Jakarta, Suararealitas.co – PT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk (BDKR) membukukan laba bersih sebesar Rp25 miliar sepanjang tahun buku 2025, meningkat 65,7 persen dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya sebesar Rp15 miliar. Peningkatan tersebut diraih di tengah kondisi industri konstruksi yang masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global, dinamika geopolitik, serta melambatnya realisasi investasi.
Direktur BDKR, Tan Franciscus, mengatakan perseroan mampu menjaga kinerja dan meningkatkan profitabilitas melalui strategi selektivitas proyek, diversifikasi sumber pendapatan, efisiensi operasional, serta penguatan struktur keuangan perusahaan.
“Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, kami tetap berhasil memperoleh kontrak baru dan meningkatkan laba bersih melalui fokus pada kualitas proyek, disiplin eksekusi, serta pengelolaan risiko yang lebih baik,” ujar Tan Franciscus dalam Public Expose Tahunan Perseroan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BDKR merupakan perusahaan jasa konstruksi yang bergerak di bidang pondasi, geoteknik, marine works, dan konstruksi sipil yang melayani proyek-proyek infrastruktur, energi, industri, dan properti.
Sepanjang tahun 2025, perseroan membukukan perolehan kontrak baru (new contract) senilai Rp512 miliar. Perseroan menerapkan strategi yang lebih selektif dalam memilih proyek dengan margin yang lebih sehat dan profil risiko yang lebih terukur, sehingga tidak semata-mata berfokus pada pertumbuhan volume pekerjaan.
Strategi tersebut turut mendorong peningkatan kontribusi pendapatan dari pelanggan non-pemerintah. Jika pada 2024 kontribusinya sebesar 48 persen, maka pada 2025 meningkat menjadi 68 persen. Perseroan menilai diversifikasi pelanggan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas bisnis di tengah dinamika pasar.
Beberapa proyek yang dikerjakan BDKR sepanjang 2025 antara lain Terminal Kambhus 1D di Tanjung Priok, Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, Dermaga A Petrokimia Gresik, serta sejumlah proyek konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur lainnya.
Dari sisi keuangan, perseroan mencatat sejumlah perbaikan fundamental. Utang usaha turun sekitar 10 persen seiring meningkatnya efektivitas penagihan piutang, sementara total liabilitas berkurang sekitar 33 persen atau setara Rp148 miliar, terutama berasal dari penurunan utang bank dan kewajiban kepada pemasok.
Perseroan juga menerapkan disiplin investasi dengan mengoptimalkan aset yang dimiliki dan membatasi belanja modal secara selektif. Langkah tersebut berkontribusi terhadap penguatan struktur permodalan dan peningkatan kesehatan keuangan perusahaan.
Pada laporan laba rugi, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp405 miliar. Meski lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya akibat menurunnya nilai pekerjaan yang terealisasi, laba bruto meningkat menjadi Rp168 miliar. Menurut manajemen, penurunan pendapatan tersebut sejalan dengan strategi perusahaan yang lebih selektif dalam memilih proyek, dengan fokus pada kualitas margin dan pengelolaan risiko dibandingkan mengejar pertumbuhan volume semata.
Perbaikan profitabilitas tercermin dari kenaikan margin laba bersih menjadi 6,2 persen dari sebelumnya 3,1 persen. Selain itu, beban bunga turun sekitar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya seiring menurunnya kewajiban dan membaiknya struktur keuangan perusahaan.
Tan Franciscus menjelaskan bahwa tahun 2025 merupakan periode konsolidasi dan penguatan fundamental bagi perseroan. Berbagai langkah yang dilakukan berhasil menciptakan kondisi keuangan yang lebih sehat sekaligus meningkatkan fleksibilitas perusahaan dalam menangkap peluang pertumbuhan.
Dalam sesi tanya jawab Public Expose, Tan mengungkapkan bahwa BDKR akan terus menjalankan strategi diversifikasi bisnis untuk memperluas sumber pendapatan. Selain menggarap proyek infrastruktur, perseroan juga aktif membidik peluang di sektor minyak dan gas, properti, serta energi terbarukan.
Salah satu proyek energi terbarukan yang pernah dikerjakan perseroan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo. Ke depan, BDKR juga tengah menjajaki peluang pada proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan berbagai proyek energi hijau lainnya.
“Kami tidak hanya fokus pada proyek-proyek BUMN, tetapi juga memperluas penetrasi ke sektor swasta. Keunggulan kami adalah kemampuan untuk masuk ke berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, oil and gas, properti hingga renewable energy,” kata Tan.
Meski melakukan diversifikasi, perseroan tetap berfokus pada proyek-proyek konstruksi berskala besar yang sesuai dengan kompetensi utamanya, seperti pembangunan dermaga, jembatan, fasilitas industri, dan bangunan bertingkat.
Memasuki tahun 2026, BDKR melihat peluang pertumbuhan masih terbuka seiring berlanjutnya kebutuhan pembangunan infrastruktur dan pengembangan sektor industri nasional. Perseroan juga mencermati potensi pertumbuhan pada sektor maritim, industri, dan energi terbarukan, serta mulai bergeraknya sejumlah proyek yang sebelumnya tertunda menuju tahap realisasi.
Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, perseroan menyiapkan strategi yang bertumpu pada empat pilar utama, yakni pertumbuhan, efisiensi, profitabilitas, dan penguatan keuangan. Fokus utama perusahaan adalah meningkatkan perolehan kontrak baru pada sektor inti, mengoptimalkan utilisasi aset dan sumber daya, menjaga kualitas proyek melalui pengelolaan risiko yang ketat, serta mempertahankan struktur permodalan dan likuiditas yang sehat.
Dengan struktur keuangan yang lebih kuat, tingkat utang yang lebih rendah, serta pipeline proyek yang terus berkembang, manajemen optimistis BDKR dapat mempertahankan pertumbuhan kinerja dan memanfaatkan peluang bisnis yang tersedia pada 2026 meski tantangan ekonomi global masih membayangi sektor konstruksi.




































