luas, terutama jika negara-negara di kawasan Teluk ikut terseret.
Kekhawatiran muncul karena adanya pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara seperti Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, yang dapat menjadi basis operasi militer dalam konflik kawasan.
“Yang kita khawatirkan, negara-negara Islam di kawasan Teluk ikut terseret karena adanya pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka,” ujarnya.
Secara strategis, langkah Iran yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dinilai sebagai bagian dari upaya pertahanan.
“Secara taktis, Iran tentu akan berupaya melumpuhkan pangkalan militer Amerika. Jika tidak, mereka akan diserang dari berbagai penjuru,” lanjutnya.
Namun demikian, eskalasi konflik juga berpotensi memicu krisis ekonomi global, terutama jika jalur distribusi energi terganggu.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, disebut sebagai titik krusial.
“Jika Selat Hormuz ditutup, bukan hanya minyak, tetapi juga gas dan pupuk akan terdampak. Ini bisa memicu krisis global,” katanya.
Berdasarkan nilai Islam sebagai agama perdamaian (din al-salam) dan keadilan (din al-‘adl), para penandatangan mendorong dilakukannya ishlah syamilah atau perbaikan menyeluruh.
Langkah tersebut mencakup penghentian perang secara total dan permanen, penyelesaian konflik secara berkeadilan, serta penataan ulang sistem global berbasis kemanusiaan.
Mereka juga mendesak lembaga internasional seperti PBB, Dewan Keamanan PBB, Mahkamah Internasional (ICJ), dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang dinilai menjadi penyebab konflik.
Para pemimpin negara-negara Islam didorong untuk mengedepankan persatuan dan solidaritas dalam menghadapi tantangan global, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan menjaga Masjid Al-Aqsa.
Para tokoh juga menegaskan pentingnya mengakhiri perpecahan internal umat Islam.
“Tidak ada perbedaan antara Sunni dan Syiah, juga antara Arab dan Persia. Kita adalah satu umat,” tegasnya.
Mereka mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam politik pecah belah (divide et impera) yang dapat melemahkan solidaritas global.
Selain seruan persatuan, para tokoh juga menggagas pembentukan aliansi global untuk kemanusiaan yang adil dan beradab.
“Dari Indonesia kita serukan kepada dunia untuk adanya aliansi global kemanusiaan yang adil dan beradab, Global Alliance for Just and Civilized Humanity,” ujarnya.
Konsep ini disebut terinspirasi dari nilai kemanusiaan dalam sila kedua Pancasila, dan ditujukan tidak hanya bagi dunia Islam, tetapi seluruh bangsa yang menjunjung perdamaian dan keadilan.
Para tokoh menilai dunia Islam perlu tampil sebagai motor penggerak dalam membangun kolaborasi global tersebut.
“Dunia Islam harus berada di depan sebagai leading sector, mengajak bangsa-bangsa yang cinta perdamaian dan keadilan,” lanjutnya.
Para tokoh menegaskan bahwa seruan ini bukan sekadar pernyataan moral, melainkan awal dari sebuah gerakan global.
“Ini bukan hanya seruan, tetapi deklarasi dimulainya gerakan aliansi global untuk kemanusiaan yang adil dan beradab,” tegasnya.
Gerakan ini direncanakan akan dikembangkan dengan melibatkan berbagai elemen dari dunia Islam maupun komunitas internasional yang memiliki visi serupa.
Mereka juga optimistis Indonesia dapat mengambil peran strategis dalam mendorong inisiatif tersebut, sejalan dengan nilai Pancasila dan amanat Pembukaan UUD 1945 tentang perdamaian dunia.
“Ini adalah gerakan dari Indonesia untuk dunia, untuk mewujudkan perdamaian abadi dan menghapus peperangan dari muka bumi,” pungkasnya.
Sejumlah tokoh nasional yang menandatangani seruan ini antara lain Jusuf Kalla, Din Syamsuddin, KH Said Aqil Siroj, Jimly Asshiddiqie, Mahfud MD, Hamdan Zoelva, Lukman Hakim Saifuddin, Komaruddin Hidayat, Cholil Nafis, Anwar Abbas, Zaitun Rasmin, Bakhtiar Nasir, Haidar Bagir, Nurhayati Assegaf, serta pimpinan organisasi perempuan Islam dan rektor perguruan tinggi.
Para penandatangan berharap seruan ini menjadi momentum penting bagi dunia Islam untuk tampil sebagai kekuatan moral dalam menciptakan perdamaian global yang berkelanjutan.




































