BANGLI, suararealitas.co – Potret pilu datang dari Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali lantaran dua balita kini hidup dalam kondisi serba terbatas setelah sang ibu meninggal dunia sekitar 22 hari lalu.
Kedua anak tersebut merupakan buah hati dari I Parwata (27), seorang buruh tani yang kini harus berjuang sendiri membesarkan mereka.
Dengan penghasilan yang tidak menentu, Parwata menghadapi beban berat, terlebih kedua anaknya masih membutuhkan perhatian dan perawatan intensif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi pada Sabtu (28/2/2026), keluarga ini tergolong dalam kondisi ekonomi sangat terbatas.
Selain kebutuhan dasar sehari-hari, mereka juga membutuhkan pendampingan administrasi kependudukan, akses jaminan sosial, hingga perlengkapan bayi.
Seorang sumber menyebutkan, Parwata kerap membawa kedua anaknya saat bekerja di ladang.
Dalam kondisi panas maupun hujan, kedua balita itu ikut berada di lokasi kerja karena tidak ada pilihan lain untuk pengasuhan.
Kadang mereka sesekali dibantu oleh sang nenek yang juga bekerja sebagai buruh tani.
Kondisi semakin memprihatinkan karena salah satu balita tersebut hingga kini belum tercantum dalam Kartu Keluarga (KK).
Situasi tersebut membuat akses terhadap layanan sosial dan kesehatan menjadi semakin terbatas.
Di tengah duka dan tekanan ekonomi, Parwata mengaku kesulitan membagi waktu untuk mengurus administrasi tersebut.
Atas dasar kemanusiaan, masyarakat yang tergerak untuk membantu dapat menghubungi Jro Denistra di nomor 081238873715.
Uluran tangan para dermawan diharapkan mampu meringankan beban keluarga ini serta memastikan kedua balita tersebut mendapatkan hak dasar mereka secara layak.


































