JAKARTA, Suararealitas.co – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong penguatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai instrumen strategis untuk menarik investasi, memperluas lapangan kerja, dan mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8%.
Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) KEK Triwulan III 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026), Airlangga menyoroti capaian investasi kawasan sekaligus potensi pengembangan di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pariwisata, industri, digital, teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi nasional selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yakni periode Triwulan IV 2024 hingga Triwulan III 2026, mencapai Rp3.932 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 5,4 juta orang.
Sementara itu, realisasi investasi kumulatif di KEK hingga 30 September 2026 tercatat sebesar Rp382,1 triliun. Investasi tersebut telah menyerap 302.262 tenaga kerja.
“KEK adalah instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8% melalui investasi nyata, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan produktivitas kawasan,” ujar Airlangga.
Sepanjang Januari hingga September 2026, investasi di KEK mencapai Rp46 triliun atau sekitar 67% dari target tahunan sebesar Rp69,1 triliun. Capaian tersebut juga diikuti penambahan tenaga kerja sebanyak 53.190 orang.
Airlangga menilai capaian investasi tersebut menjadi modal untuk memperkuat KEK sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang produktif dan berdaya saing. Pengembangan kawasan diarahkan melalui optimalisasi sektor unggulan, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan keterkaitan antara investasi dan penyerapan tenaga kerja.
Di sektor kesehatan, KEK dinilai berpotensi mengurangi aliran devisa ke luar negeri melalui penyediaan layanan kesehatan berstandar internasional di dalam negeri.
“Dan ini yang bisa kita substitusi dengan KEK-KEK yang ada,” kata Airlangga.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menambahkan, pengembangan KEK kesehatan tidak hanya memperluas akses layanan medis, tetapi juga membuka peluang investasi di industri alat kesehatan dan farmasi. Selain itu, kawasan tersebut dapat menjadi sarana transfer pengetahuan dan teknologi melalui kolaborasi dokter asing dengan tenaga medis Indonesia.
Di sektor pariwisata, pengembangan KEK diarahkan untuk meningkatkan daya tarik kawasan melalui kolaborasi dalam pengembangan SDM, penyelenggaraan acara, promosi, serta pengembangan wellness tourism dan wisata bahari.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan kementeriannya siap mendukung pengembangan enam KEK pariwisata.
“Kami dari Kementerian Pariwisata telah mendukung 6 (enam) KEK pariwisata dan kami siap berkolaborasi,” ujarnya.
Adapun di sektor industri, ekspansi kawasan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kapasitas investasi sekaligus memperkuat daya saing. Airlangga menyebut sejumlah KEK tengah mempersiapkan ekspansi usaha.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza turut menekankan pentingnya peningkatan standar layanan dan fasilitas di KEK. Menurutnya, kawasan tersebut perlu menjadi tolok ukur bagi pengembangan kawasan industri lainnya.
Selain investasi dan pengembangan infrastruktur, kesiapan SDM juga menjadi perhatian dalam pengembangan KEK. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mendorong kawasan tersebut berperan sebagai talent engine yang menghubungkan kebutuhan industri dengan pendidikan, pelatihan vokasi, dan program magang.
“Selain itu tadi kita juga berdiskusi bagaimana kami punya mimpi juga KEK ini akan menjadi talent engine untuk SDM unggul masa depan Indonesia,” ujarnya.
Melalui penguatan sektor unggulan, peningkatan daya saing kawasan, dan pengembangan SDM yang selaras dengan kebutuhan industri, KEK diharapkan mampu meningkatkan realisasi investasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta memperluas pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.












