JAKARTA, Suararealitas.co — Kawasan KUNCI Bersama kembali menegaskan komitmennya membangun kolaborasi lintas daerah sebagai fondasi mempercepat pertumbuhan ekonomi, memperkuat investasi, dan meningkatkan daya saing kawasan perbatasan Jawa Barat–Jawa Tengah. Komitmen tersebut mengemuka dalam KUNCI BERSAMA Summit 2026 yang mengusung tema “Dorong Sinergi Lintas Batas untuk Perkuat Investasi dan Kemajuan Kawasan Perbatasan Jawa Barat–Jawa Tengah.”
Forum strategis ini mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pelaku usaha, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk menyelaraskan langkah pembangunan kawasan berbasis kolaborasi, konektivitas, dan investasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., mengatakan bahwa kerja sama antardaerah yang tergabung dalam kawasan KUNCI Bersama bukanlah sesuatu yang baru. Menurutnya, sinergi tersebut telah terbangun selama bertahun-tahun dan kini semakin diperkuat melalui dukungan pemerintah pusat.
“Ikatan kebersamaan kami sudah terjalin begitu lama. Dengan berbagai potensi yang dimiliki serta dorongan dari pemerintah pusat, kami optimistis kawasan ini akan semakin berkembang dan menjadi salah satu alternatif tujuan investasi maupun wisata di Indonesia,” ujar Dian.
Ia menjelaskan, hasil pertemuan KUNCI BERSAMA Summit 2026 akan segera ditindaklanjuti melalui sejumlah program kolaborasi yang melibatkan seluruh pemerintah daerah di kawasan tersebut.
Salah satu agenda utama adalah memperkuat kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam penyediaan pasokan pangan. Melalui sinergi tersebut, kawasan KUNCI Bersama diharapkan mampu menjadi salah satu lumbung pasokan hasil pertanian, peternakan, dan perikanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani dan nelayan.
Selain itu, pemerintah daerah juga akan mengoptimalkan pemanfaatan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai gerbang konektivitas kawasan. Dian menilai keberadaan bandara tersebut memiliki posisi yang sangat strategis untuk mendukung mobilitas masyarakat, distribusi logistik, perdagangan, hingga pengembangan investasi.
Menurutnya, seluruh pemerintah daerah yang tergabung dalam KUNCI Bersama telah memiliki komitmen yang sama untuk memperkenalkan berbagai potensi unggulan kawasan kepada investor, mulai dari sektor manufaktur, industri pengolahan, ketahanan pangan, pertanian modern, ekonomi kreatif, hingga ekowisata.
“Kami ingin membuka mata para investor bahwa kawasan kami memiliki potensi yang sangat besar, mulai dari sektor manufaktur, ketahanan pangan, pertanian, hingga ekowisata. Kami berharap semakin banyak investasi yang masuk sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Untuk menciptakan iklim investasi yang kompetitif, seluruh pemerintah daerah juga bersepakat memberikan kemudahan berusaha melalui penyederhanaan proses perizinan, percepatan pelayanan publik, serta kepastian hukum bagi para investor.
“Kami sudah sepakat memberikan karpet merah kepada para investor. Kemudahan investasi dan penyederhanaan prosedur menjadi komitmen bersama. Seluruh kabupaten dan kota juga telah memiliki kepastian tata ruang melalui RTRW yang jelas sehingga memberikan kepastian bagi dunia usaha,” jelasnya.
Dian menambahkan bahwa kawasan KUNCI Bersama memiliki keunggulan kompetitif berupa biaya tenaga kerja yang relatif lebih efisien dibandingkan kawasan metropolitan, namun tetap didukung sumber daya manusia yang berkualitas serta posisi geografis yang strategis sebagai penghubung Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Ia optimistis seluruh potensi tersebut akan menjadi modal penting dalam menarik investasi baru, menciptakan lapangan kerja, serta mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah perbatasan.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa pembangunan kawasan perbatasan harus dilakukan melalui pendekatan yang terintegrasi, tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Menurut AHY, kawasan-kawasan yang tergabung dalam KUNCI Bersama memiliki peluang besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru apabila mampu membangun sinergi lintas wilayah melalui penguatan infrastruktur, logistik, industri, investasi, dan pelayanan publik.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan harus tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Pengembangan kawasan tidak boleh mengabaikan daya dukung lingkungan, termasuk menjaga kawasan resapan air agar risiko bencana akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan.
Dalam paparannya, AHY juga memperkenalkan konsep urban agglomeration, yakni pembangunan sejumlah pusat pertumbuhan yang saling terhubung melalui jaringan infrastruktur, logistik, perdagangan, dan industri. Menurutnya, setiap daerah tidak perlu memiliki fungsi yang sama, tetapi harus mengembangkan keunggulan masing-masing sehingga tercipta ekosistem ekonomi yang saling melengkapi.
Untuk mendukung strategi tersebut, pemerintah akan memperkuat sistem dual logistics gateway melalui optimalisasi pelabuhan dan bandar udara, termasuk pemanfaatan BIJB Kertajati sebagai salah satu simpul logistik dan investasi di Jawa Barat.
AHY juga mendorong pengembangan industri strategis nasional, termasuk sektor dirgantara melalui penguatan fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) serta pengembangan pesawat N219 yang memiliki potensi besar untuk melayani wilayah kepulauan Indonesia sekaligus pasar ekspor.
Menutup paparannya, AHY mengajak seluruh pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi sebagai fondasi utama pembangunan.
“Kita harus membangun bersama. Dengan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, saya yakin kawasan perbatasan Jawa Barat–Jawa Tengah dapat tumbuh menjadi pusat ekonomi baru yang maju, berdaya saing, dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” pungkasnya.




































