HUT ke-33, Kritik Pedas Mahasiswa Tak Terbendung

- Jurnalis

Minggu, 1 Maret 2026 - 01:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kota Tangerang, Suararealitas.co — Suasana peringatan HUT ke-33 Kota Tangerang mendadak memanas! Di tengah euforia perayaan, ratusan massa dari Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Tangerang turun ke jalan dan menggelar aksi unjuk rasa di depan Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Sabtu (28/2/2026) pukul 16.00 WIB.

Dengan spanduk terbentang dan suara lantang menggema, para mahasiswa menyampaikan kritik keras terhadap kinerja Pemerintah Kota Tangerang yang dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan, meski usia kota telah menginjak 33 tahun dan satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota, Sachrudin–Maryono.

Koordinator aksi, Aditya Nugraha, tanpa ragu melontarkan kritik tajam dalam orasinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“HUT ke-33 Kota Tangerang dan satu tahun kepemimpinan Sachrudin–Maryono masih dengan wajah yang sama dan masalah yang sama. Berbagai persoalan di Kota Tangerang belum juga mampu diselesaikan oleh pemerintah,” tegas Aditya.

Krisis Sampah dan Lindi Bocor Jadi Sorotan

Isu lingkungan menjadi “peluru utama” dalam aksi tersebut. SEMMI menilai persoalan sampah terus berulang tanpa solusi nyata. Tumpukan sampah di pinggir jalan disebut mengganggu aktivitas warga dan menimbulkan bau tak sedap.

Tak hanya itu, Aditya juga mengungkap dugaan masih adanya praktik pembakaran sampah ilegal. Lebih memprihatinkan lagi, penampungan air lindi di TPA Rawa Kucing disebut mengalami kebocoran hingga mencemari saluran air dan perkebunan warga.

Baca Juga :  Serentak digelar di 13 Kecamatan, Warga : CFD Cuma Buat Emak Emak Senam

“Dengan banyaknya kasus ini, menjadi bukti bahwa Pemerintah Kota Tangerang belum mampu menyelesaikan persoalan lingkungan yang terus terulang,” ujarnya lantang.

Banjir “Langganan”, Drainase Disorot

Selain krisis lingkungan, banjir tahunan kembali menjadi bahan kritik. Menurut SEMMI, banjir bukan semata karena hujan deras, melainkan akibat sistem drainase yang sempit dan penanganan yang lambat.

“Masalahnya bukan pada hujannya, tapi pada drainase dan lambatnya respons pemerintah. Ketika sudah terjadi banjir baru turun. Siapa yang dirugikan? Sudah pasti masyarakat,” tegas Aditya.

Kota Inklusif Masih Jauh dari Harapan

Aksi tersebut juga menyoroti isu inklusivitas. SEMMI menilai fasilitas ramah disabilitas di Kota Tangerang belum merata dan belum konsisten.

Trotoar, gedung pelayanan publik, hingga transportasi umum disebut masih belum sepenuhnya aksesibel bagi penyandang disabilitas.

“Kemajuan harus dirasakan semua warga, termasuk penyandang disabilitas. Jangan hanya simbolis, tapi benar-benar merata,” katanya.

Soroti Perda HIV/AIDS dan Program Sosial

Dalam kesempatan itu, SEMMI juga menyatakan sikap terkait regulasi daerah, khususnya Perda tentang HIV/AIDS. Mereka mendorong revisi tanpa pencabutan, dengan memasukkan nilai-nilai sosial budaya yang relevan.

Baca Juga :  Tranformasi Batuceper, Cepat Tanggap Berdampak

Tak ketinggalan, kualitas program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi perhatian, agar benar-benar tepat sasaran dan berkualitas.

Tujuh Tuntutan Tegas SEMMI Tangerang

Dalam aksi tersebut, SEMMI merumuskan tujuh tuntutan utama kepada Pemerintah Kota Tangerang:

1. Menuntaskan persoalan sampah, limbah B3, dan krisis lingkungan.

2. Mengawasi serta memperbaiki kualitas air lindi TPA Rawa Kucing dan limbah industri.

3. Menyediakan infrastruktur mitigasi banjir berbasis kondisi geografis dan evaluasi RTRW.

4. Mewujudkan kota humanis dengan RTH minimal 30 persen.

5. Menyediakan fasilitas publik ramah disabilitas yang merata dan konsisten.

6. Merevisi tanpa mencabut Perda HIV/AIDS dengan mempertimbangkan nilai sosial budaya.

7. Menjamin kualitas program sosial, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menutup aksi, Koordinator Lapangan menegaskan bahwa demonstrasi ini merupakan bentuk kontrol sosial mahasiswa terhadap jalannya pemerintahan daerah.

“SEMMI Tangerang akan terus mengawal kebijakan publik agar benar-benar berpihak kepada masyarakat,” tutup Adit.

Di tengah gegap gempita perayaan ulang tahun kota, suara mahasiswa ini menjadi pengingat keras: usia bertambah, tapi persoalan tak boleh dibiarkan terus menua tanpa solusi.

Berita Terkait

Pemkab Puncak Sebut Serangan Warga di Sinak Dilakukan KKB, Bantah Keterlibatan Aparat
Patroli Dialogis Polsubsektor Inggom, Wujudkan Keamanan dan Ketertiban di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok
Wabup Bogor Jaro Ade Tinjau Langsung Lokasi Jembatan Ambruk Di Desa Cintamanik
Seringkali Diajukan Kades Sampai Akhirnya Jembatan Roboh Karena Lambat Direalisasi
Masyarakat Adat Desa Guradog Gelar Panen Raya Padi Di Lahan Sawah Tangtu
TNI Perkuat Pengamanan di PT Freeport Pasca Serangan KKB, Panser Anoa Disiagakan
Kemendagri: Pemimpin Berintegritas Tidak Melanggar Sumpah Jabatan
Jumat Berkah di Tanjung Priok: Wujud Kepedulian Polri Pererat Silaturahmi dengan Masyarakat

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 11:40 WIB

Pemkab Puncak Sebut Serangan Warga di Sinak Dilakukan KKB, Bantah Keterlibatan Aparat

Minggu, 19 April 2026 - 10:58 WIB

Patroli Dialogis Polsubsektor Inggom, Wujudkan Keamanan dan Ketertiban di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok

Sabtu, 18 April 2026 - 15:10 WIB

Seringkali Diajukan Kades Sampai Akhirnya Jembatan Roboh Karena Lambat Direalisasi

Sabtu, 18 April 2026 - 14:10 WIB

Masyarakat Adat Desa Guradog Gelar Panen Raya Padi Di Lahan Sawah Tangtu

Sabtu, 18 April 2026 - 08:05 WIB

TNI Perkuat Pengamanan di PT Freeport Pasca Serangan KKB, Panser Anoa Disiagakan

Berita Terbaru