STOP Latsarmil untuk Calon Manajer KDMP, Fokus pada Pembinaan Manajerial Koperasi

- Jurnalis

Sabtu, 27 Juni 2026 - 23:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aceng Syamsul Hadie (ASH)

MAJALENGKA, Suararealitas.co – Kematian demi kematian yang terjadi dalam pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah. Ketika sebuah program pendidikan yang bertujuan mencetak sumber daya manusia unggul justru berujung pada hilangnya nyawa peserta, maka yang harus dipertanyakan bukan sekadar prosedur pelaksanaannya, melainkan juga relevansi konsep pendidikan itu sendiri.

Pernyataan Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, yang meminta penghentian materi latihan dasar kemiliteran dalam pendidikan calon manajer KDMP patut mendapat perhatian serius. Usulan tersebut bukan sekadar reaksi emosional atas jatuhnya korban jiwa, tetapi merupakan refleksi rasional terhadap ketidaksesuaian antara tujuan pendidikan dan metode yang digunakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaannya sederhana: apakah seorang manajer koperasi membutuhkan kemampuan dasar kemiliteran untuk mengelola organisasi ekonomi rakyat?

Jawabannya tentu tidak.

Manajer koperasi adalah profesi yang membutuhkan kompetensi di bidang tata kelola organisasi, manajemen keuangan, kepemimpinan, pengembangan usaha, pemasaran, digitalisasi, pengelolaan risiko, serta kemampuan membangun jejaring ekonomi masyarakat. Mereka bukan prajurit yang dipersiapkan untuk menghadapi medan perang atau operasi pertahanan negara.

Baca Juga :  BRI BO Kalideres Peringati Hari Pahlawan Melalui Upacara dan Penguatan Nilai Kepahlawanan di Tempat Kerja

Memang benar, nilai-nilai disiplin, loyalitas, integritas, dan semangat kebangsaan yang selama ini menjadi alasan dimasukkannya Latsarmil memiliki sisi positif. Namun, nilai-nilai tersebut sesungguhnya dapat ditanamkan melalui pendekatan pendidikan sipil yang lebih relevan, manusiawi, dan aman, tanpa harus mengadopsi pola pelatihan fisik ala militer yang berisiko tinggi.

Lima korban jiwa yang telah terjadi bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah anak bangsa yang seharusnya dipersiapkan menjadi penggerak ekonomi desa, bukan menjadi korban eksperimen kebijakan pendidikan yang tidak tepat sasaran. Jika evaluasi hanya berfokus pada pengetatan pemeriksaan kesehatan, peningkatan pengawasan medis, atau penyesuaian intensitas latihan, maka pemerintah sesungguhnya sedang memperbaiki prosedur, bukan menyelesaikan akar persoalan.

Akar persoalannya adalah kesalahan paradigma.

Paradigma bahwa kedisiplinan hanya dapat dibentuk melalui pendekatan semi-militer merupakan cara pandang yang sudah saatnya ditinggalkan. Banyak negara maju membangun kapasitas kepemimpinan dan manajemen melalui metode pembelajaran partisipatif, simulasi bisnis, studi kasus, mentoring profesional, hingga pelatihan kepemimpinan berbasis pengalaman lapangan tanpa melibatkan unsur kemiliteran.

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih merupakan proyek strategis nasional yang digagas untuk memperkuat ekonomi kerakyatan. Oleh karena itu, pendidikan calon manajernya harus diarahkan pada penguatan kapasitas kewirausahaan, tata kelola, literasi digital, pengelolaan keuangan, pembangunan jejaring usaha, serta pemahaman sosial masyarakat desa.

Baca Juga :  Keamanan Siber, Menko Polkam: Prasyarat Mutlak Jaga Stabilitas Politik dan Keamanan Nasional

Alih-alih menghabiskan waktu dan energi dalam latihan fisik militer, para calon manajer seharusnya dibekali kemampuan menyusun rencana bisnis, membaca laporan keuangan, mengelola konflik organisasi, membangun kemitraan investasi, serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan daya saing koperasi.

Keberanian pemerintah untuk menghentikan Latsarmil bagi calon manajer KDMP bukan berarti melemahkan semangat nasionalisme. Justru sebaliknya, langkah tersebut menunjukkan keberanian untuk mengakui bahwa sebuah kebijakan perlu dikoreksi ketika terbukti tidak efektif dan berpotensi membahayakan.

Sudah saatnya pendidikan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih kembali pada tujuan utamanya: mencetak manajer profesional yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat, bukan membentuk pseudo-prajurit yang kehilangan relevansi dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Karena pada akhirnya, koperasi tidak membutuhkan komandan lapangan. Koperasi membutuhkan manajer yang kompeten, profesional, dan mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Penulis : ASH

Editor : Eka

Berita Terkait

HIMAPI UCA Jadikan Berbagi Sebagai Budaya
Semangat Muharram, Karang Taruna Desa Sukawali Salurkan Santunan Anak Yatim-Piatu Melalui “Sukawali Berbagi”
Peringati HANI 2026, GNB DPW Banten Ajak Generasi Muda Wujudkan “Banten Bersinar” Bebas Narkoba
Kasus Pengeroyokan Di Cengkareng Belum Terungkap, Publik Menanti Hasil Penyelidikan
Pelindo Salurkan Ratusan Bibit Pohon untuk Dukung Program Lingkungan di Penjaringan
Kolaborasi kecamatan kelapa Gading SMKN33 jakarta dan para kolaborator dalam penanganan stunting di wilayah kecamatan kelapa Gading
Wali Kota Jakbar Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, Gandeng YPHMI dan KAI DKI Jakarta
Optimalkan Lahan Tidur, KSO TPK Koja dan Pemerintah Setempat Sukses Panen Singkong serta Terong lewat Urban Farming

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 23:24 WIB

STOP Latsarmil untuk Calon Manajer KDMP, Fokus pada Pembinaan Manajerial Koperasi

Jumat, 26 Juni 2026 - 19:52 WIB

HIMAPI UCA Jadikan Berbagi Sebagai Budaya

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:08 WIB

Semangat Muharram, Karang Taruna Desa Sukawali Salurkan Santunan Anak Yatim-Piatu Melalui “Sukawali Berbagi”

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:33 WIB

Peringati HANI 2026, GNB DPW Banten Ajak Generasi Muda Wujudkan “Banten Bersinar” Bebas Narkoba

Jumat, 26 Juni 2026 - 12:56 WIB

Kasus Pengeroyokan Di Cengkareng Belum Terungkap, Publik Menanti Hasil Penyelidikan

Berita Terbaru

Berita Aktual

Munas Ke-1 BAI Siap Digelar di Jakarta

Sabtu, 27 Jun 2026 - 18:13 WIB