JAKARTA, suararealitas.co – Istilah “Jawara” umumnya merujuk pada pendekar atau tokoh yang disegani karena kemampuan silat dan pengaruhnya diakui dari berbagai daerah dan juga di suatu daerahnya sendiri seperti di Kedoya, Jakarta Barat.
Namun narasi spesifik mengenai “Macan Kedoya” akan kami ungkap fakta kebenarannya dari berbagai sumber yang dapat dipercaya.
Julukan tentang “Macan Kedoya” dulu sangat santer terdengar bahkan sampai ketelinga para pendekar atau jawara di berbagai daerah, nama julukan itu sangat melekat ditubuh seorang laki-laki bernama lengkap Markhasan alias Khasan Kadut atau Kasdut pada zamannya.
Beliau hidup sekitar pada tahun 1900’an sebelum kemerdekaan dari pasangan Doel Sya’Ali (Kumpi Dul), dan Mardiah (Nyai Mer) asli dari keturunan Betawi Kedoya.
Khasan sejak kecil sudah diajarkan main pukulan oleh orang tuanya dan kemudian diasah kembali dengan cara beliau beradu tanding dengan jawara-jawa tersohor dari berbagai daerah diantaranya Kampung Melayu Tangerang, Teluknaga, Rangkas, Karawang, Sukabumi Kadu Dampit, dan Cirebon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Beliau pun tidak pernah mundur, apalagi sampai dikalahkan sehingga beliau banyak dikenal merangkul para jawara-jawara dari berbagai daerah yang dalam perjalanan lang-lang buananya itu beliau diketahui benar-benar dengan berjalan kaki tanpa naik kendaraan kemanapun setiap dia pergi.
Markhasan dikenal kawanannya sebagai seorang pejuang yang sangat suka membantu orang lemah yang ditindas oleh kompeni Belanda pada masa penjajahan.
Selain itu, tidak sekali dua kali beliau ditahan oleh kompeni Belanda akibat membela kaum lemah, hingga dia sampai dipenjara di Nusa Kambangan yang merupakan penjara yang dikhususkan untuk penjahat kelas berat, dan tahanan politik di era kolonial.
Tercatat dalam media Belanda, Markhasan merupakan orang yang pernah kabur dari tahanan Nusa Kambangan dan berhasil kembali pulang kerumah.
Atas kejadian itu yang membuat kompeni Belanda geleng kepala, dan dianggap licin seperti belut.
Berlanjut dalam perjalalanannya, dia bersama kawanannya membentuk kumpulan (Laskar Pejuang) yang selanjutnya dikenal bernama Kadut atau Kasdut
Diketahui, Kadut beranggotakan mantan-mantan pejuang kemerdekaan dari berbagai daerah hingga ada juga yang dari Blitar, Jawa Timur yang bernama Ignatius Waluyo alias Kusni Kasdut.
Tetapi, Markhasan di kampungnya sendiri Kedoya hanya dikenal sebagai sosok yang sering membela orang lemah dan baik sama anak-anak kecil, sebagai orang yang dijuluki “Macan Kedoya”.
Tak sedikit orang tau, bahwa ia memiliki senyum yang mampu membikin jantung orang yang dianggapnya lawan putus.
Terucap ceritanya dalam buah bibir perbincangan masyarakat, bahwa sang pejuang legendaris berperawakan tinggi dan berambut ikal, “Macan Kedoya” itu menikah lebih dari satu kali dan memiliki keturunan di berbagai daerah yakni di Kembangan, Jakarta Barat, Karawang, dan Kadu Dampit Sukabumi.
Beliau tutup usia di tahun 2000 an di Kembangan, Jakarta Barat dan dimakamkan di Kedoya, persis di depan Gubah Al-Haddad Kedoya, Alhabib Umar Bin Hamid Al-Haddad.
Begitulah kisah sosok Macan Kedoya yang kami rangkum dari beberapa sumber.
Ingin tahu seputar informasi lainnya, segera baca berita terkait lainnya di website suararealitas.co



































