Jakarta, Suararealitas.co – Forum Bisnis Paten Indonesia (FBPI) 2026 membuka peluang kerja sama antara inventor dan pelaku industri melalui kegiatan business matching yang mempertemukan pemilik invensi dengan calon pengguna teknologi dan mitra komersial. Kegiatan yang berlangsung di International Convention Center (JICC), Jakarta pada 3 November 2026 , ini memberikan kesempatan kepada inventor dari sejumlah perguruan tinggi untuk mempresentasikan hasil inovasinya sekaligus menjajaki peluang kerja sama dengan perusahaan yang berpotensi memanfaatkan teknologi tersebut.
Salah satu inventor dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trisakti, Erni Ervan menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan kesempatan bagi inventor untuk memperkenalkan hasil inovasi kepada industri. Ia mengatakan, business matching kali ini merupakan pertemuan kedua yang diikutinya setelah mendapatkan pendampingan dari DJKI sejak Juli 2026.
Menurut Erni, antusiasme industri pada pertemuan kali ini meningkat dibandingkan kegiatan sebelumnya. Sejumlah perusahaan, termasuk PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan perusahaan di bidang robotika, hadir untuk melihat potensi pemanfaatan invensi yang ditawarkan.
“Acara ini sangat membantu kami dari pihak inventor untuk memperkenalkan invensi yang membangun inovasi kepada pihak industri. Forum Bisnis Paten Indonesia juga menjadi sarana bagi industri untuk mengetahui invensi-invensi yang memang diperlukan,” ujar Erni.
Hal senada disampaikan Narindra Kusumada dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang memperkenalkan invensi berupa sistem lepas landas dan pendaratan vertikal untuk pesawat tanpa awak. Teknologi tersebut memungkinkan pesawat tanpa awak dengan konfigurasi fixed wing melakukan lepas landas dan pendaratan tanpa membutuhkan landasan pacu sehingga lebih fleksibel untuk berbagai kebutuhan operasional.
Narindra menilai pertemuan langsung dengan industri memberikan peluang bagi inventor untuk mengetahui kebutuhan calon pengguna sekaligus menjajaki pemanfaatan teknologi yang dikembangkan. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan menunjukkan ketertarikan terhadap invensi yang dipresentasikannya.
“Tanpa adanya dukungan dari pengguna, industri, ataupun pihak-pihak yang memanfaatkan invensi yang dikembangkan, teknologi tersebut nantinya tidak akan memberikan manfaat secara optimal. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa lebih sering dilaksanakan untuk mempertemukan inventor dan investor,” kata Narindra.
Dari sisi industri, Muhammad Saiful Aziz dari PT Tesco Indomaritim, perusahaan yang bergerak di bidang perkapalan, menilai business matching memberikan kesempatan bagi calon mitra bisnis untuk melihat secara langsung teknologi yang ditawarkan inventor. Dari empat penawaran invensi yang diikuti perusahaannya, terdapat beberapa teknologi yang dinilai potensial untuk ditindaklanjuti, meskipun sebagian lainnya belum sesuai dengan kebutuhan bisnis perusahaan.
Ia berharap invensi yang ditawarkan dalam kegiatan serupa ke depan semakin banyak berada pada tahap siap dikomersialisasikan. Dengan demikian, industri dapat lebih mudah menentukan bentuk kerja sama, baik sebagai investor, mitra bisnis, maupun distributor teknologi.
Melalui kegiatan ini, DJKI mendorong agar pelindungan paten dapat diikuti dengan pemanfaatan ekonomi sehingga invensi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha. Pendaftaran paten menjadi langkah penting untuk memperoleh pelindungan hukum atas invensi sekaligus memberikan kepastian bagi inventor dan calon mitra dalam menjajaki kerja sama komersial. Informasi mengenai pendaftaran dan pelindungan paten dapat diakses melalui laman resmi DJKI di paten.dgip.go.id.












