Jakarta, Suararealitas.co – PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) terus memperkuat posisinya sebagai salah satu penyedia solusi material handling dan penyewaan forklift terkemuka di Indonesia. Dalam paparan publik perusahaan, Direktur SMIL Winston Suherman menjelaskan bahwa Perseroan saat ini didukung lebih dari 1.800 karyawan, mengoperasikan sekitar 5.000 kendaraan operasional, serta memiliki lebih dari 5.800 unit alat material handling yang melayani berbagai sektor industri di Indonesia.
Winston mengatakan Perseroan memiliki visi menjadi penyedia solusi rental material handling terdepan di Indonesia. Untuk mewujudkan visi tersebut, perusahaan berkomitmen menghadirkan layanan berkualitas tinggi dengan respons cepat dan profesional, harga yang kompetitif, serta terus berinovasi guna memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan.
Menurut Winston, kinerja keuangan Perseroan sepanjang 2025 hingga kuartal I-2026 menunjukkan tren yang positif. Pendapatan pada kuartal I-2026 mencapai Rp128,8 miliar dan berpotensi mendorong pendapatan sepanjang tahun mendekati Rp500 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Net profit margin kami berhasil pulih ke level sekitar 23 persen pada kuartal I-2026 setelah sempat berada di kisaran 16 persen pada tahun sebelumnya. Penurunan laba sebelumnya lebih disebabkan oleh strategi ekspansi armada yang agresif, bukan karena penurunan operasional perusahaan,” ujar Winston.
Ia menambahkan, gross profit margin Perseroan tetap terjaga pada kisaran 37–41 persen sepanjang periode 2023 hingga kuartal I-2026. Sementara operating profit margin meningkat menjadi 30 persen pada kuartal I-2026 dibandingkan 26,8 persen pada tahun buku 2025.
Dari sisi likuiditas, Winston menyebut current ratio Perseroan mencapai 3,51 kali dan cash ratio sebesar 0,66 kali per akhir Maret 2026. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan posisi kas yang kuat dan memadai untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Selain itu, debt-to-equity ratio (DER) tercatat sebesar 0,54 kali. Kenaikan leverage pada 2024, kata Winston, merupakan dampak penerbitan obligasi senilai Rp350 miliar yang digunakan untuk mendukung ekspansi armada dan pengembangan usaha.
“Secara keseluruhan, fundamental keuangan Perseroan sangat sehat. Tidak ada indikasi financial stress dalam neraca perusahaan dan kami tetap menjaga struktur modal yang konservatif serta berkelanjutan,” kata Winston.
Sementara itu, terkait strategi bisnis, manajemen SMIL menegaskan akan memperkuat bisnis inti material handling sekaligus melakukan diversifikasi ke sektor pertambangan. Perseroan telah mulai menyediakan layanan penyewaan alat berat untuk industri batu bara, termasuk bulldozer, compactor, dump truck, motor grader, dan excavator.
Perseroan juga menargetkan peningkatan penggunaan armada listrik berbasis baterai lithium-ion. Saat ini armada listrik berkontribusi sekitar 40 persen terhadap total armada perusahaan dan ditargetkan meningkat hingga 75 persen dalam lima tahun mendatang sejalan dengan tren transisi energi dan kebutuhan industri terhadap peralatan yang lebih ramah lingkungan.




































