Jakarta, suararealitas.co – Penelusuran lapangan terhadap peredaran obat-obatan keras di wilayah Jakarta menunjukkan fakta mengejutkan. Hampir seluruh titik penjualan ilegal yang sebelumnya beroperasi kini disebut telah tutup. Namun satu lokasi di kawasan Grogol, Jakarta Barat, justru masih berani beroperasi, memicu kecurigaan kuat adanya dugaan perlindungan atau bekingan tertentu.
Sumber investigatif menyebutkan bahwa toko tersebut tetap menjual obat keras seperti G Heximer dan Tramadol meskipun wilayah lain sudah berhenti setelah tekanan dari aparat dan pemerintah.
“Seluruh Jakarta yang kami cek sudah tutup. Tapi di Grogol ini masih jalan terus. Aneh sekali. Patut diduga ada yang membekingi,” ujar salah satu sumber yang ikut melakukan penyelidikan lapangan.
Keberanian toko tersebut berjualan secara terang-terangan di sekitar Terminal Grogol membuat masyarakat semakin resah. Apalagi lokasi tersebut disebut melibatkan seorang pemuda asal Aceh(Rio) yang baru mulai beroperasi pada Oktober lalu, bekerja di bawah seseorang yang dikenal dengan panggilan “Bang Wan.”
Pengamat keamanan menilai bahwa pola ini sering terjadi pada jaringan penjualan obat terlarang. Bila satu lokasi tetap bertahan sementara titik lain tutup, biasanya terdapat dugaan adanya perlindungan dari oknum tertentu atau kesengajaan menutup mata terhadap aktivitas ilegal.
Warga meminta aparat penegak hukum bertindak cepat dan tegas, serta memeriksa kemungkinan adanya pihak-pihak yang diduga memberikan perlindungan.
“Ini bukan sekadar pelanggaran kecil. Ini sudah mengancam masa depan anak-anak muda kita. Kalau yang lain saja bisa ditutup, kenapa di sini tidak?” kata seorang warga.
Kasus ini dinilai perlu mendapat perhatian serius dari kepolisian dan pemerintah daerah untuk memastikan tidak ada praktik pembiaran, serta untuk menutup celah peredaran obat berbahaya di Jakarta.



































