Poros Baru Tangerang Menggelar Nobar Film “Pesta Babi” , di Taman Gajah Tangerang

- Jurnalis

Jumat, 22 Mei 2026 - 00:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nobar Film

Nobar Film "Pesta Babi" di Taman Gajah Kota Tangerang, Kamis (21/05/2026)

KOTA TANGERANG, Suararealitas.co – Poros Baru Tangerang menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi dalam rangka memperingati 21 Mei, momentum runtuhnya rezim Orde Baru sekaligus penanda lahirnya Reformasi 1998, pada Kamis (21/05/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Taman Gajah itu bukan sekadar agenda menonton film, melainkan ruang konsolidasi rakyat sipil di tengah situasi demokrasi Indonesia yang dinilai semakin mengalami kemunduran.

Di tengah meningkatnya pembungkaman kritik, kriminalisasi suara rakyat, hingga menyempitnya ruang kebebasan sipil, forum tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap matinya kesadaran publik dan semakin menguatnya praktik kekuasaan yang anti-kritik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎Mahasiswa, komunitas pengemudi ojek online, pegiat literasi, hingga masyarakat sipil hadir dan berkumpul untuk merefleksikan wajah demokrasi Indonesia hari ini. Mereka menilai Reformasi yang diperjuangkan dengan darah dan pengorbanan rakyat pada 1998 kini perlahan dibajak oleh kepentingan elite politik dan oligarki kekuasaan.

‎Sekretaris Jenderal Forum Aksi Mahasiswa (FAM), Akbar, menegaskan bahwa kegiatan nobar tersebut merupakan bagian dari pendidikan politik rakyat agar masyarakat tidak kehilangan ingatan sejarah di tengah derasnya propaganda kekuasaan.

‎“Film Pesta Babi kami pilih karena berbicara tentang suara-suara yang selama ini dibungkam. Ia merekam ketimpangan, relasi kuasa, kekerasan simbolik, dan wajah ketidakadilan yang terus dipelihara oleh sistem. Ini bukan sekadar tontonan, tetapi alarm bagi rakyat agar sadar bahwa demokrasi sedang berada di titik rawan,” ujar Akbar.

Baca Juga :  Lionmesh Prima Berhasil Catat Penjualan Neto Sebesar Rp172,87 Miliar Meningkat Sebesar 25,6%

Menurutnya, gejala kemunduran demokrasi hari ini semakin nyata ketika kritik publik dipandang sebagai ancaman, sementara kekuasaan berjalan tanpa kontrol yang sehat.

‎“Dulu rakyat melawan otoritarianisme di jalan-jalan demi kebebasan. Hari ini, kebebasan itu kembali dipersempit secara perlahan. Kritik dicurigai, aktivis dibungkam, dan suara rakyat dipinggirkan. Reformasi belum selesai,” tegasnya.

Hal senada, Sekretaris Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Tangerang (SEMMI), Aditya Nugraha, mengatakan bahwa peringatan 21 Mei tidak boleh berhenti hanya sebagai seremoni sejarah yang kehilangan makna politiknya.

‎“21 Mei bukan sekadar tanggal runtuhnya rezim. Ini pengingat bahwa perjuangan melawan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan masih berlangsung sampai hari ini. Demokrasi tanpa keberpihakan kepada rakyat hanyalah topeng bagi kepentingan elite,” ujar Aditya.

‎Ia juga menyoroti melemahnya kontrol publik terhadap negara, meningkatnya pembatasan kebebasan sipil, serta berbagai persoalan kemanusiaan yang dinilai terus dibiarkan, termasuk situasi yang terjadi di Papua.

Baca Juga :  418 Personel Gabungan Amankan Dua Aksi Demonstrasi di Jakarta Pusat, Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

‎“Ini ancaman nyata bagi demokrasi. Ketika rakyat takut bersuara, saat itu demokrasi sedang sekarat. Sementara di Papua, persoalan kemanusiaan terus berlangsung tanpa penyelesaian yang adil. Negara tidak boleh terus menormalisasi penderitaan rakyat,” tegasnya.

‎Dalam suasana penuh refleksi dan diskusi kritis, peserta juga menyoroti pentingnya ruang kebudayaan, seni, dan literasi sebagai alat perjuangan sosial. Mereka menilai film, seni, dan forum diskusi publik merupakan medium penting untuk melawan lupa, membangun kesadaran kolektif, serta menjaga api perlawanan terhadap ketimpangan sosial dan praktik kekuasaan yang semakin menjauh dari semangat Reformasi 1998.

Kegiatan nobar berlangsung hingga malam hari dan ditutup dengan mimbar bebas mengenai tantangan demokrasi pasca-Reformasi, meningkatnya represi terhadap kebebasan sipil, serta pentingnya solidaritas rakyat dalam mempertahankan nilai-nilai keadilan, hak asasi manusia, dan kebebasan berekspresi.

Di akhir kegiatan, peserta menyerukan bahwa perjuangan Reformasi tidak boleh berhenti hanya dalam peringatan tahunan. Reformasi harus terus hidup dalam keberanian rakyat untuk bersuara, melawan ketidakadilan, dan menjaga demokrasi agar tidak kembali jatuh ke tangan kekuasaan yang represif.

Berita Terkait

Pererat Ukhuwah Islamiyah Antar Warga, Pemdes Purasari Gelar Dzikir Maulid Nabi dan Pengajian Bulanan
Persija vs Persib Digelar Hari Ini, Kapolres Bogor Turun Langsung Pastikan Keamanan Wilayah
Benda Misterius Mirip Bom Rakitan Gegerkan Warga Tawang, Polisi Bergerak Cepat Amankan Bekas Pabrik Engsun
PWJU “Membangun Utara” Siapkan Pelatihan Jurnalistik dan Program Sosial untuk Masyarakat
Parkir CNI Ditutup, Warga Protes Harus Ada Solusi
Parkir Liar Depan RS Hermina Membandel, Warga Desak Kepala UP Parkir hingga Kasudinhub Jakbar Bertindak Tegas
Bukti Polisi Peduli Masyarakat, Polsek Teluknaga Bagikan Masker Gratis
Patroli Jaga Jakarta Jaga Priok di Pelabuhan Sambil Bagikan Masker

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 12:53 WIB

Pererat Ukhuwah Islamiyah Antar Warga, Pemdes Purasari Gelar Dzikir Maulid Nabi dan Pengajian Bulanan

Sabtu, 12 September 2026 - 15:42 WIB

Persija vs Persib Digelar Hari Ini, Kapolres Bogor Turun Langsung Pastikan Keamanan Wilayah

Kamis, 10 September 2026 - 21:19 WIB

Benda Misterius Mirip Bom Rakitan Gegerkan Warga Tawang, Polisi Bergerak Cepat Amankan Bekas Pabrik Engsun

Kamis, 10 September 2026 - 16:55 WIB

PWJU “Membangun Utara” Siapkan Pelatihan Jurnalistik dan Program Sosial untuk Masyarakat

Kamis, 10 September 2026 - 12:32 WIB

Parkir CNI Ditutup, Warga Protes Harus Ada Solusi

Berita Terbaru