BPOM dan Universitas Pancasila Dorong Digitalisasi Industri Farmasi Lewat Seminar Nasional

- Jurnalis

Sabtu, 13 Desember 2025 - 12:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Suararealitas.co — Badan Kebijakan dan Inovasi Teknologi Ikatan Apoteker Indonesia (Badiklit IAI) bekerja sama dengan Universitas Pancasila menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Digitalisasi dan Inovasi Bisnis Farmasi: Strategi Industri Farmasi yang Kompetitif dan Adaptif di Era Digital”, Sabtu (13/12/2025).

Seminar nasional tersebut dirangkaikan dengan peresmian gedung baru Fakultas Farmasi Universitas Pancasila sekaligus fasilitas industri farmasi terpadu, yang menjadi tonggak penting penguatan ekosistem pendidikan, riset, dan industri farmasi berbasis kampus.

Peresmian yang digelar di lingkungan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila itu dihadiri langsung oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Ir. Taruna Ikrar, Rektor Universitas Pancasila, Prof. Dr. Adnan Hamid, serta Dekan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Prof. Dr. Syamsudin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Usai peresmian, kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Nasional , dimana seminar ini menjadi forum strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi industri, regulator, serta profesional farmasi untuk membahas peran transformasi digital dalam memperkuat daya saing industri farmasi nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Rektor Universitas Pancasila, Prof. Adnan Hamid, dalam sambutannya menegaskan komitmen Universitas Pancasila untuk terus berperan aktif dalam pengembangan sumber daya manusia unggul serta penguatan ekosistem riset dan inovasi farmasi yang adaptif terhadap kemajuan teknologi.

“Universitas Pancasila berkomitmen menjadi pusat pengembangan inovasi farmasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri dan kebijakan nasional. Melalui kolaborasi dengan Badiklit IAI, kami ingin mendorong lahirnya solusi-solusi konkret bagi tantangan industri farmasi Indonesia,” ujar Prof. Adnan Hamid.

Baca Juga :  Gercep: Pemkab Kabupaten Tangerang Rehab SD Gedung Dalem Yang Roboh

Dalam sesi diskusi, para narasumber menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital, penguatan riset dan inovasi, serta integrasi sistem produksi dan distribusi obat guna meningkatkan efisiensi, mutu, dan ketahanan industri farmasi nasional. Digitalisasi dinilai tidak lagi sekadar sebagai alat pendukung, melainkan telah menjadi fondasi utama dalam pengembangan bisnis farmasi modern.

Seminar ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah (ABG) sebagai kunci percepatan hilirisasi riset, peningkatan kemandirian bahan baku obat, serta perluasan akses pasar bagi produk farmasi dalam negeri.

Sebagai keynote speaker, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Taruna Ikrar, menyampaikan apresiasi atas langkah Universitas Pancasila dalam membangun Pancasila Pharmaceutical Industry (PPI) yang terintegrasi langsung dengan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila.

Menurut Prof. Taruna, kehadiran PPI merupakan langkah strategis dalam memperkuat jembatan antara riset akademik dan kebutuhan industri farmasi nasional.

“Akademia adalah pilar utama inovasi, riset, dan transfer teknologi. Dunia usaha berperan mengembangkan inovasi menjadi produk bernilai ekonomi, sementara pemerintah hadir melalui regulasi, sertifikasi, dan pembinaan. Kolaborasi ini harus berjalan seimbang dan berkelanjutan,” tegas Prof. Taruna

Ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini sekitar 94 persen bahan baku obat nasional masih bergantung pada impor, meskipun Indonesia memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar. Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia memiliki lebih dari 30 ribu jenis tumbuhan berpotensi obat, namun yang telah dikembangkan menjadi obat herbal terstandar masih sangat terbatas.

Baca Juga :  Musda XII HDII Jakarta Dorong Penguatan Talenta dan Ekosistem Desain Interior

“Saat ini terdapat sekitar 18.600 produk terdaftar, tetapi obat herbal terstandar baru sekitar 72. Padahal nilai pasar jamu dan obat herbal nasional mencapai Rp350 triliun. Ini merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan industri farmasi dalam negeri,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Taruna juga memaparkan arah transformasi BPOM yang kini tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat dan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Ia menyebut sektor obat dan makanan yang berada di bawah pengawasan BPOM memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Untuk mendukung transformasi tersebut, BPOM terus melakukan percepatan proses sertifikasi dan registrasi produk, transformasi digital berbasis artificial intelligence, peningkatan reputasi internasional melalui pengakuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta aktif mendorong masuknya investasi asing di sektor obat dan makanan.

“BPOM ingin menjadi bagian dari penggerak ekonomi nasional. Percepatan perizinan akan meningkatkan efisiensi industri, sementara kepercayaan global akan mendorong investasi masuk ke Indonesia,” pungkas Prof. Taruna Ikrar.

Seminar nasional ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, apoteker, pelaku industri farmasi, hingga mahasiswa. Kegiatan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis untuk memperkuat industri farmasi nasional yang berkelanjutan, kompetitif, dan adaptif di era digital.

Berita Terkait

Modeling Budi Daya KKP Suplai Kebutuhan Lobster untuk Imlek di Batam
Kunjungi Brigif 18/Trisula, Menko Polkam Tekankan Profesionalisme Prajurit dan Cinta Tanah Air
Produk Perikanan Indonesia Makin Bernilai di Pasar Internasional
Pandeglang Raih Penghargaan Nasional atas Penguatan Tata Kelola dan Pembangunan Desa
Rakernas APDESI 2026, Kades Sumberkola Soroti Ketahanan Pangan Desa
H. Junaedi Dilantik di Rakernas APDESI, Siapkan Arah Pembangunan Desa
Kades Wonoasri Soroti Peran Koperasi dan Pertanian dalam Rakernas APDESI
Kepala Desa Sumbon Hadiri Rakernas APDESI, Dorong Sinergi Pembangunan Desa Menuju Indonesia Emas 2045

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:56 WIB

Modeling Budi Daya KKP Suplai Kebutuhan Lobster untuk Imlek di Batam

Selasa, 17 Februari 2026 - 14:44 WIB

Kunjungi Brigif 18/Trisula, Menko Polkam Tekankan Profesionalisme Prajurit dan Cinta Tanah Air

Senin, 16 Februari 2026 - 17:51 WIB

Produk Perikanan Indonesia Makin Bernilai di Pasar Internasional

Senin, 16 Februari 2026 - 14:36 WIB

Pandeglang Raih Penghargaan Nasional atas Penguatan Tata Kelola dan Pembangunan Desa

Senin, 16 Februari 2026 - 13:52 WIB

Rakernas APDESI 2026, Kades Sumberkola Soroti Ketahanan Pangan Desa

Berita Terbaru