JAKARTA, Suararealitas.co – Penguatan ketahanan nasional di Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kondisi geografis, kesejahteraan masyarakat, serta nilai-nilai sosial budaya yang hidup di tengah masyarakat. Penguatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertahanan negara, tetapi juga kemampuan masyarakat menghadapi tantangan ekonomi dan kesenjangan pembangunan.
Hal itu disampaikan Dr. Tantri Larasrami, S.Sos., M.I.Kom. yang mewakili Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dalam Simposium Nasional “Pesona NTT, Ragam Sanggul Kebaya Kain Indonesia” di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Dalam paparannya, Tantri menjelaskan bahwa ketahanan nasional perlu dibangun melalui pendekatan komprehensif yang mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satunya melalui konsep Astagatra, yang mencakup Trigatra dan Pancagatra sebagai kerangka untuk memahami potensi serta tantangan ketahanan nasional.
Menurutnya, karakteristik NTT sebagai wilayah kepulauan dan kawasan perbatasan memerlukan perhatian khusus. Kondisi geografis yang tersebar antarpulau menghadirkan tantangan tersendiri dalam pemerataan pembangunan, distribusi kebutuhan pokok, serta pemenuhan layanan dasar bagi masyarakat.
“Ketahanan nasional rasanya ada di ujung apabila kita tidak memundurkan fokus pada ketahanan yang paling kecil, mulai dari ketahanan diri hingga ketahanan keluarga,” ujar Tantri.
Ia menekankan bahwa keluarga dan individu merupakan bagian mendasar dalam membangun ketahanan masyarakat. Nilai-nilai budaya, tradisi, serta kearifan lokal yang diwariskan leluhur juga menjadi modal sosial untuk menghadapi berbagai perubahan dan tekanan.
Mengatasi Kesenjangan Pembangunan di Wilayah Kepulauan
Tantri menilai, meskipun NTT memiliki kekayaan alam dan budaya yang beragam, sejumlah wilayah masih menghadapi tantangan dalam pemerataan kesejahteraan. Keterbatasan akses transportasi dan logistik antarpulau, persoalan ketersediaan air bersih, serta distribusi pangan menjadi bagian dari persoalan yang perlu ditangani secara berkelanjutan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan nasional berkaitan erat dengan kemampuan negara memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, termasuk di wilayah perbatasan dan kawasan terluar.
Karena itu, pembangunan infrastruktur dasar perlu berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Pemerataan akses terhadap kebutuhan pokok dan peningkatan peluang usaha lokal menjadi langkah penting untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah.
Selain itu, potensi budaya NTT, termasuk tradisi tenun ikat, dapat dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas daerah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Kearifan Lokal sebagai Modal Ketahanan Masyarakat
Lebih lanjut, Tantri menyoroti pentingnya menjaga kohesi sosial melalui keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat. Tradisi serta nilai kebersamaan yang telah mengakar di tengah masyarakat dapat menjadi modal untuk memperkuat solidaritas dan menghadapi tantangan bersama.
Penguatan ketahanan nasional, menurutnya, tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan keamanan dan pembangunan fisik. Peningkatan kualitas hidup, pemberdayaan ekonomi, serta pelestarian budaya juga perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan, khususnya di wilayah kepulauan seperti NTT.
Melalui Simposium Nasional Pesona NTT, pembahasan mengenai ketahanan nasional diharapkan dapat memperluas perhatian terhadap potensi dan tantangan daerah. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan aspek geografis, sosial budaya, dan ekonomi, pembangunan NTT diharapkan semakin mampu memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan nasional.












