Young Engineers Festival Jadi Langkah PII Menuju CAFEO 44 di Bandung

- Jurnalis

Kamis, 17 September 2026 - 17:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

JAKARTA, Suararealitas.co— Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bersiap menggelar Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) ke-44 di Bandung pada 20–22 Oktober 2026 mendatang.

Persiapan perhelatan regional tersebut mengemuka dalam kegiatan Young Engineers Festival (YEF) 2026 – Road to CAFEO 44 di Jakarta, Kamis (17/9/2026). Forum ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi para insinyur muda di kawasan ASEAN dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan, mulai dari transformasi digital, transisi energi, perubahan iklim, hingga kebutuhan industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengusung tema “Engineering the Future: Driving Innovation, Sustainability, Green Jobs, and Inclusive Leadership for ASEAN”, YEF 2026 menjadi wadah bagi para insinyur muda untuk bertukar gagasan, membangun jejaring, serta mendorong kolaborasi lintas negara.

Dalam opening speech, Chairperson of Committee CAFEO 44 sekaligus Executive Director Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ir. Santhi Serad, M.Sc., IPU., ASEAN Eng., mengatakan masa depan ASEAN tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan para insinyur dalam memahami aspek kemanusiaan, keberlanjutan, serta membangun kolaborasi lintas negara.

“ASEAN adalah kawasan yang dinamis dan beragam, yang dipersatukan oleh aspirasi bersama untuk perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan berkelanjutan,” ujar Santhi.

Dalam konteks perubahan tersebut, Sekretaris Jenderal PII, Dr. Ir. Teguh Haryono, dalam opening speech menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi yang semakin memengaruhi dunia keinsinyuran.

Perubahan tersebut membuat batas-batas tradisional dalam disiplin ilmu teknik turut bergeser. Dunia modern tidak lagi hanya membutuhkan insinyur yang memiliki pengetahuan teknis kuat untuk menjalankan pekerjaan secara efisien, tetapi juga membutuhkan engineer yang mampu menjadi pelopor keberlanjutan, pemimpin transformasi teknologi, serta penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Teguh juga menilai perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia. Engineer dituntut tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dan memahami dampak inovasi terhadap masyarakat, lingkungan, serta dunia kerja.

Dalam sambutannya, Teguh mengapresiasi tema yang diangkat dalam festival tersebut karena dinilai relevan dengan tantangan yang dihadapi dunia keinsinyuran saat ini, termasuk kebutuhan untuk mengembangkan lapangan kerja dan kemakmuran yang lebih inklusif di kawasan Asia-Pasifik.

Sementara itu, Santhi mengatakan ASEAN memiliki potensi besar karena didukung populasi muda, pertumbuhan ekonomi, serta kekayaan sumber daya alam dan budaya. Namun, kawasan tersebut juga menghadapi berbagai tantangan bersama, mulai dari perubahan iklim, transisi energi, urbanisasi yang cepat, transformasi digital, hingga ketimpangan akses terhadap berbagai peluang.

“Tantangan-tantangan ini tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja. Hal ini membutuhkan para insinyur ASEAN untuk bekerja sama, berbagi pengetahuan, dan menciptakan solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat dan planet kita,” katanya.

Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, pembangunan hijau juga harus mampu menciptakan pekerjaan yang layak, sementara kepemimpinan di bidang teknik perlu memberikan ruang lebih luas bagi generasi muda, perempuan, dan berbagai kelompok masyarakat.

Baca Juga :  Bupati Letakan Batu Pertama Rumah Layak Huni Di Desa Tanjung Kait

“Para insinyur muda bukan hanya pemimpin masa depan. Kalian sudah menjadi inovator, pemecah masalah, dan agen perubahan saat ini,” tuturnya.

Menjelang penyelenggaraan CAFEO 44 di Bandung, Santhi mengajak para insinyur muda dari Indonesia maupun negara-negara ASEAN untuk berpartisipasi aktif dalam memperkuat jejaring dan kerja sama regional.

“CAFEO 44 harus menjadi lebih dari sekadar konferensi tahunan. Ini harus menjadi platform untuk mengubah dialog menjadi kolaborasi dan kolaborasi menjadi dampak nyata,” ujarnya.

Selanjutnya, Chairperson of the Young Engineers Festival 2026, Ir. Rifqi Taufiqurrahman, S.T., M.T., CEM, mengatakan YEF 2026 dirancang sebagai wadah untuk bertukar gagasan dan membangun kolaborasi antarsesama insinyur muda di kawasan ASEAN.

“Kita berkumpul dengan semangat bersama untuk merekayasa masa depan melalui teknologi, keberlanjutan, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan yang inklusif bagi ASEAN,” ujar Rifqi.

Menurut Rifqi, perkembangan teknologi, transisi energi, digitalisasi, dan pembangunan berkelanjutan telah mengubah cara masyarakat hidup dan bekerja. Karena itu, peran engineer tidak hanya terbatas pada pengembangan solusi teknis, tetapi juga memastikan inovasi mampu menciptakan peluang yang berkelanjutan dan memberikan dampak berarti bagi masyarakat.

“Melalui festival ini, kami berharap para insinyur muda dapat belajar, membangun koneksi, bertukar gagasan, berkolaborasi, dan bersama-sama membangun masa depan,” katanya.

CAFEO 44 Tampilkan Industri Strategis Indonesia

CAFEO 44 di Bandung diproyeksikan menghadirkan sekitar 600 hingga 800 lebih delegasi insinyur dari 11 negara anggota ASEAN. Forum tersebut akan menjadi ruang untuk membahas arah industrialisasi kawasan sekaligus memperkuat inovasi dan kerja sama keinsinyuran.

Penyelenggaraan CAFEO ke-44 juga disiapkan dengan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada konferensi dan diskusi di ruang pertemuan. Panitia menyiapkan 17 working group, dengan delapan kelompok kerja di antaranya melakukan diskusi teknis secara langsung di pusat-pusat industri dan lembaga strategis di Bandung.

Sejumlah lokasi yang masuk dalam agenda technical visit antara lain PT Dirgantara Indonesia (PT DI), PT Pindad, Bio Farma, Museum Geologi, PT Kereta Api Indonesia (KAI), hingga Institut Teknologi Bandung (ITB).

Santhi mengatakan konsep tersebut dirancang agar para delegasi tidak hanya bertukar gagasan mengenai perkembangan teknologi dan keinsinyuran, tetapi juga melihat secara langsung penerapan teknologi di lapangan.

“Para delegasi datang, berdiskusi, dan langsung melakukan technical visit ke lokasi produksi. Konsep ini belum pernah dilakukan negara lain, hanya kita yang menyelenggarakannya di Bandung,” ujar Santhi kepada awak media di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Menurut Santhi, agenda tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kapasitas industri strategis Indonesia kepada para delegasi ASEAN.

Pemanfaatan Kereta Cepat Whoosh dari Jakarta menuju Bandung juga menjadi bagian dari rangkaian perjalanan delegasi. Moda transportasi tersebut akan menjadi salah satu contoh perkembangan teknologi infrastruktur Indonesia yang dapat diperkenalkan kepada peserta dari negara-negara ASEAN.

Selain menampilkan kapasitas manufaktur, agenda CAFEO 44 mengusung tema “Shared Prosperity and Humanity through Inclusive and Sustainable Industrialization”, dengan menempatkan pengembangan sumber daya manusia keinsinyuran sebagai bagian penting dalam menghadapi perubahan industri.

Baca Juga :  KKP Jamin Kredibilitas Pemerintah Kelola Ekosistem Karbon Biru Nasional

Pengembangan sumber daya manusia tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan terhadap pekerjaan baru dalam era transisi industri hijau.

Rifqi mengatakan insinyur muda memiliki posisi penting dalam mendorong perubahan tersebut, terutama dalam pengembangan green jobs yang membutuhkan kompetensi baru dan kolaborasi lintas sektor keinsinyuran.

Sementara itu, isu kesiapsiagaan bencana juga masuk dalam pembahasan teknis. Dengan kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Pacific Ring of Fire, aspek mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap bencana menjadi bagian penting dalam pengembangan infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan.

Museum Geologi menjadi salah satu lokasi yang dipersiapkan dalam rangkaian technical visit untuk memperkenalkan aspek kebencanaan dan pengetahuan geologi kepada para delegasi.

AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Engineer

Selain isu industri hijau dan kebencanaan, perkembangan AI menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan masa depan profesi engineering.

Wakil Sekretaris Jenderal PII, Ir. Haudhi Ramdayuza, S.T., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu yang mendukung pekerjaan engineer, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.

“AI itu sebagai teman, bukan pengganti otak manusia. Kita yang mengarahkan tools tersebut. Penggunaan AI tetap membutuhkan nalar kritis dan analisis, tidak bisa ditelan bulat-bulat,” jelas Haudhi.

Menurutnya, pemanfaatan AI dalam dunia keinsinyuran tetap membutuhkan proses verifikasi, penalaran, dan analisis. Engineer harus mampu memahami hasil yang diberikan teknologi sebelum menjadikannya dasar dalam pengambilan keputusan profesional.

Perkembangan teknologi tersebut sekaligus memperkuat kebutuhan terhadap kolaborasi. Tantangan pembangunan yang semakin kompleks tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu atau satu negara.

“Eranya hari ini adalah kolaborasi. Pekerjaan baru seperti green jobs membutuhkan kolaborasi lintas sektor keinsinyuran,” pungkas Haudhi.

Melalui YEF 2026 dan rangkaian menuju CAFEO 44, PII mendorong terbentuknya jejaring yang lebih kuat di antara para engineer muda ASEAN. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi berkembang menjadi kerja sama konkret di bidang teknologi, energi, digitalisasi, lingkungan, industri, dan pembangunan berkelanjutan.

Rifqi menegaskan bahwa keterlibatan aktif generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun masa depan keinsinyuran dan ASEAN.

“Sebab, masa depan dunia keinsinyuran dan masa depan ASEAN akan dibentuk oleh apa yang kita pilih untuk bangun dan bagaimana kita memilih untuk berkolaborasi bersama,” tuturnya.

Dengan konsep konferensi yang dipadukan dengan working group, kunjungan teknis, pengenalan industri strategis, serta keterlibatan generasi muda, CAFEO 44 di Bandung diarahkan menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan, teknologi, industri, dan kolaborasi regional.

Rangkaian tersebut diharapkan dapat memperkuat kontribusi komunitas keinsinyuran dalam mendorong inovasi, menciptakan peluang green jobs, serta membangun industrialisasi ASEAN yang inklusif dan berkelanjutan.

Berita Terkait

Rumah Pompa Polder Kamal Muara Dioptimalkan untuk Percepat Pengendalian Genangan
Sudin SDA Jakarta Utara Kerahkan Pengerukan Saluran untuk Antisipasi Genangan
Lomba PKK Tingkat Provinsi, Kabupaten Tangerang Raih Juara Umum
FASI Apresiasi Polri: Dari Cikeas, Indoor Skydiving Asia Makin Melesat
382 Peserta, 20 Negara, Cikeas Mendunia! Wakapolri Buka Kapolri Cup II
Wakapolri: Kapolri Cup II Dorong Indoor Skydiving Indonesia Mendunia
Pengamanan Embarkasi KM Labobar Tujuan Surabaya Berjalan Aman dan Lancar, 1.414 Penumpang Terlayani
Polres Pelabuhan Tanjung Priok Tingkatkan Pengamanan Objek Vital di PT PLN Indonesia Power UBP Priok

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 17:17 WIB

Rumah Pompa Polder Kamal Muara Dioptimalkan untuk Percepat Pengendalian Genangan

Kamis, 17 September 2026 - 17:01 WIB

Young Engineers Festival Jadi Langkah PII Menuju CAFEO 44 di Bandung

Kamis, 17 September 2026 - 16:44 WIB

Sudin SDA Jakarta Utara Kerahkan Pengerukan Saluran untuk Antisipasi Genangan

Kamis, 17 September 2026 - 16:41 WIB

Lomba PKK Tingkat Provinsi, Kabupaten Tangerang Raih Juara Umum

Kamis, 17 September 2026 - 16:15 WIB

FASI Apresiasi Polri: Dari Cikeas, Indoor Skydiving Asia Makin Melesat

Berita Terbaru