Jakarta, Suararealitas.co – PT Leyand International Tbk (LAPD) menyiapkan transformasi bisnis menuju sektor jasa kontraktor pertambangan batubara di tengah tekanan kinerja keuangan pada semester I-2026. Langkah tersebut dilakukan seiring penurunan penjualan perseroan sebesar 98,6 persen menjadi Rp1,91 miliar per 30 Juni 2026 serta meningkatnya kerugian bersih hingga Rp23,95 miliar.
Rencana perubahan arah usaha itu disampaikan Direktur Utama LAPD, Jamal Abdul Nasir Bamadhaj, dalam Public Expose 2026 yang berlangsung di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Dalam paparan tersebut, manajemen menjelaskan kondisi keuangan perseroan sekaligus sejumlah langkah strategis yang disiapkan untuk mendukung pemulihan usaha dan menjaga keberlangsungan perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, penjualan bersih LAPD turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang mencapai Rp138,51 miliar. Penurunan pendapatan tersebut turut menekan profitabilitas perseroan, dengan rugi bersih meningkat dari Rp3,59 miliar per Juni 2025 menjadi Rp23,95 miliar pada akhir Juni 2026.
Tekanan keuangan juga tercermin dari penyusutan total aset sebesar 53,4 persen, dari Rp213,56 miliar menjadi Rp99,47 miliar. Perseroan mencatat rugi bruto Rp1,05 miliar dengan margin bruto negatif 54,90 persen, seiring beban pokok penjualan yang melampaui pendapatan.
Dari sisi likuiditas, rasio lancar LAPD berada pada level 0,15 kali, sementara saldo kas menyusut sekitar 93 persen menjadi Rp474,8 juta. Pada saat yang sama, rasio solvabilitas tercatat sebesar 102,66 persen, dengan ekuitas negatif Rp2,65 miliar dan akumulasi kerugian mencapai Rp463,91 miliar. Perseroan juga mencatat defisiensi modal sebesar Rp34,06 miliar.
Kondisi tersebut mendorong manajemen untuk menata kembali portofolio bisnis dan struktur permodalan perusahaan. Salah satu strategi yang disiapkan adalah mengalihkan fokus dari distribusi produk barang konsumsi cepat saji atau fast-moving consumer goods (FMCG) ke sektor jasa kontraktor pertambangan batubara.
Divestasi RER dan Akuisisi Perusahaan Tambang
Dalam rangka perubahan strategi tersebut, LAPD berencana melepas kepemilikannya di PT Rusindo Eka Raya (RER), perusahaan yang bergerak di bidang distribusi FMCG. Menurut manajemen, bisnis tersebut dinilai tidak lagi sejalan dengan arah pengembangan usaha perseroan ke depan.
“Perseroan berencana mendivestasi PT Rusindo Eka Raya (RER) karena bisnis distribusi FMCG dianggap tidak lagi sejalan dengan fokus baru di sektor jasa pertambangan,” ujar Jamal.
Sebagai bagian dari langkah transformasi, LAPD merencanakan akuisisi 87,50 persen saham PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS) dari JSI Sinergi Mas dengan nilai transaksi Rp38,85 miliar.
BSS merupakan perusahaan penyedia jasa kontraktor pertambangan batubara yang beroperasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Melalui rencana pengambilalihan tersebut, LAPD menargetkan pengembangan kegiatan usaha di sektor pertambangan sebagai bagian dari penataan kembali bisnis perseroan.
Rights Issue Ditargetkan Himpun Dana Rp60 Miliar
Untuk mendukung rencana akuisisi dan memperkuat kebutuhan pendanaan, LAPD menyiapkan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) atau rights issue.
Perseroan berencana menerbitkan maksimal 2 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp25 per saham. Dengan indikasi harga pelaksanaan Rp30 per saham, aksi korporasi tersebut berpotensi menghimpun dana hingga Rp60 miliar.
Transaksi pengambilalihan BSS direncanakan menggunakan mekanisme inbreng atau penyertaan saham BSS sebagai bagian dari transaksi. Sementara itu, penambahan modal juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan pelaksanaan restrukturisasi perseroan.
Manajemen menargetkan proses restrukturisasi dilakukan secara bertahap hingga 2027. Pelaksanaan rencana tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kondisi keuangan, menata struktur permodalan, serta mendukung pengembangan bisnis LAPD di sektor jasa pertambangan.
Di tengah tekanan kinerja keuangan, realisasi divestasi RER, akuisisi BSS, dan pelaksanaan rights issue akan menjadi tahapan penting dalam transformasi bisnis perseroan. Keberhasilan langkah tersebut akan bergantung pada pelaksanaan rencana korporasi serta kemampuan manajemen memperkuat fondasi keuangan dan mengembangkan kegiatan usaha baru.












