JAKARTA, Suararealitas.co – Persoalan stunting dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi tantangan pembangunan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Penanganannya dinilai membutuhkan pendekatan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan potensi masyarakat lokal.
Pandangan tersebut disampaikan dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Ekarini Aryasatiani, Sp.O.G., saat menjadi penanggap dalam simposium nasional memperingati Hari Sumpah Pemuda di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Ekarini yang pernah bertugas di Kabupaten Ngada pada 1986 dan kemudian kembali menjalankan praktik sebagai dokter obgyn di Kabupaten Sikka mengatakan, persoalan stunting di NTT perlu dilihat secara lebih luas, termasuk dari sisi kualitas SDM dan keberlanjutan program pembangunan.
“Yang saya sedih sampai sekarang, NTT masih juara stunting. Padahal sumber daya alam di sana luar biasa,” kata Ekarini.
Menurut dia, potensi daerah yang besar belum sepenuhnya diikuti dengan peningkatan kualitas SDM yang memadai. Salah satu tantangannya adalah keterbatasan tenaga terdidik yang menetap dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Sebagian SDM unggul NTT memilih merantau ke kota-kota besar, termasuk Jakarta. Kondisi ini menjadi perhatian karena pengembangan masyarakat di daerah membutuhkan tenaga profesional yang mampu mendampingi, mengedukasi, dan mengoptimalkan potensi lokal secara berkelanjutan.
Penguatan Pendidikan dan Potensi Lokal
Ekarini juga menyoroti pentingnya pendidikan dan pendampingan masyarakat dalam membangun kemandirian ekonomi. Menurut dia, pola pikir yang berorientasi pada hasil cepat tanpa perencanaan jangka panjang dapat membuat masyarakat rentan menghadapi persoalan sosial dan ekonomi.
Salah satunya adalah risiko penipuan yang menyasar calon pekerja migran. Keinginan memperoleh penghasilan lebih baik, tanpa didukung informasi dan persiapan yang memadai, dapat meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap praktik penipuan atau scam.
Di sisi lain, NTT memiliki potensi komoditas lokal yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kopi Bajawa dan jambu mete dari Ngada menjadi contoh hasil bumi yang membutuhkan pengelolaan dan pengolahan lebih optimal agar memberikan nilai tambah bagi petani.
Ekarini mengingatkan bahwa pengembangan potensi pangan lokal juga perlu memperhatikan keberlanjutan. Ia menyinggung pengalaman masa lalu ketika perubahan harga komoditas mendorong warga mengambil keputusan yang berdampak pada keberlangsungan tanaman produktif.
Program Pangan Perlu Pendampingan Berkelanjutan
NTT memiliki pengalaman dalam menjalankan program penguatan pangan daerah, salah satunya Operasi Nusa Makmur (ONM) yang dikaitkan dengan kepemimpinan Ben Mboi pada era 1980-an. Program tersebut mendorong penanaman pisang dan tanaman produktif sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.
Namun, menurut Ekarini, program pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan atau penyediaan sarana. Edukasi dan pendampingan langsung diperlukan agar masyarakat memahami manfaat program serta mampu melanjutkannya secara mandiri.
Penguatan sekolah kejuruan, pelatihan bahasa bagi tenaga kerja profesional, dan pengintegrasian nilai budaya lokal ke dalam pendidikan formal juga dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas masyarakat NTT.
Ia menekankan bahwa pembangunan fasilitas fisik perlu disertai peningkatan keterampilan dan pengetahuan warga agar hasil pembangunan dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Dengan demikian, penanganan stunting dan pengembangan SDM di NTT perlu dilakukan secara terpadu melalui edukasi gizi, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, serta penguatan potensi daerah. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian pembangunan di NTT.












