BSD, Suararealitas.co – PT Nusa Sentosa Indonesia (nusaQu) mendorong penguatan ekosistem peternakan lokal melalui partisipasinya dalam Nusantara Livestock & Poultry Expo (NLPE) yang menjadi bagian dari Indonesia Agriculture Technology Expo (INDOGRITECH) 2026. Pameran yang resmi dibuka pada Rabu (4/11/2026) di Nusantara Hall, ICE BSD City, tersebut berlangsung hingga 6 November 2026.
Dalam ajang ini, nusaQu memperkenalkan pengelolaan peternakan secara terintegrasi, mulai dari penyediaan hewan ternak, pakan, hingga pengolahan limbah. Keikutsertaan tersebut tidak hanya menjadi sarana memperkenalkan potensi peternakan lokal, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat rantai usaha peternakan dari hulu hingga hilir.
Direktur PT Nusa Sentosa Indonesia (nusaQu), Nanang Sugiarto, mengatakan bahwa komitmen perusahaan dalam mengembangkan peternakan lokal menjadi salah satu hal yang diangkat dalam pameran tersebut. Hingga saat ini, nusaQu berfokus pada pengelolaan hewan ternak lokal, khususnya sapi, kambing, dan domba, dengan pasar hewan kurban sebagai salah satu target utama.
“Keunggulan kami adalah tetap mengelola hewan ternak lokal, yaitu sapi, kambing, dan domba. Fokus pasar kami juga masih cukup besar pada kebutuhan hewan kurban,” ujar Nanang.
Berbeda dengan keikutsertaan sebelumnya, pada penyelenggaraan tahun ini nusaQu membawa gambaran ekosistem peternakan secara langsung ke area pameran. Tidak hanya menampilkan hewan ternak, perusahaan juga memperlihatkan berbagai aspek kegiatan peternakan, mulai dari penyediaan pakan hingga pemanfaatan dan pengolahan limbah.
Dalam pameran tersebut, nusaQu menghadirkan lima ekor sapi yang terdiri atas dua sapi super, satu sapi ras Bali, satu sapi ras Madura, serta satu pedet atau anak sapi peranakan Brahman. Selain itu, terdapat 10 ekor domba yang terdiri atas dua pejantan, empat anakan, serta sepasang induk dan anakannya.
Kehadiran hewan ternak secara langsung menjadi salah satu daya tarik dalam pameran. Namun, membawa ternak ke lingkungan baru dengan tingkat keramaian yang tinggi juga memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam proses adaptasi terhadap suasana dan aktivitas pengunjung.
Nanang menjelaskan, melalui keikutsertaan dalam INDOGRITECH 2026, nusaQu ingin mengambil peran lebih luas dalam mendorong kemajuan peternakan nasional, khususnya dengan melibatkan peternak lokal dalam ekosistem usaha yang dibangun perusahaan.
Upaya tersebut juga diwujudkan melalui penyelenggaraan business forum selama tiga hari yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di sektor peternakan. Forum ini membahas peluang pengembangan usaha dari hulu hingga hilir, termasuk penyediaan bakalan, pakan, proses produksi, pengolahan limbah, serta isu keberlanjutan lingkungan seperti emisi karbon.
Dalam kegiatan tersebut, nusaQu mengangkat konsep Green Urban dengan semangat “Nyata untuk Manusia, Lestari untuk Alam”. Konsep ini mencerminkan upaya perusahaan untuk mengembangkan kegiatan peternakan yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Rangkaian business forum dibagi dalam tiga fokus pembahasan. Hari pertama diarahkan untuk mengenalkan keseluruhan ekosistem peternakan, mulai dari hulu hingga hilir. Hari kedua membahas keterlibatan berbagai sektor yang dapat mendukung pengembangan peternakan, termasuk perbankan, teknologi digital, dan penyedia layanan lainnya.
Menurut Nanang, pengembangan peternakan membutuhkan dukungan lintas sektor. Karena itu, nusaQu telah menjalin sejumlah kolaborasi dengan pihak perbankan, tidak hanya dalam aspek pembiayaan, tetapi juga untuk memperluas akses pasar.
Melalui pemanfaatan teknologi digital, nusaQu mengintegrasikan sistemnya dengan aplikasi mitra untuk mendukung penyediaan hewan kurban. Kerja sama dengan Pos Digi juga menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas jaringan dan membuka peluang kolaborasi dengan sektor lain.
Sementara itu, hari ketiga difokuskan pada pengembangan pasar melalui penguatan kerja sama dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), yayasan, dan berbagai lembaga yang memiliki kebutuhan terhadap hewan kurban.
Nanang menegaskan, pengembangan ekosistem tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi para peternak lokal. Melalui keterlibatan dalam jaringan usaha nusaQu, peternak diharapkan memperoleh akses terhadap kebutuhan pakan, dukungan pendanaan, serta peluang pemasaran yang lebih terbuka.
“Kami tidak ingin berkembang sendiri, tetapi ingin mengajak seluruh peternak lokal untuk maju bersama. Jadi, peternak yang membutuhkan pakan, pendanaan, maupun akses pasar bisa terhubung dengan ekosistem yang kami bangun,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi antara peternak, penyedia pakan, sektor keuangan, teknologi digital, dan jaringan pasar, nusaQu berharap pengembangan peternakan lokal dapat berjalan lebih terintegrasi. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing peternak dalam memenuhi kebutuhan pasar, khususnya untuk komoditas hewan kurban.












