JAKARTA, suararealitas.co – Tim Pangan Strategis Nasional mendorong percepatan pembangunan dan pengembangan lumbung pangan terpadu atau food estate di Provinsi Maluku Utara melalui skema investasi.
Langkah itu disebut strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan daerah terhadap pasokan pangan dari luar provinsi.
Ketua Tim Pangan Strategis Food Estate Nasional, Fendy Abdullah Hairin menilai, bahwa Maluku Utara memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat lumbung pangan di kawasan timur Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Maluku Utara disebut memiliki kekayaan sumber daya maritim, perikanan, pertanian, perkebunan dan peternakan yang dapat dikembangkan dalam sebuah ekosistem pangan terpadu dari hulu hingga hilir.
“Ketahanan pangan nasional bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis demi kedaulatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Fendy dalam Meeting Investasi Pembangunan dan Pengembangan Lumbung Pangan Terpadu (Food Estate), di Jakarta, Senin (31/8).
Selain potensi sumber daya alam, Maluku Utara juga memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Berdasarkan data BPS tahun 2025 yang disampaikan dalam forum, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 34,17 persen.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu modal penting untuk mendorong investasi sekaligus mempercepat pembangunan sektor pangan di kawasan timur Indonesia.
Konsep Terintegrasi
Investasi yang ditawarkan China National Building Material Group mengusung konsep ekosistem pangan terpadu dari hulu hingga hilir.
Konsep tersebut mencakup integrasi berbagai subsektor, mulai dari perikanan, perkebunan, peternakan hingga pertanian dalam satu kawasan yang saling terhubung.
Selain produksi, pembangunan infrastruktur pendukung dan hilirisasi juga menjadi bagian penting dari konsep tersebut.
Fasilitas logistik serta pengolahan hasil pertanian dan perikanan akan disiapkan untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah transfer teknologi. Teknologi agribisnis modern diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia lokal.
Tim Pangan Strategis Nasional menilai kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi dan mitra internasional menjadi faktor penting dalam merealisasikan program tersebut.
“Kolaborasi Pentahelix ini mencakup komitmen kuat dalam menghadirkan investasi, teknologi modern, serta infrastruktur pendukung yang komprehensif bagi sektor kelautan, perikanan, dan pertanian di Maluku Utara,” ujarnya.
85 Persen Pasokan Pangan Masih Ketergantungan
Diketahui, salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah tingginya ketergantungan Maluku Utara terhadap pasokan pangan dari luar provinsi.
Disebutkan, sekitar 85 persen kebutuhan pangan Maluku Utara masih dipasok dari luar daerah. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk membangun sistem pangan yang lebih mandiri.
Karena itu, pembangunan lumbung pangan terpadu dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produksi pangan lokal, memperkuat rantai pasok, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani, nelayan dan pelaku usaha di Maluku Utara.
Investasi Jadi Alternatif Pembiayaan
Program ini juga dinilai memiliki arti strategis di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
Tim Pangan Strategis Nasional menegaskan bahwa pembangunan ketahanan pangan tidak harus sepenuhnya bergantung pada APBN maupun APBD.
Skema investasi dapat menjadi alternatif pembiayaan untuk mempercepat pembangunan kawasan pangan terpadu.
Pertemuan di Jakarta tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan rencana penandatanganan nota kesepahaman atau MoU bersama Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah.
Selain itu, direncanakan pulalaunchingprogram investasi di Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Tengah.
Langkah tersebut diharapkan menjadi awal konkret bagi terbentuknya kawasan lumbung pangan terpadu yang mandiri, produktif dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, program tersebut ditargetkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani, nelayan, peternak, pelaku usaha serta masyarakat Maluku Utara secara luas.
Kendati demikian, pertemuan investasi ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam membangun ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, sekaligus menjadikan Maluku Utara sebagai salah satu kekuatan pangan baru di kawasan timur Indonesia.




































