Jakarta, Suararealitas.co – Memasuki usia 25 tahun, Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat budaya literasi di Indonesia. Momentum seperempat abad perjalanan organisasi ini menjadi ajang refleksi atas kontribusi yang telah dilakukan sekaligus memperkuat konsolidasi gerakan dalam menghadapi tantangan literasi yang semakin kompleks.
Mengusung tema “25 Tahun GPMB: Refleksi Perjalanan, Konsolidasi Gerakan, dan Penguatan Literasi Indonesia”, kegiatan ini menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, mempererat sinergi antarpemangku kepentingan, serta merumuskan langkah strategis dalam mendorong peningkatan kualitas literasi masyarakat.
Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pembudayaan Minat Baca (PP GPMB), Herlina Mustikasari, M.A., Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa tantangan literasi saat ini tidak lagi sebatas mendorong masyarakat agar gemar membaca. Lebih dari itu, literasi harus mampu menjadi kekuatan yang mendorong transformasi sosial, ekonomi, budaya, hingga peradaban bangsa.
Menurut Herlina, gerakan literasi perlu diarahkan untuk membangun masyarakat yang tidak hanya memiliki kebiasaan membaca, tetapi juga mampu mengelola pengetahuan, berpikir kritis, mengambil keputusan secara tepat, berinovasi, serta meningkatkan kualitas kehidupannya. Dengan demikian, keberhasilan gerakan literasi tidak semata-mata diukur dari jumlah buku yang dibaca, melainkan dari sejauh mana pengetahuan yang diperoleh dapat memberikan manfaat dan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa usia 25 tahun bukanlah jaminan bahwa sebuah organisasi telah memiliki kekuatan dan ketahanan yang memadai. Sebaliknya, perjalanan panjang tersebut harus menjadi dorongan bagi GPMB untuk terus belajar, beradaptasi, dan melakukan refleksi secara kritis terhadap perkembangan organisasi.
Sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian, antara lain penguatan tata kelola organisasi, dokumentasi pengetahuan, regenerasi kepemimpinan, peningkatan kapasitas pengurus daerah, hingga pengambilan keputusan yang didasarkan pada data dan hasil riset. Menurutnya, organisasi harus terus berkembang agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan kontribusi yang lebih luas terhadap pembangunan literasi nasional.
Lebih lanjut, Herlina menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor. Pasalnya, persoalan literasi tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi atau lembaga saja, melainkan berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, perpustakaan, media, perkembangan teknologi digital, kondisi sosial-ekonomi masyarakat, hingga kebijakan pemerintah.
Karena itu, GPMB perlu membangun kemitraan yang lebih luas dengan berbagai pihak agar gerakan literasi dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kolaborasi tersebut juga diharapkan mampu melahirkan program yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi menghasilkan dampak yang terukur dan berkelanjutan.
Herlina turut mengajak seluruh jajaran GPMB untuk mengubah orientasi gerakan, dari sekadar menjalankan program menjadi menciptakan dampak, dari penyelenggaraan kegiatan menuju perubahan nyata, serta dari penyusunan laporan administratif menuju transformasi masyarakat.
Dalam pandangannya, GPMB ke depan perlu berkembang menjadi organisasi pembelajaran yang mampu menghasilkan praktik-praktik baik, gagasan inovatif, serta rekomendasi kebijakan literasi yang disusun berdasarkan bukti dan hasil penelitian. Dengan pendekatan tersebut, organisasi tidak hanya berperan sebagai penggerak kegiatan membaca, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem literasi nasional yang lebih kuat.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi menjadi semakin penting. Masyarakat dituntut tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga memiliki kecakapan untuk memahami, mengevaluasi, memilah, dan memanfaatkan informasi secara bertanggung jawab.
Melalui peringatan 25 tahun ini, GPMB diharapkan semakin memperkuat perannya dalam membangun budaya literasi yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Refleksi perjalanan selama seperempat abad sekaligus menjadi pijakan untuk memperkuat konsolidasi organisasi, memperluas kolaborasi, serta meningkatkan kontribusi nyata dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Dengan semangat pembaruan dan kebersamaan, penguatan literasi diharapkan tidak berhenti pada peningkatan minat baca, tetapi berkembang menjadi gerakan yang mampu mendorong kemajuan masyarakat dan bangsa. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, kritis, inovatif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.











