Dugaan Kasus Pencemaran Lingkugan CV NA, Apakah Penyidikan KLH Jalan Ditempat ?

- Jurnalis

Sabtu, 15 November 2025 - 11:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Forum Aktivis Banten Bersih (FABB) menilai bahwa proses hukum kasus ini berjalan tidak transparan dan cenderung lambat.

Forum Aktivis Banten Bersih (FABB) menilai bahwa proses hukum kasus ini berjalan tidak transparan dan cenderung lambat."Jika sudah naik penyidikan, mestinya publik mengetahui siapa yang bertanggung jawab. Pasalnya tidak ada satu nama diumumkan secara resmi,”ujar Agus S. koordinator FABB. pada Jumat (14/11/2025).

KABUPATEN TANGERANG, Suararealitas.co – Kasus dugaan pencemaran lingkungan terkait keberadaan CV NAK (singkatan-red) di Kecamatan Pasar Kemis Kabupaten Tangerang terus menjadi perhatian publik. Setelah penyegelan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Perusahaan yang dimiliki MN (inisial-red) yang di isukan bahwa MN sendiri  merupakan ayah kandung dari FNI (inisial-red)   Anggota DPRD Kabupaten Tangerang.

Dikabarkan saat operasi penyegelan pada Mei 2025, bahwa tim KLH menemukan indikasi pelanggaran serius pengelolaan limbah B3: terdapat tumpukan residu oli, limbah plastik, serta genangan cairan hitam yang berpotensi mencemari tanah dan aliran air di sekitar permukiman lokasi Pabrik tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Pengaduan dan Pengawasan KLH, Ardiyanto Nugroho, sebelumnya menegaskan, perkara ini sudah naik ke tahap penyidikan. Namun hingga hari ini, belum ada penetapan tersangka atau penjelasan resmi mengenai siapa pihak yang harus  bertanggung jawab.

Proses Penyidikan Dipertanyakan.

Forum Aktivis Banten Bersih (FABB) menilai bahwa proses hukum kasus ini berjalan tidak transparan dan cenderung lambat.

Baca Juga :  ‎Pengguna Jalan, Keluhkan Jalan Bergelombang Pasca Galian Pipa PDAM TKR

“Jika sudah naik penyidikan, mestinya publik mengetahui siapa yang bertanggung jawab. Pasalnya tidak ada satu nama diumumkan secara resmi,”ujar Agus S. koordinator FABB.
<span;>pada Jumat (14/11/2025).

Menurutnya, Penyebutan nama MN atau NG sebagai pemilik perusahaan oleh warga dan aparat desa seharusnya mendorong penyidik untuk lebih terbuka dalam memberikan informasi.

Keterkaitannya sebagai ayah dari seorang anggota DPRD Kabupaten Tangerang juga memunculkan dugaan adanya potensi konflik kepentingan yang dapat mempengaruhi jalannya proses hukum.

Hingga kini, KLH maupun aparat penegak hukum belum memberikan update terkait:

Pemeriksaan terhadap pemilik maupun pengelola perusahaan, Audit lingkungan dan hasil laboratorium pencemaran, Rencana pemulihan lokasi, Penelusuran aliran limbah ke wilayah lain, Status penahanan atau pemanggilan saksi kunci.

Kekosongan informasi inilah yang dinilai FABB sebagai bentuk lemahnya transparansi penegakan hukum lingkungan.

Desakan Forum Aktivis Banten Bersih

FABB mengingatkan bahwa kasus limbah B3 bukan pelanggaran ringan. Dampaknya bisa berlangsung jangka panjang dan membahayakan kesehatan warga.

Karena itu, FABB mendesak:

1. KLH mengumumkan nama tersangka secara resmi.

Baca Juga :  LSMP Sukses Gelar Fun Fishing 100 Kg Ikan Air Tawar, Apresiasi 100 Hari Kerja Bupati-Wabup Tangerang

2. Transparansi perkembangan penyidikan dan temuan awal di lapangan.

3. Pemilik perusahaan bertanggung jawab melakukan pemulihan lingkungan.

4. Pemerintah Kabupaten Tangerang mengawal kasus ini dan memastikan tidak ada intervensi politik.

Belakangan baru diketahui bahwa CV Noor Annisa Kemikal merupakan perusahaan pengepul sekaligus pengelola limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3 yang diduga izin operasionalnya telah kedaluwarsa sejak 2009. Perusahaan ini dimiliki oleh Muhammad Nur atau H Nunung, Ayahanda dari Febri Nur Irawan- Anggota DPRD Kabupaten Tangerang

Publik menunggu, dan Forum Aktivis Banten Bersih memastikan akan terus mengawalnya sampai ada kepastian hukum dan pemulihan lingkungan yang nyata.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah  Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat mengakui Perkara tersebut dalam penanganan Gakkum (Penegakan Hukum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK)

“Kalau terkait CV Noor Anisa, sudah ditangani oleh tim Gakkum KLH, “jelas Ujat Sudrajat lewat pesan singkat (WhatsApp) pada Jumat (14/11/2025)

Berita Terkait

Warga Kampung Babakan Asem Purasari Gotong Royong Bersihan Matrial Longsor 
Satgas Damai Cartenz Bagikan Tas dan Alat Tulis untuk Masa Depan Papua
Melalui Dana Bankeu, Pemdes Pabangbon Leuwiliang Hotmix Jalan Desa
Oknum Pol PP Kota Tangerang Diduga Terima Pungli dari Pemilik Bangunan di Neglasari
Warga Mekarsari Komplain Sampah Jarang Diangkut, Dampak Truk Sampah DLHK Kota Tangerang Terbakar Sejak Mei
Bobrok! PT BMN di Curug Diduga Produksi HOKA Ilegal, Karyawan Tanpa Kontrak & BPJS
Tiga Bulan Kekeringan, Pemdes Pabangbon Distribusikan Ribuan Liter Air Bersih Gratis
SPPTKI Ikut Aksi di DPR RI, Desak Perlindungan dan Kepastian Kerja bagi Buruh

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:52 WIB

Warga Kampung Babakan Asem Purasari Gotong Royong Bersihan Matrial Longsor 

Jumat, 2 Oktober 2026 - 14:04 WIB

Satgas Damai Cartenz Bagikan Tas dan Alat Tulis untuk Masa Depan Papua

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:57 WIB

Melalui Dana Bankeu, Pemdes Pabangbon Leuwiliang Hotmix Jalan Desa

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:37 WIB

Oknum Pol PP Kota Tangerang Diduga Terima Pungli dari Pemilik Bangunan di Neglasari

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Warga Mekarsari Komplain Sampah Jarang Diangkut, Dampak Truk Sampah DLHK Kota Tangerang Terbakar Sejak Mei

Berita Terbaru