Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Iklan
Iklan

Pasang Iklan Hubungi Admin

Baca berita tanpa iklan. Gabung Suara Realitas

Suara Realitas Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Suara Realitas Masuk
S+
Tranding
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Suara Realitas. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTBulan Ramadhan || Aceng Syamsul Hadie: Bulan Revolusi Moral Umat Komentar: 0

Bulan Ramadhan || Aceng Syamsul Hadie: Bulan Revolusi Moral Umat 

Suara Realitas, 12 Maret 2026, 00:14 WIB · 3 menit bacaBaca di App
Huruf

MAJALENGKA, Suararealitas.co – Ramadhan sering dipahami sebagai bulan ibadah yang penuh dengan ritual spiritual: puasa, shalat tarawih, tadarus, dan berbagai bentuk amal kebajikan lainnya. Namun jika dipahami secara lebih mendalam, Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah sekolah moral yang dirancang untuk melahirkan manusia yang berintegritas, jujur, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi.

“Bulan Ramadhan merupakan bulan revolusi umat, atau sebagai sekolah tempat kaderisasi yang dirancang untuk melahirkan manusia yang berintegritas, jujur, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi”, ungkap Aceng Syamsul Hadie,Sos., MM selaku Ketua Umum Yayasan Daarurrahman Cigayam Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka.

Aceng menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan untuk mengendalikan hawa nafsu, menundukkan ego, dan membangun kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral di hadapan Allah dan sesama manusia. Prinsip ini ditegaskan dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa tujuan utama puasa adalah agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa bukan hanya soal ibadah pribadi, tetapi juga menyangkut integritas moral dalam kehidupan sosial.

Ironisnya, di tengah masyarakat modern yang semakin religius secara simbolik, kita justru menyaksikan berbagai krisis moral yang serius. Korupsi, manipulasi kekuasaan, ketimpangan ekonomi, dan berbagai bentuk ketidakadilan sosial masih menjadi masalah besar di banyak negara, termasuk di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya Muslim.

Baca Juga :  Pembina Setya Kita Pancasila Irjen. Pol Purn Anton Charlian Mengambil Sumpah Pengangkatan Ketua Srikandi Jawa Barat

“Fenomena ini menunjukkan bahwa agama sering kali berhenti pada level simbol dan ritual, tanpa benar-benar menembus wilayah etika dan moralitas publik. Ramadhan dirayakan dengan meriah, masjid penuh dengan jamaah, tetapi setelah bulan suci berakhir, praktik ketidakjujuran dan penyalahgunaan kekuasaan kembali terjadi”, tambahnya.

Di sinilah relevansi gagasan revolusi moral umat menjadi sangat penting. Aceng menerangkan, Puasa sebagai latihan integritas, dimana puasa mengajarkan manusia untuk berkata “tidak” terhadap keinginan dirinya sendiri. Selama berjam-jam seseorang menahan diri dari makan, minum, dan berbagai kenikmatan duniawi, bukan karena tidak mampu, tetapi karena kesadaran spiritual bahwa Allah selalu mengawasi.

Latihan ini sebenarnya merupakan pendidikan integritas yang sangat kuat. Seseorang yang mampu menahan diri dari sesuatu yang halal pada waktu tertentu, seharusnya lebih mampu menjauhi hal-hal yang jelas haram seperti korupsi, penipuan, dan penyalahgunaan kekuasaan.

“Dengan kata lain, puasa melatih manusia untuk membangun moralitas yang tidak bergantung pada pengawasan manusia, tetapi pada kesadaran batin bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi di hadapan Tuhan”, paparnya.

Acengpun mengingatkan bahwa Ramadhan juga mengajarkan pentingnya solidaritas sosial. Rasa lapar yang dialami selama berpuasa seharusnya menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan.

Baca Juga :  Proyek APBD Rp5,5 Miliar di Pademangan Timur Jadi Sorotan, Puing Berserakan dan K3 Dipertanyakan

Karena itu, Islam menempatkan zakat, infak, dan sedekah sebagai bagian penting dari ibadah Ramadhan. Melalui mekanisme ini, agama tidak hanya membentuk kesalehan pribadi, tetapi juga mendorong lahirnya keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan.

Jika nilai ini benar-benar dipraktikkan, Ramadhan dapat menjadi kekuatan moral yang mendorong perubahan sosial yang nyata.

“Sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar selalu dibangun di atas fondasi moral yang kuat. Tanpa integritas, kekuasaan akan berubah menjadi tirani, kekayaan akan berubah menjadi eksploitasi, dan ilmu pengetahuan akan kehilangan arah kemanusiaannya. Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi kolektif: apakah ibadah yang kita lakukan benar-benar mampu membentuk karakter yang lebih jujur, adil, dan bertanggung jawab”, tandasnya.

Jika Ramadhan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan perilaku, maka esensi puasa belum sepenuhnya tercapai. Tetapi jika Ramadhan mampu melahirkan manusia yang lebih berintegritas, berani menegakkan keadilan, dan peduli terhadap sesama, maka di situlah revolusi moral umat benar-benar dimulai.

“Pada akhirnya, kemenangan Ramadhan tidak hanya ditandai oleh berakhirnya puasa, tetapi oleh lahirnya manusia-manusia baru yang menjadikan nilai moral sebagai fondasi kehidupan pribadi, sosial, dan peradaban”, pungkasnya.[]

Lihat Megapolitan Selengkapnya→
Memuat berita berikutnya…
Artikel Terkait Megapolitan
Berita AktualKanal lain
NasionalKanal lain