Skandal Kabel Tembaga: Rj “Aneh” Bebaskan 18 Tersangka, Penadah Hilang

- Jurnalis

Rabu, 11 Juni 2025 - 13:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Suararealitas.co | 11 Juni 2025 – Kasus pencurian kabel tembaga milik PT PLN (Persero) di proyek pembangunan Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono, Section Harbour Road II, Jalan RE Martadinata, Pademangan Barat, Jakarta Utara, menimbulkan gelombang kontroversi.

Meskipun 18 orang tersangka telah dibebaskan melalui jalur restorative justice oleh Polsek Pademangan, proses tersebut dibayangi sejumlah kejanggalan yang menimbulkan pertanyaan besar tentang transparansi dan keadilan hukum.

Ke-18 warga tersebut ditangkap atas dugaan pencurian kabel tembaga milik PT PLN yang terjadi di lokasi proyek pembangunan jalan tol tersebut. Namun, pembebasan mereka melalui jalur Restorative justice telah memicu kecaman dari berbagai pihak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu poin utama yang dipertanyakan adalah ketidakhadiran para penadah dalam proses hukum. Hingga saat ini, para penadah kabel curian tersebut belum ditangkap, meskipun jelas bahwa kabel yang dicuri tidak mungkin dikonsumsi atau dibuang begitu saja.

Fakta ini menimbulkan dugaan kuat adanya praktik tebang pilih dalam penegakan hukum.

Sebelum Restorative justice diterapkan, seharusnya penadah juga ditangkap dan diproses secara hukum.

Ketidakmampuan memisahkan pelaku dan penadah dalam kasus ini menunjukkan kelemahan dalam proses investigasi dan penegakan hukum.

Lebih lanjut, kerugian finansial yang diderita PT PLN dan negara akibat pencurian tersebut belum diungkap secara transparan.

Besarnya kerugian dan pihak yang bertanggung jawab atas kerugian tersebut masih menjadi misteri.

Baca Juga :  Suami Terduga Pelaku KDRT di Panongan Dibekuk Tim Gabungan Polresta Tangerang

Ketidakjelasan ini semakin memperkuat kecurigaan publik akan adanya ketidakberesan dalam penanganan kasus ini.

Minimnya informasi mengenai kerugian negara juga menjadi celah yang memungkinkan terjadinya ketidakadilan.

Proses Restorative Justice itu sendiri juga dipertanyakan transparansinya. Barang bukti kabel tembaga hasil curian tidak pernah dipamerkan kepada publik selama konferensi pers.

Ketiadaan transparansi ini menimbulkan spekulasi dan keraguan publik terhadap proses penyelesaian kasus tersebut. Publik berhak mengetahui detail proses Resrorative Justice, termasuk bukti-bukti yang ada, untuk memastikan keadilan tegak.

Kejanggalan lainnya muncul dari pernyataan konsultan proyek PT CMNP, Yudi, yang disampaikan melalui pesan WhatsApp.

“Saya tidak berwenang memberikan pernyataan terkait kasus ini.” Kata Yudi.

Yudi menjelaskan bahwa perannya sebagai konsultan hanya sebatas pengawasan pemindahan aset PT PLN yang terdampak proyek.

Ia juga menjelaskan bahwa berdasarkan perjanjian kerjasama antara PT PLN dan PT CMNP, PT CMNP berkewajiban mengembalikan aset PLN lama yang terdampak proyek (jika memungkinkan) ke gudang PT PLN UPT Pulogadung.

Pernyataan ini justru menguatkan dugaan bahwa Restorative Justice diterapkan pada pihak yang salah. Seharusnya, PT PLN, sebagai pemilik aset yang dirugikan, yang seharusnya menjadi pihak utama dalam proses Restirative Justice, bukan PT CMNP.

Pertanyaan pun muncul: untuk kepentingan siapa Restorative Justice ini dilakukan?

Dugaan keterlibatan oknum PLN dalam kasus ini semakin kuat mengingat sejumlah kejanggalan yang muncul. Kurangnya transparansi dalam proses Restorative Justice, ketidakjelasan kerugian negara, dan ketidakhadiran para penadah dalam proses hukum menjadi indikasi kuat adanya upaya untuk melindungi pihak-pihak tertentu.

Baca Juga :  Gadis Dibawah Umur di Jual Germo di Michat, Ditangkap Polisi Priok

Lembaga bantuan hukum Chakra Bersatu, melalui pengacara Julianta Sembiring, S.H., M.H., mengungkapkan keprihatinannya atas penanganan kasus ini.

“Polsek Pademangan seharusnya tidak menerapkan tebang pilih dalam penegakan hukum.” Ucapnya, Rabu 11 Juni 2025

Ia juga mempertanyakan mengapa pihak-pihak lain yang mungkin terlibat, seperti oknum PLN atau pihak lain yang terkait dengan proyek, tidak diusut tuntas.

Julianta menilai bahwa kasus ini hanya fokus pada pencuri yang tertangkap tangan, sementara pihak-pihak lain yang mungkin terlibat dibiarkan bebas.

Hal ini, menurutnya, menunjukkan adanya ketidakadilan dalam sistem hukum yang cenderung tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Ia mendesak Polda Metro Jaya untuk turun tangan dan memastikan proses hukum berjalan secara adil dan transparan.

Kepastian hukum atas peristiwa ini, menurutnya, hanya akan terjawab jika semua pihak yang terlibat diproses secara hukum.

Kasus ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan serius tentang integritas penegakan hukum di Indonesia. Transparansi dan keadilan dalam proses hukum harus diutamakan untuk mencegah terjadinya ketidakpercayaan publik terhadap aparat penegak hukum.

Polda Metro Jaya diharapkan dapat menyelidiki lebih lanjut dugaan keterlibatan oknum dan memastikan semua pihak yang terlibat dimintai pertanggungjawabannya.

Berita Terkait

6 Terduga Pelaku Mengaku Polisi Dibebaskan di Teluknaga, Dasar Hukumnya Dipertanyakan
Tim Hukum Alpriado Osmond Desak Polres Metro Tangerang Kota Percepat Penanganan Kasus Dugaan Pengeroyokan ART
Penanggulangan Sampah di Rusun Pesakih Daan Mogot Terus Diperkuat, Pengelola Tekankan Peran Aktif Warga
Sertifikat Tak Kunjung Beres, Uang Puluhan Juta Dipersoalkan: Praktisi Hukum Soroti Potensi Ranah Pidana
Tim Kuasa Hukum Boyamin Saiman CH Harno & Tatis Lawfirm: Proses Hukum Belum Usai – Kami Perjuangkan Hak Lahan Adat Hingga ke Puncak Keadilan
‎Aktivitas Pengolahan Emas di Munjul Dipertanyakan, Warga Minta DLH dan Aparat Turun Tangan
Dugaan Permainan Solar Subsidi di SPBU Suradadi, Sopir Sebut Bekerja atas Perintah Joko
Mengaku Berkali-kali Dipaksa, Perempuan Muda di Tasikmalaya Ungkap Dugaan Kekerasan Seksual

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 12:57 WIB

6 Terduga Pelaku Mengaku Polisi Dibebaskan di Teluknaga, Dasar Hukumnya Dipertanyakan

Rabu, 16 September 2026 - 16:52 WIB

Tim Hukum Alpriado Osmond Desak Polres Metro Tangerang Kota Percepat Penanganan Kasus Dugaan Pengeroyokan ART

Senin, 14 September 2026 - 14:51 WIB

Penanggulangan Sampah di Rusun Pesakih Daan Mogot Terus Diperkuat, Pengelola Tekankan Peran Aktif Warga

Sabtu, 12 September 2026 - 18:16 WIB

Sertifikat Tak Kunjung Beres, Uang Puluhan Juta Dipersoalkan: Praktisi Hukum Soroti Potensi Ranah Pidana

Kamis, 10 September 2026 - 10:58 WIB

Tim Kuasa Hukum Boyamin Saiman CH Harno & Tatis Lawfirm: Proses Hukum Belum Usai – Kami Perjuangkan Hak Lahan Adat Hingga ke Puncak Keadilan

Berita Terbaru

Kabar Polisi

Polisi Respons Cepat Gangguan Kamtibmas di Manggarai Selatan

Senin, 21 Sep 2026 - 14:35 WIB

Kabar Polisi

Polri Gelar Apel Pasukan Pengamanan FIFA ASEAN Cup 2026

Senin, 21 Sep 2026 - 14:27 WIB