JAKARTA, (13/10) Suararealitas.co– Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan Asosiasi Zero Emisi Indonesia (AZEI) mengembangkan program pengelolaan kelautan rendah emisi. Kolaborasi ini juga untuk memperkuat perlindungan ekosistem laut yang produktif, inklusif, dan inovatif.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang Pengelolaan Karbon Rendah Emisi Sektor Kelautan dan Perikanan antara Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan (DJPK) KKP dengan AZEI di Jakarta pada Senin (5/10) lalu.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan kolaborasi KKP dan AZEI merupakan bagian dari upaya memperkuat paradigma Ekonomi Biru yang selaras dengan Visi Indonesia Emas 2045 serta Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Sinergi dengan multipihak juga akan terus digalakkan untuk mendukung pencapaian target perluasan kawasan konservasi hingga 30 persen dari total wilayah perairan laut atau seluas 97,5 juta hektare sampai 2045.
“Pengelolaan kelautan menghadapi tantangan yang semakin kompleks sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Peran asosiasi, dunia usaha, lembaga riset, serta mitra pembangunan menjadi penting untuk memperkuat inovasi dan mempercepat implementasi program di lapangan,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam siaran resmi di Jakarta, Selasa (13/10).
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara, menambahkan, KKP dan AZEI menyepakati enam ruang lingkup kerja sama, meliputi pengembangan model mobilitas dan infrastruktur rendah emisi; pengembangan sistem pengelolaan karbon biru; penguatan pengelolaan sampah; pengembangan ekosistem pergaraman berkelanjutan; pengembangan inovasi pembiayaan proyek karbon biru; serta publikasi dan diseminasi informasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Kemitraan dengan AZEI juga turut diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan tiga program utama di bidang pengelolaan kelautan yakni Proteksi, Pelaut, dan Sebasah. Proteksi atau Program Restorasi Ekosistem dan Konservasi diarahkan pada perluasan kawasan konservasi laut menuju target 30 persen pada 2045 serta rehabilitasi mangrove yang memiliki potensi besar dalam penyerapan karbon. Sedangkan Pelaut atau Program Pulau dan Laut Sehat untuk Ekonomi Kuat diarahkan pada pengembangan pulau-pulau kecil berbasis ekosistem secara terintegrasi untuk mendorong pemanfaatan dan hilirisasi sumber daya kelautan. Adapun Sebasah atau Laut Sehat Bebas Sampah menjadi upaya kolaboratif untuk menangani persoalan sampah laut melalui pendekatan ekonomi sirkular, dengan menyasar kawasan pesisir, muara sungai, pulau-pulau kecil, serta pelabuhan dan aktivitas kapal.
“AZEI memiliki kepakaran dan platform lintas sektor yang dapat mempertemukan kepemimpinan, jaringan teknologi, pembiayaan, hingga investasi. Kami berharap kemitraan ini dapat memastikan gagasan kelautan rendah emisi tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi diwujudkan menjadi program yang konkret dan memberikan manfaat di lapangan,” kata Koswara.
Koswara berharap kesepakatan tersebut segera ditindaklanjuti melalui program yang terukur dan berkelanjutan sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas ekosistem laut sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir di seluruh Indonesia.












