JAKARTA, Suararealitas.co – World Safety Organization (WSO) Indonesia menggelar Exclusive Roundtable Discussion bertajuk “Safety 2030: Future Trends in Safety – Shaping the Future of Safety Leadership & Innovation” di Jakarta, Selasa (28/7/2026). Forum ini menjadi wadah diskusi para pemangku kepentingan untuk membahas masa depan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), khususnya dalam menghadapi percepatan transformasi digital, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta tantangan perubahan iklim menuju tahun 2030.
Chairman WSO Indonesia, Soehatman Ramli, WSO-CSM, menegaskan bahwa tantangan dunia kerja ke depan semakin kompleks sehingga tidak dapat dihadapi secara sendiri-sendiri. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun sistem keselamatan kerja yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.
“Ke depan tantangan dunia semakin berat dengan era digitalisasi dan berbagai perubahan yang terjadi. Karena itu, WSO Indonesia memiliki inisiatif untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, saling mengisi, dan membangun kekuatan bersama dalam meningkatkan budaya keselamatan,” ujar Soehatman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi AI dalam sistem K3 bukanlah untuk menggantikan tenaga manusia, melainkan menjadi instrumen pendukung yang mampu meningkatkan perlindungan terhadap pekerja, terutama pada sektor-sektor dengan tingkat risiko tinggi.
“Salah satunya dengan pendekatan AI itu bukan berarti orangnya dibuang. Tidak. Justru orangnya diamankan dengan menggunakan teknologi dan AI,” tegasnya.
Menurut Soehatman, penerapan AI memungkinkan penggunaan sensor pintar pada area kerja berisiko, seperti pekerjaan di ketinggian maupun lingkungan kerja berbahaya lainnya. Ketika sistem mendeteksi potensi bahaya, teknologi AI dapat memberikan peringatan dini secara real time sehingga tindakan pencegahan dapat segera dilakukan sebelum terjadi kecelakaan kerja.
Untuk mempercepat transformasi tersebut, WSO Indonesia juga memperkuat kerja sama internasional, termasuk dengan Singapura yang dinilai telah memiliki pengalaman dan inovasi dalam penerapan teknologi keselamatan kerja berbasis digital. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat transfer pengetahuan, pengembangan kompetensi, serta implementasi sistem K3 berbasis AI di Indonesia.
Selain mendorong inovasi teknologi, WSO Indonesia menekankan bahwa budaya keselamatan kerja harus menjadi perhatian seluruh pelaku usaha, tidak hanya perusahaan besar tetapi juga sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor informal.
Menurut Soehatman, angka kecelakaan kerja masih banyak ditemukan di sektor informal, seperti pertanian, perikanan, konstruksi skala kecil, dan berbagai usaha mikro. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi dan implementasi budaya K3 perlu diperluas agar menjangkau seluruh lapisan dunia usaha.
“Harapan kita adalah K3 tetap menjadi satu bagian penting dalam menjalankan bisnis. Ke depan, K3 harus menjadi bagian integral dari strategi bisnis sehingga mampu menciptakan produktivitas sekaligus melindungi sumber daya manusia,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Soehatman juga mengingatkan bahwa perubahan iklim menjadi tantangan baru yang harus diantisipasi dalam pengelolaan keselamatan kerja. Meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, suhu panas, banjir, hingga bencana hidrometeorologi berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja sekaligus menurunkan produktivitas tenaga kerja di berbagai sektor.
Karena itu, WSO Indonesia mendorong agar implementasi K3 diintegrasikan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta target Sustainable Development Goals (SDGs). Integrasi tersebut dinilai penting untuk menciptakan dunia usaha yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan, sekaligus memastikan keselamatan serta kesehatan pekerja tetap menjadi prioritas utama di tengah perubahan global.
Melalui forum Safety 2030, WSO Indonesia berharap semakin banyak pemerintah, dunia usaha, akademisi, praktisi, dan organisasi profesi yang membangun kolaborasi dalam mengembangkan inovasi keselamatan kerja. Dengan sinergi tersebut, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan masa depan melalui budaya keselamatan yang kuat, kepemimpinan yang visioner, serta pemanfaatan teknologi yang berorientasi pada perlindungan manusia.




































