Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Iklan
Iklan

Pasang Iklan Hubungi Admin

Baca berita tanpa iklan. Gabung Suara Realitas

Suara Realitas Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Suara Realitas Masuk
S+
Tranding
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Suara Realitas. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTYori Antar Dorong Pariwisata Berbasis Budaya untuk Angkat Potensi NTT ke DuniaKomentar: 0

Yori Antar Dorong Pariwisata Berbasis Budaya untuk Angkat Potensi NTT ke Dunia

Suara Realitas, 22 Oktober 2026, 11:49 WIB · 6 menit bacaDiperbarui Baca di App
Huruf

 

JAKARTA, Suararealitas.co – Arsitek budaya Yori Antar mendorong pengembangan pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengoptimalkan kekayaan budaya, arsitektur tradisional, kain tenun, serta potensi alam di berbagai pulau. Menurutnya, pengembangan destinasi wisata perlu berjalan seiring dengan pelestarian warisan budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Hal tersebut disampaikan Yori dalam Simposium Nasional bertajuk “Pesona NTT, Ragam Sanggul Kebaya Kain Indonesia” yang diselenggarakan Sinergi Perempuan Indonesia bersama Sahabat Insan dan Perempuan Berkebaya Indonesia di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Dalam forum bertema “Meningkatkan Potensi Kearifan Lokal NTT Untuk Lebih Mendunia” tersebut, Yori juga berbagi pengalaman mengenai pelestarian rumah adat Wae Rebo di Flores serta pengembangan potensi tenun tradisional. Acara itu turut diisi peluncuran Kalender Pesona NTT 2026 yang menampilkan koleksi foto karyanya.

Yori menilai NTT memiliki kekayaan alam dan budaya yang dapat menjadi modal penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi tersebut mencakup sandang, pangan, dan papan, mulai dari kain tenun dan kuliner khas hingga arsitektur tradisional yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman.

Menurut dia, kekayaan tersebut perlu dikembangkan melalui pendekatan yang tepat agar dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mempertahankan identitas budaya masyarakat setempat.

“NTT sangat kaya dengan keindahan alam, kain tenun, serta potensi sandang, pangan, dan papan yang belum banyak diangkat dan dikembangkan. Sebenarnya, upaya mengentaskan kemiskinan di NTT tidak harus terlalu sulit karena berbagai potensi itu sudah tersedia. Tinggal bagaimana kita menggali dan mengembangkannya,” ujar Yori.

Wae Rebo dan Pelestarian Arsitektur Tradisional

Salah satu pengalaman yang membentuk pandangan Yori terhadap pelestarian budaya adalah perjalanannya ke Desa Adat Wae Rebo pada 2008. Saat itu, ia menemukan bahwa pelestarian kebudayaan tidak cukup dilakukan dengan mengagumi keunikan tradisi dari luar, tetapi harus melibatkan diri bersama masyarakat yang mewarisinya.

“Tahun 2008 menjadi titik balik. Saya tidak lagi ingin melihat kebudayaan dari luar ke dalam, tetapi dari dalam ke luar bersama masyarakat,” katanya.

Pengalaman tersebut mendorong Yori bersama Yayasan Rumah Nusantara terlibat dalam upaya menghidupkan kembali rumah adat Mbaru Niang di Wae Rebo yang terancam punah.

Proses restorasi mengutamakan pengetahuan tradisional dan gotong royong. Masyarakat adat menjadi pelaku utama, sementara keterampilan membangun diwariskan dari generasi tua kepada generasi muda. Rumah adat tersebut dipulihkan menggunakan teknik tradisional tanpa paku maupun beton modern.

Upaya pelestarian Mbaru Niang memperoleh pengakuan melalui UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation pada 2012.

Yori mengatakan, pendekatan serupa kemudian dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut telah menjangkau lebih dari 35 titik di Nusantara, termasuk pelestarian lebih dari 150 rumah adat di Sumba.

Baginya, Wae Rebo membuktikan bahwa arsitektur tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan aset budaya yang dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Baca Juga :  Hari Kebaya Nasional ke-3, KOWANI, PIM, dan Senayan City Perkuat Gerakan Pelestarian Budaya dan Karakter Anak

Ia menyebut masih banyak desa dan kawasan adat di NTT yang memiliki kekhasan arsitektur, tetapi belum memperoleh perhatian luas, di antaranya Todo, Ruteng Pu’u, dan Nggela, serta arsitektur tradisional masyarakat Sabu.

“Masih banyak Wae Rebo-Wae Rebo lainnya di NTT,” ujarnya.

Perluas Destinasi Wisata di Luar Labuan Bajo

Yori mengapresiasi perkembangan Labuan Bajo yang telah tumbuh menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia. Namun, ia menilai pengembangan pariwisata NTT tidak seharusnya berhenti di kawasan tersebut.

Menurutnya, potensi wisata di pulau-pulau lain perlu dikembangkan agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat NTT.

Ia mencontohkan Ende yang dapat diangkat sebagai kota kelahiran Pancasila, serta Maumere yang dinilainya memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi.

“Pemerintah telah berhasil mendorong Labuan Bajo tumbuh pesat sebagai destinasi wisata. Wisatawan yang datang pun semakin banyak. Namun, setelah Labuan Bajo, ke mana lagi? Kita perlu mengembangkan destinasi lain di NTT,” kata Yori.

Ia juga menyampaikan rencana mengikuti Camino Flores Walk bersama Mari Pangestu pada Jumat, 23 Oktober 2026, sebagai salah satu upaya memperkenalkan potensi Flores melalui konsep perjalanan wisata yang lebih kekinian.

Selain mengangkat destinasi berbasis sejarah dan religi, Yori mengusulkan pengembangan jalur wisata tenun NTT. Konsep ini diharapkan dapat menghubungkan berbagai sentra kerajinan, memperkenalkan proses pembuatan kain tradisional, dan membuka peluang ekonomi bagi para perajin.

Menurutnya, keberhasilan Wae Rebo menarik wisatawan mancanegara menunjukkan bahwa kekayaan budaya dapat menjadi daya tarik tersendiri. Sejumlah wisatawan bahkan datang langsung ke Labuan Bajo untuk mengunjungi desa adat tersebut.

Karena itu, ia melihat peluang besar untuk memperkenalkan lebih banyak destinasi budaya di NTT kepada wisatawan domestik maupun internasional.

Rumah Tenun dan Pemberdayaan Perempuan

Selain arsitektur tradisional, Yori menyoroti peran perempuan penenun dalam menjaga keberlanjutan budaya sekaligus menopang ekonomi keluarga.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah membangun rumah tenun sebagai tempat produksi dan ruang untuk memperkenalkan hasil karya para perajin. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memberikan lingkungan kerja yang lebih layak sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap kain tenun sebagai karya seni.

“Kami telah membangun 15 rumah tenun di Sumba dan berlanjut ke pulau-pulau lain di NTT. Kain tenun bukan sekadar komoditas pabrik, melainkan karya seni tinggi yang lahir dari inspirasi dan hubungan mendalam perajin dengan alam,” kata Yori.

Ia menilai pengembangan tenun perlu dilakukan melalui perluasan pasar dan peningkatan nilai ekonomi produk, tanpa menghilangkan pengetahuan tradisional serta karakter khas setiap daerah.

Baca Juga :  KOWANI Dorong Kain Nusantara Jadi Kekuatan Budaya, Ekonomi Perempuan, dan Warisan Peradaban

Dalam berbagai pameran dan peresmian, apresiasi terhadap kain tenun NTT disebut mampu menghasilkan transaksi hingga miliaran rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa warisan budaya juga memiliki potensi ekonomi apabila didukung promosi dan akses pasar yang memadai.

Upaya pemberdayaan perempuan penenun turut mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di bawah kepemimpinan Veronica Tan.

Investasi Harus Berpihak pada Masyarakat Lokal

Yori juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata, pelestarian lingkungan, dan perlindungan kebudayaan.

Ia mencontohkan perkembangan Labuan Bajo setelah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Berdasarkan paparannya, jumlah kapal pinisi yang sebelumnya sekitar 100 unit kini meningkat menjadi sekitar 800 unit. Sementara itu, hotel berbintang lima yang sebelumnya belum tersedia kini berjumlah lebih dari 15 hotel.

Ia juga menyebut pendapatan masyarakat meningkat hingga dua setengah kali lipat. Angka-angka tersebut menggambarkan besarnya perubahan ekonomi yang menurutnya menyertai perkembangan pariwisata Labuan Bajo.

Meski demikian, Yori mengingatkan bahwa pertumbuhan investasi tidak boleh mengabaikan kepentingan masyarakat setempat. Pengembangan destinasi wisata harus dirancang agar masyarakat lokal memperoleh manfaat ekonomi, sementara alam dan tradisi yang menjadi daya tarik utama tetap terjaga.

NTT sebagai wilayah kepulauan, menurutnya, perlu dipandang sebagai kesatuan yang dihubungkan oleh laut, bukan sebagai wilayah-wilayah yang terpisah. Setiap pulau memiliki keunikan budaya dan alam yang dapat saling melengkapi dalam pengembangan pariwisata.

“Paling tidak kita sebagai masyarakat Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegasnya.

Ia menambahkan, pengembangan pariwisata perlu memastikan bahwa investasi tidak hanya mendorong pembangunan fasilitas dan mendatangkan wisatawan, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat lokal.

Bawa Warisan Budaya NTT ke Panggung Internasional

Untuk memperluas pengenalan budaya Indonesia, Yori bersama tim juga tengah menyiapkan pameran Living Wonders di Leiden, Belanda, pada 2027.

Pameran tersebut direncanakan memperkenalkan kekayaan budaya NTT kepada masyarakat internasional sekaligus mendorong upaya repatriasi artefak dan dokumentasi kebudayaan yang tersimpan di museum-museum Eropa.

Materi yang menjadi perhatian mencakup artefak, rekaman lagu daerah, serta literatur mengenai motif tenun NTT.

Yori menegaskan, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat, dukungan pemerintah, dunia pendidikan, dan generasi muda. Kekayaan tradisi yang masih hidup perlu dikembangkan sesuai kebutuhan zaman tanpa kehilangan nilai dan identitas aslinya.

“Indonesia adalah bangsa penemu yang kaya akan budaya. Kita harus bangga dan percaya diri membawa peradaban Nusantara ke panggung dunia,” tutupnya.

Melalui pengembangan pariwisata berbasis budaya dan alam, Yori berharap potensi NTT dapat semakin dikenal di tingkat internasional sekaligus menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat yang menjaga dan mewariskannya.

Lihat Sosial & Budaya Selengkapnya→
Memuat berita berikutnya…
Artikel Terkait Sosial & Budaya
Berita AktualKanal lain
NasionalKanal lain