Grand Seminar Mining Nation Revolution Tegaskan Hilirisasi Minerba sebagai Pilar Industrialisasi dan Kedaulatan Ekonomi

- Jurnalis

Kamis, 6 Agustus 2026 - 16:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Suararealitas.co – Hilirisasi energi dan mineral dinilai menjadi kunci untuk mewujudkan kedaulatan industri nasional sekaligus membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru melalui peningkatan nilai tambah sumber daya alam. Namun, keberhasilan agenda tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan smelter atau fasilitas pengolahan, melainkan membutuhkan ekosistem industri yang terintegrasi, penguasaan teknologi, investasi berkelanjutan, serta keterlibatan pelaku usaha nasional, khususnya generasi muda.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Grand Seminar Mining Nation Revolution bertajuk “Hilirisasi Energi & Minerba yang Berkelanjutan untuk Kedaulatan” yang diselenggarakan BPD HIPMI Jaya bersama BPC HIPMI Jakarta Selatan di Jakarta, Kamis (6/8/2026). Seminar yang merupakan bagian dari rangkaian program HIPMI MINERS ini menghadirkan para pemimpin industri pertambangan dan manufaktur nasional untuk membahas strategi memperkuat hilirisasi sebagai fondasi industrialisasi Indonesia.

Diskusi dipandu oleh Ketua Panitia Mining Nation Revolution, Rhesa Avila Zainal, dan menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Dr. Ir. Anggawira, MM., MH., Komisaris Independen PT Bumi Resources Tbk sekaligus Ketua Umum ASPEBINDO, Didin Rajidin, Direktur Operasional PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), serta Direktur Infrastruktur dan Operasi PT Krakatau Steel, Sidik Darusulistyo. Ketiganya menyampaikan perspektif mengenai pengembangan hilirisasi batu bara, aluminium, dan baja sebagai tiga sektor strategis yang saling melengkapi dalam membangun daya saing industri nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengawali sesi diskusi, Dr. Anggawira menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai salah satu negara dengan cadangan batu bara terbesar di dunia. Menurutnya, keunggulan tersebut harus dimanfaatkan melalui transformasi industri yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah, bukan lagi sekadar meningkatkan volume produksi.

“Ke depan, bukan lagi bagaimana memproduksi batu bara lebih banyak, tetapi bagaimana setiap ton batu bara yang diproduksi mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa batu bara memiliki potensi lebih luas daripada sekadar menjadi sumber energi. Melalui hilirisasi, komoditas tersebut dapat menjadi bahan baku industri kimia dan petrokimia yang selama ini masih banyak dipenuhi dari impor. Karena itu, perusahaan di bawah Bumi Resources Group, yang menaungi Kaltim Prima Coal (KPC) dan Indominco Mandiri (IMM), tengah mengembangkan berbagai proyek hilirisasi, termasuk industri metanol berbasis batu bara sebagai bagian dari transformasi bisnis jangka panjang.

Menurut Anggawira, pembangunan industri hilir harus berjalan seiring dengan penguatan ekosistem pendukung. Infrastruktur, pembiayaan, teknologi, logistik, hingga pengembangan pasar harus dibangun secara terintegrasi agar mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

Baca Juga :  SAPX Express Tetap Bukukan Laba Positif di Tengah Pelemahan Ekonomi 2025

Ia juga mengajak pengusaha muda untuk tidak hanya berorientasi menjadi pemilik tambang atau investor smelter, tetapi mengambil peluang pada sektor rantai pasok yang memiliki prospek besar.

“Pengusaha muda harus berani naik kelas dengan masuk ke persoalan industri yang nyata. Banyak peluang yang dapat dikembangkan, mulai dari logistik, pergudangan, layanan teknis, digitalisasi, pengembangan sumber daya manusia, hingga berbagai solusi yang dibutuhkan industri,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan pelaku usaha tidak hanya ditentukan oleh luasnya jaringan, tetapi terutama oleh kompetensi, profesionalisme, dan kemampuan menghadirkan solusi yang memberikan nilai tambah bagi industri. Karena itu, ia mendorong pelaku usaha terus meningkatkan kapasitas, memperkuat legalitas, serta membangun reputasi melalui kualitas kerja yang konsisten.

Melanjutkan pembahasan mengenai hilirisasi, Didin Rajidin memaparkan besarnya peluang pengembangan industri aluminium nasional yang masih terbuka lebar. Ia menjelaskan bahwa PT Borneo Alumina Indonesia merupakan bagian penting dari ekosistem hilirisasi mineral di bawah MIND ID Group yang mengolah bauksit menjadi alumina sebagai bahan baku industri aluminium.

Menurutnya, Indonesia memiliki cadangan bauksit sekitar 3,7 miliar ton yang diperkirakan mampu menopang kebutuhan industri hingga lebih dari satu abad. Namun, pemanfaatan sumber daya tersebut masih belum optimal karena sebagian besar pengolahan berhenti pada tahap logam dasar.

“Masih banyak mata rantai industri yang belum dibangun. Padahal kebutuhan terhadap material bernilai tambah tinggi seperti aluminium alloy untuk industri transportasi, elektronik, konstruksi, hingga dirgantara terus meningkat,” paparnya.

Didin menjelaskan bahwa kapasitas produksi alumina nasional saat ini telah mencapai sekitar 29 juta ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi aluminium domestik baru sekitar 1,2 juta ton per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang pembangunan smelter aluminium, industri manufaktur, serta berbagai produk hilir berbasis aluminium di Indonesia.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan hilirisasi aluminium membutuhkan dukungan energi yang kompetitif, integrasi kawasan industri dari hulu hingga hilir, penguasaan teknologi, diversifikasi produk bernilai tambah tinggi, serta sistem logistik yang efisien.

“Semakin tinggi tingkat hilirisasi dan spesialisasi produk yang dihasilkan, semakin besar pula nilai tambah yang dapat diperoleh. Inilah peluang yang harus dimanfaatkan Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga :  BRI KC Pancoran Turut Meriahkan HUT ke-130

Sementara itu, Sidik Darusulistyo mengingatkan bahwa keberhasilan industrialisasi nasional juga sangat bergantung pada ketahanan industri baja sebagai fondasi pembangunan. Hampir seluruh sektor strategis, mulai dari infrastruktur, konstruksi, energi, manufaktur, hingga otomotif, membutuhkan baja sebagai bahan baku utama.

Meski memiliki peran yang sangat vital, industri baja nasional saat ini menghadapi tantangan serius. Margin keuntungan industri yang hanya berkisar 5–7 persen, tingkat utilisasi pabrik yang masih sekitar 45–50 persen, serta tingginya arus baja impor menjadi tekanan besar bagi produsen dalam negeri.

Di sisi lain, industri baja global tengah mengalami kelebihan kapasitas produksi sekitar 700 juta ton, dengan sebagian besar berasal dari China. Kondisi tersebut menyebabkan harga baja dunia semakin kompetitif dan menekan industri baja nasional.

Akibat tekanan tersebut, sedikitnya delapan perusahaan baja nasional dilaporkan menghentikan operasinya dalam dua tahun terakhir. Situasi ini tidak hanya mengurangi kapasitas produksi nasional, tetapi juga berdampak terhadap hilangnya lapangan kerja dan melemahnya rantai pasok industri dalam negeri.

Karena itu, penguatan industri baja dinilai harus menjadi bagian dari strategi besar hilirisasi nasional melalui peningkatan efisiensi produksi, penyediaan energi yang kompetitif, pembangunan infrastruktur industri, perlindungan perdagangan yang sehat, penguasaan teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia.

Diskusi berlangsung dinamis dengan tingginya antusiasme peserta yang berasal dari kalangan pengusaha muda, anggota HIPMI, investor, hingga pelaku industri. Berbagai pertanyaan mengenai peluang investasi, pengembangan rantai pasok, transformasi industri, hingga tantangan hilirisasi menunjukkan besarnya perhatian dunia usaha terhadap agenda industrialisasi nasional.

Menutup sesi diskusi, moderator Rhesa Avila Zainal menegaskan bahwa Mining Nation Revolution tidak hanya menjadi forum berbagi gagasan, tetapi juga wadah membangun kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dunia usaha, akademisi, dan organisasi pengusaha untuk mempercepat terbentuknya ekosistem hilirisasi yang kuat dan berdaya saing.

Seminar ini sekaligus menegaskan bahwa masa depan hilirisasi Indonesia tidak berhenti pada pembangunan smelter atau pabrik pengolahan. Nilai tambah baru akan tercipta ketika seluruh rantai industri mampu berkembang secara terintegrasi, mulai dari sektor pertambangan, manufaktur, logistik, teknologi, hingga jasa pendukung. Dengan ekosistem yang kuat serta keterlibatan aktif pengusaha nasional, khususnya generasi muda, hilirisasi diyakini akan menjadi motor penggerak industrialisasi sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

Berita Terkait

AIMS Lanjutkan Transformasi Bisnis, Perkuat Fundamental dan Siapkan Sumber Pertumbuhan Baru
Kami Para Engineer PT GUT adalah Benteng Pertahanan Tak Terlihat demi Menjaga Urat Nadi Listrik Nusantara
Bukan Sekadar Penonton di Negeri Sendiri, Sebuah Perusahaan EPC 100% Lokal Kini Memimpin Revolusi Hijau dengan Mendobrak Dominasi Asing di Sektor Energi Strategis Nasional
BSI Siap Kolaborasi Dengan Pemerintah Kabupaten Tanggamus
Ditjen Hubla Perkuat Pengawasan Penggunaan Perairan, Cegah Potensi PNBP Negara Hilang
Mengenal PT Rama Indonesia, Pengendali Baru DPUM Bagian dari Unirama Group
Oxalá Energy International Tandatangani CSPA Akuisisi 75% Saham PT Aztech Pandu Persada, Perkuat Ekspansi di Sektor Energi
Ditjen Hubla Perkuat Penegakan Hukum Maritim melalui Diklat Manajemen PPNS 200 Jam

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 12:13 WIB

AIMS Lanjutkan Transformasi Bisnis, Perkuat Fundamental dan Siapkan Sumber Pertumbuhan Baru

Rabu, 16 September 2026 - 12:35 WIB

Kami Para Engineer PT GUT adalah Benteng Pertahanan Tak Terlihat demi Menjaga Urat Nadi Listrik Nusantara

Rabu, 16 September 2026 - 12:01 WIB

Bukan Sekadar Penonton di Negeri Sendiri, Sebuah Perusahaan EPC 100% Lokal Kini Memimpin Revolusi Hijau dengan Mendobrak Dominasi Asing di Sektor Energi Strategis Nasional

Selasa, 15 September 2026 - 19:13 WIB

BSI Siap Kolaborasi Dengan Pemerintah Kabupaten Tanggamus

Selasa, 15 September 2026 - 13:02 WIB

Ditjen Hubla Perkuat Pengawasan Penggunaan Perairan, Cegah Potensi PNBP Negara Hilang

Berita Terbaru