Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Iklan
Iklan

Pasang Iklan Hubungi Admin

Baca berita tanpa iklan. Gabung Suara Realitas

Suara Realitas Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Suara Realitas Masuk
S+
Tranding
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Suara Realitas. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWT85 Persen Pangan Maluku Utara Masih Bergantung dari Luar, Food Estate Terpadu Didorong Jadi SolusiKomentar: 0
Fendy Abdullah Hairin

85 Persen Pangan Maluku Utara Masih Bergantung dari Luar, Food Estate Terpadu Didorong Jadi Solusi

Suara Realitas, 31 Agustus 2026, 20:15 WIB · 3 menit bacaDiperbarui Baca di App
Huruf
POTRET - Ketua Tim Pangan Strategis Food Estate Nasional, Fendy Abdullah Hairin mendorong kemandirian pangan terpadu di Maluku Utara. (Foto: Ekslusif Suara Realitas/Za).

JAKARTA, suararealitas.co – Tim Pangan Strategis Nasional mendorong percepatan pembangunan dan pengembangan lumbung pangan terpadu atau food estate di Provinsi Maluku Utara melalui skema investasi.

Langkah itu disebut strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan daerah terhadap pasokan pangan dari luar provinsi.

Ketua Tim Pangan Strategis Food Estate Nasional, Fendy Abdullah Hairin menilai, bahwa Maluku Utara memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat lumbung pangan di kawasan timur Indonesia.

Maluku Utara disebut memiliki kekayaan sumber daya maritim, perikanan, pertanian, perkebunan dan peternakan yang dapat dikembangkan dalam sebuah ekosistem pangan terpadu dari hulu hingga hilir.

“Ketahanan pangan nasional bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis demi kedaulatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Fendy dalam Meeting Investasi Pembangunan dan Pengembangan Lumbung Pangan Terpadu (Food Estate), di Jakarta, Senin (31/8).

Selain potensi sumber daya alam, Maluku Utara juga memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Berdasarkan data BPS tahun 2025 yang disampaikan dalam forum, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 34,17 persen.

Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu modal penting untuk mendorong investasi sekaligus mempercepat pembangunan sektor pangan di kawasan timur Indonesia.

Konsep Terintegrasi

Investasi yang ditawarkan China National Building Material Group mengusung konsep ekosistem pangan terpadu dari hulu hingga hilir.

Baca Juga :  Usai Dilantik, Lurah Harry Firmansyah Tegaskan Pelayanan Publik dan Aspirasi Warga Pademangan Barat 

Konsep tersebut mencakup integrasi berbagai subsektor, mulai dari perikanan, perkebunan, peternakan hingga pertanian dalam satu kawasan yang saling terhubung.

Selain produksi, pembangunan infrastruktur pendukung dan hilirisasi juga menjadi bagian penting dari konsep tersebut.

Fasilitas logistik serta pengolahan hasil pertanian dan perikanan akan disiapkan untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah transfer teknologi. Teknologi agribisnis modern diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia lokal.

Tim Pangan Strategis Nasional menilai kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi dan mitra internasional menjadi faktor penting dalam merealisasikan program tersebut.

“Kolaborasi Pentahelix ini mencakup komitmen kuat dalam menghadirkan investasi, teknologi modern, serta infrastruktur pendukung yang komprehensif bagi sektor kelautan, perikanan, dan pertanian di Maluku Utara,” ujarnya.

85 Persen Pasokan Pangan Masih Ketergantungan

Diketahui, salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah tingginya ketergantungan Maluku Utara terhadap pasokan pangan dari luar provinsi.

Disebutkan, sekitar 85 persen kebutuhan pangan Maluku Utara masih dipasok dari luar daerah. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk membangun sistem pangan yang lebih mandiri.

Karena itu, pembangunan lumbung pangan terpadu dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produksi pangan lokal, memperkuat rantai pasok, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani, nelayan dan pelaku usaha di Maluku Utara.

Baca Juga :  Intip 10 Brand Mobil Cina Paling Laris di Tanah Air pada Juli 2025

Investasi Jadi Alternatif Pembiayaan

Program ini juga dinilai memiliki arti strategis di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.

Tim Pangan Strategis Nasional menegaskan bahwa pembangunan ketahanan pangan tidak harus sepenuhnya bergantung pada APBN maupun APBD.

Skema investasi dapat menjadi alternatif pembiayaan untuk mempercepat pembangunan kawasan pangan terpadu.

Pertemuan di Jakarta tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan rencana penandatanganan nota kesepahaman atau MoU bersama Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah.

Selain itu, direncanakan pulalaunchingprogram investasi di Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Tengah.

Langkah tersebut diharapkan menjadi awal konkret bagi terbentuknya kawasan lumbung pangan terpadu yang mandiri, produktif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, program tersebut ditargetkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani, nelayan, peternak, pelaku usaha serta masyarakat Maluku Utara secara luas.

Kendati demikian, pertemuan investasi ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam membangun ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, sekaligus menjadikan Maluku Utara sebagai salah satu kekuatan pangan baru di kawasan timur Indonesia.

Lihat Ekonomi & Bisnis Selengkapnya→
Memuat berita berikutnya…
Artikel Terkait Ekonomi & Bisnis
Berita AktualKanal lain
NasionalKanal lain