Hari Pers Sedunia: Antara Kebebasan Pers dan Bayang-Bayang Hegemoni Dewan Pers 

- Jurnalis

Rabu, 6 Mei 2026 - 06:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aceng Syamsul Hadie (ASH)

MAJALENGKA, Suararealitas.co – Peringatan Hari Pers Sedunia setiap 3 Mei semestinya menjadi momentum refleksi mendalam terhadap arah kebebasan pers di Indonesia. Namun di tengah perayaan tersebut, muncul pertanyaan fundamental yang jarang disentuh secara kritis: apakah pers Indonesia benar-benar merdeka, atau justru sedang berada dalam bayang-bayang hegemoni institusional yang kian menguat?

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kerangka normatif, keberadaan Dewan Pers dimaksudkan sebagai penjaga independensi, mediator sengketa, serta pengawal etika jurnalistik. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit kritik yang mengarah pada potensi terjadinya konsentrasi otoritas yang berlebihan. Ketika sebuah institusi memiliki kewenangan normatif sekaligus legitimasi moral, maka risiko hegemoni menjadi tidak terelakkan.

 

Konsep hegemoni—sebagaimana dipahami dalam tradisi pemikiran Antonio Gramsci—tidak selalu bekerja melalui represi terbuka, melainkan melalui dominasi wacana dan legitimasi kultural. Dalam konteks pers, hegemoni dapat termanifestasi dalam bentuk standarisasi yang kaku, penyeragaman tafsir atas kode etik, hingga delegitimasi terhadap entitas pers di luar struktur yang diakui secara formal.

Baca Juga :  Dibalik Realitas Kelam Secangkir Kopi Pangku, Jejak Kolonial Pemuas Nafsu Mata Keranjang Patriaki

 

Gejala ini mulai tampak ketika ukuran “legalitas” dan “kompetensi” jurnalis cenderung dipersempit dalam kerangka administratif yang ditentukan secara terpusat. Alih-alih memperluas ruang kebebasan pers, pendekatan semacam ini berpotensi menciptakan eksklusivitas dan marginalisasi terhadap jurnalis independen, komunitas media alternatif, serta inisiatif pers berbasis masyarakat.

 

Lebih jauh, ketika otoritas etik dan verifikasi terpusat pada satu institusi, maka ruang kritik terhadap institusi tersebut juga menjadi terbatas. Ini menciptakan paradoks: pers yang seharusnya menjadi pengawas kekuasaan justru menghadapi kesulitan ketika harus mengkritik struktur yang memiliki legitimasi sebagai “pengawal pers” itu sendiri. Dalam situasi seperti ini, relasi kuasa menjadi tidak seimbang.

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa standar profesionalisme memang diperlukan untuk menjaga kualitas jurnalisme. Namun profesionalisme yang dipaksakan melalui mekanisme top-down tanpa ruang partisipasi yang luas justru berisiko berubah menjadi instrumen kontrol. Dalam titik inilah, garis antara regulasi dan hegemoni menjadi sangat tipis.

 

Di sisi lain, tantangan nyata seperti disinformasi, hoaks, dan komersialisasi media memang membutuhkan respons institusional yang kuat. Namun solusi terhadap problem tersebut tidak boleh mengorbankan prinsip dasar kebebasan pers itu sendiri. Penguatan etika harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap keberagaman dan otonomi pers.

Baca Juga :  Barikade Gusdur Dukung Penuh Langkah Presiden Lakukan Reshuffle Kabinet

 

Hari Pers Sedunia seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi secara jujur relasi antara pers dan institusi pengaturnya. Apakah mekanisme yang ada telah benar-benar demokratis, transparan, dan akuntabel? Ataukah justru tanpa disadari telah membentuk struktur hegemonik yang membatasi kebebasan itu sendiri?

 

Pada akhirnya, kebebasan pers tidak hanya terancam oleh kekuasaan politik dan modal, tetapi juga oleh potensi dominasi institusional yang lahir dari dalam ekosistem pers itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan kritis agar upaya menjaga profesionalisme tidak berubah menjadi pembatasan yang sistemik.

 

Pers Indonesia harus tetap merdeka—bukan hanya dari intervensi eksternal, tetapi juga dari segala bentuk hegemoni, termasuk yang bersembunyi di balik legitimasi institusional. Sebab tanpa kebebasan yang sejati, pers hanya akan menjadi gema dari kekuasaan, bukan penjaga kebenaran.

Penulis : ASH

Editor : Eka

Berita Terkait

Halal Bihalal Alumni SMP Negeri NICA 90 Berlangsung Meriah, Penuh Nostalgia dan Kebersamaan
Selat Malaka Diserbu Tanker Asing || Ustadz Bachtiar Nasir (UBN): Alarm Dini Krisis Global Dampak Iran Vs Amerika.
Pelaporan Terhadap Saeful Mujani dan Islah Bahrawi || Aceng Syamsul Hadie (ASH): Pernyataan Opini Bukan Makar, Jangan Bunuh Demokrasi dengan Tafsir Berlebihan  
Minta Semua Pihak Tahan Diri, Barikade Gus Dur Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla Dengan Mengedepankan Dialog
Halal Bihalal Bukan Ruang Kejahatan: Stop Kriminalisasi Ucapan!  
Kriminalisasi Opini dan Distorsi Konsep Makar: Ujian Serius bagi Demokrasi Konstitusional Indonesia. 
Liburan Seru di Ancol dengan Promo Lebih Hemat
Israel’s Death Penalty Law for Palestinian Prisoners: Chairman of the Board of Trustees of DPP ASWIN Urges the International Community to Act

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 06:34 WIB

Hari Pers Sedunia: Antara Kebebasan Pers dan Bayang-Bayang Hegemoni Dewan Pers 

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:09 WIB

Halal Bihalal Alumni SMP Negeri NICA 90 Berlangsung Meriah, Penuh Nostalgia dan Kebersamaan

Rabu, 15 April 2026 - 23:35 WIB

Selat Malaka Diserbu Tanker Asing || Ustadz Bachtiar Nasir (UBN): Alarm Dini Krisis Global Dampak Iran Vs Amerika.

Rabu, 15 April 2026 - 23:24 WIB

Pelaporan Terhadap Saeful Mujani dan Islah Bahrawi || Aceng Syamsul Hadie (ASH): Pernyataan Opini Bukan Makar, Jangan Bunuh Demokrasi dengan Tafsir Berlebihan  

Rabu, 15 April 2026 - 10:53 WIB

Minta Semua Pihak Tahan Diri, Barikade Gus Dur Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla Dengan Mengedepankan Dialog

Berita Terbaru