BANYUWANGI, Suararealitas.co -Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kini memiliki Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang diarahkan sebagai kawasan tematik hilirisasi berbasis wisata kuliner. Adalah KNMP Lateng di Banyuwangi yang merupakan proyek KNMP tahap pertama yang telah rampung 100 persen.
KNMP tematik di Lateng ini tidak hanya menjadi pusat aktivitas nelayan, tetapi juga dikembangkan sebagai sentra pengolahan hasil perikanan tangkap untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat ekonomi pesisir.
Selain itu, KNMP Lateng juga memiliki daya tarik dari sisi arsitektur. Enam bangunan utama berdiri dengan mengadopsi gaya rumah adat Suku Osing serta ornamen batik Gajah Oling, memadukan unsur modern dan kearifan lokal Banyuwangi. Konsep ini sekaligus memperkuat posisi kawasan sebagai destinasi wisata kuliner berbasis hasil laut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan bahwa konsep KNMP Lateng berbeda dengan kampung nelayan lainnya. Jika di sejumlah daerah pembangunan difokuskan pada penguatan sarana produksi, maka di Banyuwangi pendekatan yang diambil adalah hilirisasi langsung.
“Di beberapa wilayah lain lebih ke arah produksi dan sarana prasarana produksi. Tetapi di sini tematik hilirnya. Jadi hilirisasi langsung, hasil tangkapan nelayan dibawa ke sini untuk diolah menjadi produk kuliner. Ini menggerakkan ekonomi di level bawah karena ada kombinasi antara produksi dan kuliner,” kata Menteri Trenggono saat meninjau lokasi, Selasa (3/3).
Menteri Trengggono menjelaskan, model tematik seperti ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang saling terhubung, mulai dari nelayan sebagai produsen hingga pelaku usaha kuliner sebagai pengolah dan pemasar. Pemerintah akan melakukan evaluasi dalam dua tahun ke depan untuk mengukur dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi lokal serta peningkatan kesejahteraan nelayan.
“Nanti kita lihat pertumbuhan ekonomi dengan hadirnya kampung nelayan tematik kuliner ini seperti apa. Dampaknya kepada nelayan juga akan kita hitung,” katanya.
Untuk mendukung operasional nelayan, pemerintah memastikan ketersediaan fasilitas penunjang seperti pabrik es serta pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN). Menurut Menteri Trenggono, pembangunan SPBN akan dilakukan melalui koordinasi dengan Pertamina dan instansi terkait guna menjamin kuota bahan bakar bagi nelayan.
“SPBN tidak hanya di Banyuwangi, tetapi akan kita instal di seluruh KNMP. Kita sudah bicara dengan Pertamina dan pihak terkait untuk alokasi kuotanya,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga membuka peluang bantuan kapal bagi nelayan yang membutuhkan, sesuai dengan pendataan di lapangan. Pengelolaan kawasan kuliner nantinya akan melibatkan koperasi yang dibina pemerintah daerah agar manfaat ekonomi dapat dikelola secara kolektif dan berkelanjutan.
Di kawasan tersebut terdapat 20 kios yang diisi pelaku usaha lokal. Salah satunya, Ramli, pemilik Kios 2, mengaku penataan kawasan yang lebih tertib membuat aktivitas usaha menjadi lebih teratur.
“Biasanya ramai pada malam hari. Pendapatan sehari sekitar Rp200 ribu sampai Rp250 ribu. Harapannya ke depan retribusi tidak memberatkan,” katanya.
Dengan konsep hilirisasi tematik ini, pemerintah optimistis KNMP Lateng mampu menjadi model pembangunan pesisir yang tidak hanya memperkuat sektor produksi perikanan, tetapi juga menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis kuliner dan pariwisata yang berdampak langsung pada kesejahteraan nelayan dan keluarganya.


































