Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Iklan
Iklan

Pasang Iklan Hubungi Admin

Baca berita tanpa iklan. Gabung Suara Realitas

Suara Realitas Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Suara Realitas Masuk
S+
Tranding
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Suara Realitas. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTSampah Jakarta Capai 9.000 Ton per Hari, Pramono Siapkan Pembangunan 3 PLTSaKomentar: 0
Berita Jakarta Analisis

Sampah Jakarta Capai 9.000 Ton per Hari, Pramono Siapkan Pembangunan 3 PLTSa

Suara Realitas, 4 November 2026, 16:12 WIB · 4 menit bacaBaca di App
Huruf
ILUSTRASI - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyiapkan pembangunan dua hingga tiga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk mengatasi produksi sampah Jakarta yang mencapai 9.000 ton per hari. (Foto: Istimewa).

JAKARTA, suararealitas.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan pembangunan dua hingga tiga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk mengatasi persoalan sampah di Ibu Kota.

Rencana ini menjadi salah satu strategi pemerintah dalam menangani produksi sampah Jakarta yang mencapai sekitar 9.000 ton per hari.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut persoalan sampah sebagai pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan.

Ia menilai Jakarta membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi agar mampu mengimbangi besarnya volume sampah setiap hari.

Pramono menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pertemuan ke-46 Komite Eksekutif CityNet di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

“Tadi juga disampaikan oleh Bapak Menteri bahwa salah satu hal yang menjadi PR buat Jakarta yang mudah-mudahan di era ini segera bisa diselesaikan adalah persoalan sampah,” kata Pramono.

Pramono Targetkan Pembangunan 2-3 PLTSa

Pramono mengatakan, Pemprov DKI Jakarta tengah menyiapkan pembangunan dua hingga tiga fasilitas PLTSa.

Pemerintah mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 109 sebagai landasan percepatan pengolahan sampah menjadi energi.

Ia berharap pembangunan fasilitas tersebut dapat segera dimulai dalam waktu dekat.

“Mudah-mudahan di Jakarta akan ada dua pembangkit listrik tenaga sampah atau tiga yang segera dibangun dalam waktu dekat ini,” ujarnya.

Menurut Pramono, dua hingga tiga fasilitas PLTSa tersebut diperkirakan membutuhkan pasokan sampah sekitar 7.000 ton per hari.

Jumlah itu diharapkan mampu mengurangi beban pengelolaan sampah yang selama ini mengandalkan pengangkutan dan pembuangan ke tempat pemrosesan akhir.

Dengan produksi sampah mencapai 9.000 ton per hari, kapasitas pengolahan tersebut diharapkan dapat membantu menyeimbangkan neraca sampah Jakarta.

“Kalau itu dilakukan, maka neraca sampah di Jakarta juga akan menjadi balance karena dua atau tiga tadi membutuhkan kurang-lebih 7.000 ton,” jelasnya.

Baca Juga :  Telah Hadir! Kantor Cabang Barqun Center di Yogyakarta: Semoga Jaringan Makin Meluas

Meski demikian, pembangunan PLTSa belum akan menangani seluruh timbulan sampah di Ibu Kota. Pemerintah masih harus mengelola sekitar 2.000 ton sampah per hari melalui skema pengolahan lainnya.

RDF Rorotan dan Pemilahan Sampah Terus Dioptimalkan

Selain menyiapkan pembangunan PLTSa, Pemprov DKI Jakarta juga mengoptimalkan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan.

Fasilitas ini mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi industri tertentu.

Pengembangan RDF menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Pemprov DKI juga mendorong masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. Program ini menyasar lingkungan rumah tangga, perkantoran, kawasan komersial, hingga fasilitas publik.

Pemerintah menggalakkan prinsip 3R, yakni reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang).

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan material yang masih bernilai guna.

Pramono menegaskan, pembangunan PLTSa harus berjalan beriringan dengan optimalisasi RDF dan program pemilahan sampah.

“Kemudian kita masih ada RDF Rorotan dan beberapa kegiatan pilah sampah dan juga TPR 3S yang sedang kita galakkan dan mudah-mudahan ini persoalan sampah di Jakarta segera bisa diselesaikan,” tuturnya.

Pembangunan PLTSa Jakarta Menghadapi Sejumlah Tantangan

Rencana pembangunan dua hingga tiga PLTSa menandai upaya Pemprov DKI mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya bertumpu pada pengumpulan dan pembuangan.

Melalui teknologi pengolahan menjadi energi, pemerintah berharap sampah dapat memberikan nilai tambah sekaligus mengurangi beban tempat pemrosesan akhir.

Namun, pembangunan fasilitas tersebut membutuhkan sejumlah persiapan. Pemerintah harus memastikan ketersediaan pasokan sampah, kepastian pembiayaan, kesiapan lahan, serta infrastruktur pendukung.

Baca Juga :  Lahan Aset Fasum di Sunter Jaya Terbengkalai, Warga Harapkan Dibangun Taman dan Dibukakan Akses Jalan

Pengendalian emisi juga menjadi aspek penting. Setiap fasilitas harus memenuhi standar lingkungan dan menjalankan pengawasan operasional secara ketat agar proses pengolahan tidak menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat maupun lingkungan sekitar.

Selain itu, pemerintah perlu memperhatikan karakteristik sampah yang akan diolah. Sampah organik, anorganik, dan residu memiliki sifat berbeda sehingga membutuhkan metode penanganan yang sesuai.

Kondisi tersebut membuat pemilahan sampah dari sumbernya tetap menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan sampah Jakarta.

Pengurangan Sampah dari Sumber Jadi Kunci

Dengan produksi mencapai 9.000 ton per hari, Jakarta membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Pembangunan fasilitas pengolahan berskala besar memang dapat membantu mengurangi volume sampah.

Namun, upaya tersebut perlu disertai pengurangan sampah sejak dari sumbernya agar beban pengelolaan tidak terus meningkat.

Masyarakat dapat mengambil bagian melalui kebiasaan sederhana, seperti mengurangi penggunaan produk sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta memilah sampah untuk didaur ulang.

Sementara itu, Pemprov DKI perlu memastikan fasilitas PLTSa dan RDF beroperasi sesuai kapasitas serta memenuhi ketentuan lingkungan.

Pramono berharap pembangunan PLTSa, optimalisasi RDF Rorotan, dan penguatan program 3R dapat membentuk sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.

Berbagai langkah tersebut diharapkan mampu memperbaiki neraca sampah Jakarta sekaligus mengurangi tekanan terhadap tempat pemrosesan akhir.

Pada akhirnya, tantangan pengelolaan sampah Jakarta bukan hanya mengangkut dan membuang 9.000 ton sampah setiap hari.

Pemerintah juga harus memastikan sampah dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat tanpa mengabaikan kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.(Kipray)

Baca tentangBerita Jakarta
Lihat Pemerintahan Selengkapnya→
Memuat berita berikutnya…
Artikel Terkait Pemerintahan
Berita AktualKanal lain
NasionalKanal lain