JAKARTA, suararealitas.co – Kemampuan menulis dan membaca menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan di era digital.
Karena itu, pengenalan jurnalistik sejak bangku sekolah dinilai perlu terus dikembangkan guna melahirkan generasi yang kritis, memiliki kemampuan literasi, serta mampu menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Seksi Pendidik dan Tendik Sudin Pendidikan Jakarta Barat 1, Tolib dalam membuka kegiatan Workshop Jurnalistik bagi pelajar SMAN 33 Jakarta di Aula Sekolah, Senin (2/11/2026).
Ia berharap kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengasah kemampuan menulis sekaligus memahami prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
Ia juga menekankan bahwa kemampuan menulis tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan membaca. Menurutnya, membaca merupakan jendela dunia sekaligus salah satu fondasi utama untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas.
“Kalau ingin menjadi penulis yang baik, harus punya bahan dasar. Bahan itu didapatkan dari membaca. Membaca adalah jendela dunia,” ujarnya.
Tolib menjelaskan, kemampuan merangkai kalimat dan menyusun tulisan membutuhkan latihan serta kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Seseorang tidak bisa langsung mahir menulis tanpa melalui proses belajar dan berlatih.
Karena itu, para siswa didorong untuk tidak takut melakukan kesalahan ketika mulai menulis. Kesalahan merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas tulisan.
Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan literasi bagi generasi muda Indonesia.
Menurutnya, masyarakat Indonesia dikenal memiliki kemampuan berbicara yang baik, tetapi kemampuan menuangkan gagasan secara tertulis masih perlu terus diasah.
Padahal, keterampilan menulis menjadi salah satu modal penting, termasuk bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri maupun menekuni berbagai profesi.

Ia turut mencontohkan sejumlah tokoh yang memiliki latar belakang jurnalistik dan kemudian berkiprah di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keterampilan jurnalistik dapat menjadi bekal untuk mengembangkan karier di masa depan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan para siswa agar tidak hanya berorientasi pada kemampuan menulis, tetapi juga memahami kode etik jurnalistik sebagai landasan utama dalam menghasilkan karya.
Menurutnya, setiap informasi yang disampaikan melalui tulisan harus memiliki sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Para calon jurnalis juga diminta tidak mengedepankan asumsi dalam menyusun berita.
“Jangan mengandalkan asumsi. Pastikan sumber-sumber yang digunakan benar dan dapat dijadikan referensi tulisan. Kode etik jurnalistik harus menjadi dasar dalam menulis,” tegasnya.
Ia berharap kegiatan pembekalan jurnalistik di SMA 33 Jakarta tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari, melainkan menjadi awal bagi para siswa untuk terus mengembangkan kemampuan literasi dan jurnalistik.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan lahir penulis-penulis muda dan jurnalis profesional dari kalangan pelajar yang mampu menghasilkan karya berkualitas, berimbang, serta bertanggung jawab.
Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala SMA 33 Jakarta, Sariati, beserta jajaran dewan guru dan pembina yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut.
Ia berpesan agar para siswa terus mengasah kemampuan menulis, memperluas wawasan melalui membaca, serta menjadikan etika sebagai pedoman dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.












