AHY Soroti Ketimpangan Air Bersih, Sejumlah Wilayah Hadapi Tekanan Pasokan

- Jurnalis

Selasa, 24 Februari 2026 - 18:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Suararealitas.co — Pemerintah menyoroti meningkatnya kerentanan terhadap krisis air bersih di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa isu air bersih bukan lagi persoalan global semata, tetapi juga menjadi tantangan nyata di dalam negeri.

Hal tersebut disampaikan AHY dalam Water Townhall Meeting yang digelar di kantornya, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Dalam forum itu, ia memaparkan bahwa sekitar 50 persen populasi dunia saat ini menghadapi kondisi kelangkaan air bersih yang serius.

AHY menyampaikan bahwa sekitar setengah populasi dunia saat ini hidup dalam kondisi kekurangan air bersih. Situasi tersebut berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, bahkan berkontribusi terhadap ratusan ribu kematian setiap tahun akibat minimnya akses terhadap air minum layak dan sanitasi yang memadai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut AHY, kondisi tersebut menjadi peringatan penting bagi Indonesia. Meski dikenal sebagai negara dengan sumber daya air melimpah, distribusi yang tidak merata membuat sejumlah wilayah menghadapi tekanan serius, terutama daerah dengan kepadatan penduduk tinggi.

Baca Juga :  BRI Kanca Jakarta Jelambar Rayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 H dengan Penuh Kebersamaan

Data yang dipaparkan menunjukkan lebih dari 40 persen wilayah Indonesia berada dalam kategori rasio ketersediaan air rendah. Wilayah padat di Pulau Jawa dan Bali termasuk yang mengalami tekanan paling signifikan. Sementara itu, sebagian daerah lain berada pada tingkat menengah, yang berarti ketersediaan air relatif cukup secara tahunan, tetapi rawan kekurangan saat musim kemarau.

Sebaliknya, wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Papua, Maluku, dan sebagian Sulawesi masih memiliki cadangan air yang relatif lebih baik. Ketimpangan ini memperlihatkan bahwa ketersediaan air nasional tidak otomatis menjamin kecukupan di tingkat lokal.

AHY menilai persepsi Indonesia sebagai negara kaya air berpotensi menimbulkan rasa aman semu. Ia menyoroti fakta bahwa konsentrasi penduduk terbesar berada di Pulau Jawa, yang justru menghadapi defisit ketersediaan air.

Pandangan tersebut turut diperkuat oleh paparan Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Kementerian PUPR, Bob Arthur Lombogia, yang menjelaskan bahwa secara nasional neraca air masih mencatat surplus. Namun, kondisi berbeda terjadi di Jawa dan Bali, khususnya kawasan metropolitan seperti Jabodetabek, yang mengalami tekanan kebutuhan air lebih tinggi dibanding pasokan.

Baca Juga :  Tingkatkan Sinergi Layanan Publik, BRI Rangkasbitung Lakukan Kunjungan Strategis ke PDAM Tirta Multatuli Lebak

Potensi air permukaan Indonesia sendiri mencapai hampir 3.000 miliar meter kubik per tahun. Akan tetapi, kapasitas tampung yang tersedia baru mampu menahan sekitar 60 persen dari potensi tersebut. Sisanya mengalir ke laut karena keterbatasan infrastruktur penampungan dan pengelolaan.

Selain persoalan tampungan, tantangan lain adalah distribusi lintas wilayah. Surplus air di satu pulau tidak mudah dialirkan ke pulau lain yang mengalami kekurangan, mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Pemerintah menilai diperlukan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan air nasional. Upaya tersebut mencakup pembangunan infrastruktur penampungan, optimalisasi pengelolaan sumber daya air, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan kesadaran publik terhadap konservasi air.

Krisis air bersih dinilai bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga berkaitan erat dengan stabilitas sosial dan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, penguatan tata kelola dan perencanaan jangka panjang menjadi kunci agar risiko kekurangan air tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas di masa mendatang.

Berita Terkait

Pemprov DKI Gandeng Universitas Indonesia Olah Limbah Cangkang Kerang Cilincing Jadi Produk Bernilai
Tingkatkan Kompetensi dan Integritas, PPNS Ditjen Hubla Siap Hadapi Tantangan Penegakan Hukum
Sinergi Membangun Desa, BRI Rangkasbitung Gandeng Babinsa dan Agendakan Pertemuan dengan Ketua KDMP 3 Desa
Gema Kemenangan di Hari Nan Fitri: Ucapan Idul Fitri 1447 H Keluarga Besar BRI Kebon Jeruk
Mempererat Ukhuwah di Bulan Mulia, BRI Kebon Jeruk Gelar Pengajian dan Buka Puasa Bersama
BRI Kanca Kota Dukung Program Serambi BI, Fasilitasi Penukaran Uang Baru bagi Masyarakat
Tingkatkan Kualitas Layanan di Momen Lebaran, BRI Kanca Kota Hadirkan Grooming Bernuansa Busana Muslim
Optimalkan Potensi Ternak Lebak Selatan, BRI Rangkasbitung Kucurkan KUR untuk Peternak Domba di Bayah

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 17:02 WIB

Pemprov DKI Gandeng Universitas Indonesia Olah Limbah Cangkang Kerang Cilincing Jadi Produk Bernilai

Rabu, 15 April 2026 - 21:39 WIB

Tingkatkan Kompetensi dan Integritas, PPNS Ditjen Hubla Siap Hadapi Tantangan Penegakan Hukum

Kamis, 2 April 2026 - 17:47 WIB

Sinergi Membangun Desa, BRI Rangkasbitung Gandeng Babinsa dan Agendakan Pertemuan dengan Ketua KDMP 3 Desa

Kamis, 2 April 2026 - 17:46 WIB

Gema Kemenangan di Hari Nan Fitri: Ucapan Idul Fitri 1447 H Keluarga Besar BRI Kebon Jeruk

Kamis, 2 April 2026 - 17:45 WIB

Mempererat Ukhuwah di Bulan Mulia, BRI Kebon Jeruk Gelar Pengajian dan Buka Puasa Bersama

Berita Terbaru

Berita Aktual

Kemendagri: Pemimpin Berintegritas Tidak Melanggar Sumpah Jabatan

Jumat, 17 Apr 2026 - 18:50 WIB