Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP ala Trump, Indonesia Jangan Jadi Kaki Tangan Blok Geopolitik Barat

- Jurnalis

Senin, 2 Maret 2026 - 12:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Suararealitas.co – Jika benar dinamika terbaru menunjukkan satu blok yang solid antara Amerika Serikat dan Israel dalam apa yang disebut sebagai Board of Peace (BoP), maka publik Indonesia wajib bertanya secara jujur: apakah ini forum perdamaian, atau instrumen konsolidasi kekuatan Barat di Timur Tengah?

Nama boleh “Board of Peace”, tetapi fakta geopolitik tidak bisa ditutupi oleh retorika. Ketika satu blok negara secara terbuka melakukan tekanan militer dan politik terhadap Iran, lalu dalam waktu yang sama membangun forum “perdamaian” yang dikendalikan oleh kekuatan yang sama, maka kita patut curiga: perdamaian versi siapa? Perdamaian untuk siapa?

“Segera keluar dari BoP ala Trump, Indonesia jangan jadi kaki tangan Blok Geopolitik Barat, ingat, jangan sampai tercatat dalam sejarah dunia bahwa Indonesia berada di barisan kelompok perusak perdamaian yang melakukan genosida secara sistematik dan masif”, ungkap Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM. selaku Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Indonesia adalah negara dengan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Bebas berarti tidak tunduk pada blok mana pun. Aktif berarti memperjuangkan keadilan global, khususnya bagi Palestina. Jika BoP dalam praktiknya justru memperkuat hegemoni Barat dan memarginalkan suara dunia Islam, maka keikutsertaan Indonesia bukan lagi strategi diplomasi — melainkan kompromi geopolitik yang berbahaya.

Baca Juga :  Laboratorium Sosial: Pemolisian Berbasis Riset dan Keilmuan

Aceng mengingatkan, Kita tidak boleh naif. Dalam teori hubungan internasional klasik, balance of power sering kali bukan alat stabilitas, melainkan mekanisme kontrol kekuatan besar terhadap kawasan yang dianggap strategis. Timur Tengah adalah pusat energi dunia. Siapa mengendalikan narasi perdamaian di sana, dialah yang mengendalikan arsitektur kekuasaan regional.

Pertanyaannya sederhana:

Apakah Indonesia ingin tercatat sebagai penyeimbang yang independen, atau sebagai pelengkap legitimasi kebijakan Barat?

“Masuk ke dalam forum yang didominasi blok tertentu tanpa daya tawar yang kuat hanya akan membuat Indonesia menjadi simbol kehadiran dunia Muslim — tetapi tanpa pengaruh nyata. Lebih buruk lagi, Indonesia bisa dipersepsikan oleh publik dunia Islam sebagai bagian dari desain geopolitik yang merugikan mereka”, paparnya.

Aceng menggaris bawahi bahwa ini bukan soal anti-Barat. Ini soal konsistensi prinsip. Indonesia selama puluhan tahun berdiri di garis moral pembela Palestina. Jika kini kita duduk dalam struktur yang beririsan dengan kepentingan strategis Israel dan sekutunya, maka kredibilitas itu dipertaruhkan.

Baca Juga :  Menghitung Hari Waduk Saguling: Alarm Kritis dari Beban Polusi dan Ancaman Eutrofikasi

“Presiden harus membaca momentum sejarah dengan tajam. Dunia sedang menyaksikan polarisasi yang makin terbuka. Dalam situasi seperti ini, setengah langkah adalah risiko besar. Jika BoP tidak benar-benar netral, tidak transparan, dan tidak mencerminkan keadilan bagi Palestina serta stabilitas kawasan secara seimbang, maka pilihan paling bermartabat adalah keluar”, tegasnya.

Menurut Aceng, Indonesia tidak kekurangan panggung diplomasi. Kita bisa memperkuat poros negara-negara non-blok, mempererat koordinasi melalui Organisasi Kerja Sama Islam, atau membangun forum alternatif yang lebih representatif.

Kedaulatan bukan hanya soal wilayah, tetapi juga soal posisi politik. Dan posisi politik tidak boleh digadaikan demi duduk di meja yang tidak kita kendalikan.

“Jika BoP adalah instrumen hegemoni, maka Indonesia harus berani berkata tidak. Lebih baik berdiri tegak di luar, daripada duduk di dalam tetapi menjadi pelengkap legitimasi kepentingan orang lain”, pungkasnya.

 

 

Penulis : ASH

Editor : Eka

Berita Terkait

Ketika Media Tak Lagi Independen: Dampak Tekanan Ekonomi Terhadap Jurnalisme
Menghitung Hari Waduk Saguling: Alarm Kritis dari Beban Polusi dan Ancaman Eutrofikasi
Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP (Board of Peace) Sekarang, Jangan Biarkan Indonesia Dijadikan Alat Legitimasi Penjajahan
Rumiah Kartoredjo: Jejak Emas Atlet Nasional yang Jadi Kapolda Perempuan Pertama di Indonesia
Zakat sebagai Instrumen Politik Umat
Kecaman Ajakan Meninggalkan Zakat || Aceng Syamsul Hadie: Lebih Baik Nasaruddin Umar Mundur, Rakyat Sudah Muak dan Tidak Percaya.
Mendengar Kisah Suka-Duka Wartawan Era 80–90-an: Ketika Idealisme Menjadi Nafas Profesi
Laboratorium Sosial: Pemolisian Berbasis Riset dan Keilmuan

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:31 WIB

Ketika Media Tak Lagi Independen: Dampak Tekanan Ekonomi Terhadap Jurnalisme

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:48 WIB

Menghitung Hari Waduk Saguling: Alarm Kritis dari Beban Polusi dan Ancaman Eutrofikasi

Senin, 9 Maret 2026 - 21:13 WIB

Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP (Board of Peace) Sekarang, Jangan Biarkan Indonesia Dijadikan Alat Legitimasi Penjajahan

Sabtu, 7 Maret 2026 - 19:45 WIB

Rumiah Kartoredjo: Jejak Emas Atlet Nasional yang Jadi Kapolda Perempuan Pertama di Indonesia

Jumat, 6 Maret 2026 - 23:12 WIB

Zakat sebagai Instrumen Politik Umat

Berita Terbaru

Berita Aktual

Wartawan Online Sambangi Lurah Sunter Agung di Ruang Kerjanya

Rabu, 24 Jun 2026 - 08:50 WIB