Menghitung Hari Waduk Saguling: Alarm Kritis dari Beban Polusi dan Ancaman Eutrofikasi

- Jurnalis

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TERPANTAU - Waduk Saguling dipenuhi tumpukkan sampah yang menggunung. (Foto: Bandungkita.id/Ist).

TERPANTAU - Waduk Saguling dipenuhi tumpukkan sampah yang menggunung. (Foto: Bandungkita.id/Ist).

BANDUNG, suararealitas.co – Waduk Saguling, yang membentang luas di Kabupaten Bandung Barat, bukan sekadar bentang air raksasa penampung limpasan Sungai Citarum.

Dikutip dari Bandungkita.id, ia (Waduk Saguling) adalah urat nadi strategis nasional sebagai generator energi bersih berkapasitas 4 x 175 MW bagi sistem kelistrikan Jawa-Bali, benteng pengendali banjir bagi wilayah hilir, hingga episentrum ekonomi keramba jaring apung (KJA) bagi ribuan warga setempat.

Namun, di balik permukaan airnya yang tampak tenang, tersimpan bom waktu ekologis yang kian mendekati titik kritis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasil kajian dari jurnal Institute Tekhnologi Bandung (ITB) tahun 2024 yang mendalam mengenai dinamika kualitas air Waduk Saguling baru-baru ini menyajikan data yang mencengangkan sekaligus mencemaskan.

Disana, angka-angka parameter kimiawi dan biologis tidak lagi sekadar menjadi indikator di atas kertas, melainkan sebuah sinyal bahaya (alarm) yang menegaskan bahwa waduk kebanggaan Jawa Barat ini sedang mengalami percepatan degradasi lingkungan akibat ulah manusia (anthropogenic stress).

Tercekik Limbah, Kehabisan Napas

Salah satu parameter paling krusial dalam menentukan kesehatan ekosistem perairan adalah kadar Oksigen Terlarut atau Dissolved Oxygen (DO).

Berdasarkan data pemantauan di berbagai stasiun, tingkat DO di Waduk Saguling menunjukkan tren yang sangat memprihatinkan, khususnya di lapisan permukaan (kedalaman 1,5 meter) pada musim-musim tertentu.

Ketika pasokan air berkurang di tahun kering atau normal, nilai DO kerap merosot hingga di bawah baku mutu minimal yang ditetapkan oleh Pemerintah (PP No. 22 Tahun 2021 Kelas II, yaitu minimal 4 mg/L).

Penurunan drastis DO ini paling parah terdeteksi di area Teluk Cihaur dan beberapa stasiun bagian tengah waduk.

Apa dampaknya? Ketika kadar oksigen anjlok, ekosistem perairan seolah kehabisan napas.

Di sinilah letak ironinya: berkurangnya oksigen memicu kondisi anaerobik yang mengubah sisa-sisa bahan organik di dasar waduk menjadi senyawa beracun seperti gas Hidrogen Sulfida dan Amonia.

Baca Juga :  Dugaan Maladministrasi Perangkat Desa di Jepara, Kades Rajekwesi Dilaporkan ke Ombudsman Jateng

Gas beracun inilah yang kerap menjadi biang keladi fenomena upwelling atau “air balik” sebuah pembunuh massal bagi jutaan ikan di KJA yang kerap merugikan petani lokal miliaran rupiah dalam semalam.

Jeratan Amonia dan Nitrat dari Hulu ke Hilir

Beban polusi Saguling kian diperparah oleh tingginya kadar Amonia total dan Nitrat. Dari stasiun pemantauan masuknya air (inflow) hingga area budidaya KJA, konsentrasi Amonia bebas kerap melampaui batas toleransi organisme air.

Sumbernya sudah bisa ditebak: akumulasi limbah domestik perkotaan dari wilayah Bandung Raya yang tak terolah, limpasan pupuk pertanian dari hulu, hingga sisa pakan ikan (pelet) dari ribuan petak KJA itu sendiri yang terus mengendap selama bertahun-tahun.

Kondisi ini diperparah oleh tingginya angka Biochemical Oxygen Demand (BOD). Tingginya nilai BOD mencerminkan betapa masifnya jumlah bahan organik yang harus diurai oleh mikroorganisme di dalam air.

Semakin banyak limbah organik yang masuk dari Sungai Citarum dan anak-anak sungainya, semakin besar oksigen yang terkuras habis hanya untuk proses pembusukan limbah tersebut.

Ancaman Nyata Eutrofikasi: Waduk yang Menua Sebelum Waktunya

Data paling mengkhawatirkan dari kajian ini adalah status trofik Waduk Saguling yang secara konsisten berada pada kondisi Eutrofik (kaya nutrisi limbah) hingga Hipertrofik (sangat lewat jenuh nutrisi).

Konsentrasi Total Nitrogen (Total-N) dan Total Fosfor (Total-P) telah melompat jauh di atas ambang batas normal perairan sehat.

Limpasan unsur hara (terutama Fosfor dari deterjen rumah tangga dan sisa pakan ikan) memicu terjadinya “ledakan” populasi alga dan tanaman air seperti enceng gondok.

Fenomena eutrofikasi ini tidak hanya menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam kolom air yang otomatis mematikan proses fotosintesis alami perairan tetapi juga mempercepat pendangkalan (sedimentasi) waduk.

Waduk Saguling kini tengah mengalami proses penuaan dini secara ekstrem akibat akumulasi zat hara yang tak terkendali.

Baca Juga :  Ketika Media Tak Lagi Independen: Dampak Tekanan Ekonomi Terhadap Jurnalisme

Menagih Komitmen Bersama: Dimana Adaptasi dan Mitigasinya?

Kondisi kritis Waduk Saguling ini tidak boleh lagi direspons dengan retorika atau kebijakan setengah hati.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta aturan turunannya di tingkat daerah (seperti Keputusan Gubernur Jawa Barat terkait penataan KJA) harus ditegakkan tanpa pandang bulu.

Ada tiga langkah mitigasi mendesak yang harus segera diakselerasi:

1. Pengendalian Limbah dari Hulu: Pemerintah daerah di wilayah Bandung Raya wajib memperketat pengawasan terhadap industri yang membuang limbah kimia, serta memperluas cakupan infrastruktur IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) domestik agar limbah rumah tangga tidak langsung menggelontor ke anak-anak Sungai Citarum.

2. Restrukturisasi dan Zonasi KJA yang Rasional: Jumlah KJA di Waduk Saguling harus benar-benar disesuaikan dengan daya dukung (carrying capacity0) lingkungan perairan.

Praktik pemberian pakan ikan yang tidak efisien harus diubah menggunakan teknologi pakan ramah lingkungan demi menekan residu fosfor di dasar waduk.

3. Penerapan Teknologi Eko-Drainase dan Restorasi Perairan: Diperlukan upaya pembersihan sedimen secara berkala di area-area kritis serta pemanfaatan teknologi aerasi buatan pada zona-zona mati oksigen untuk membantu memulihkan kualitas air.

Waduk Saguling adalah cermin dari bagaimana kita memperlakukan lingkungan di kawasan hulu dan pusat kota.

Jika kita terus membiarkan raksasa air ini menjadi “tempat sampah raksasa” bagi limbah domestik, industri, dan agrokimia, maka bersiaplah menghadapi konsekuensi fatal: matinya turbin-turbin pembangkit listrik, hilangnya mata pencaharian ribuan warga, dan rusaknya warisan ekologis bagi generasi masa depan.

Waktu untuk menyelamatkan Saguling tidak banyak lagi. Pilihannya ada di tangan kita hari ini: bertindak radikal demi pemulihan, atau diam dan menyaksikan waduk ini mati perlahan.

Penulis : Dhomz Hermawan

Sumber Berita: https://digilib.itb.ac.id/assets/files/2024/QkFCIElWLnBkZg6.pdf

Berita Terkait

Integritas dan Karya Menjadi Cerminan Sejati Profesi Wartawan
Pentingnya Sertifikasi Internasional bagi Wartawan
Aceng Syamsul Hadie: Hamas Menyerahkan Administrasi Sipil Gaza Bukan Menyerahkan Perlawanan
Nobar Saling Bongkar Polri vs Kejaksaan, Ngeri-Ngeri Sedap
Mengapa Pemerintah Tetap Ngotot Melanjutkan MBG? Antara Gengsi Politik, Beban Fiskal, dan Krisis Rasionalitas Kebijakan
Terkabulnya Praperadilan Roy Suryo || Aceng Syamsul Hadie: Tamparan bagi Aparat yang Menyalahgunakan Kekuasaan
Aceng Syamsul Hadie: Dibalik Kasus Jampidsus Febrie, Negara Tidak Boleh Menjadi Arena Adu Kekuatan Penegakan Hukum
Ketidakhadiran Delegasi Tingkat Tinggi Indonesia di Pemakaman Ali Khamenei || Aceng Syamsul Hadie: Apakah Politik Luar Negeri Bebas Aktif di Era Prabowo Mengalami Krisis Identitas?

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:46 WIB

Integritas dan Karya Menjadi Cerminan Sejati Profesi Wartawan

Senin, 13 Juli 2026 - 23:13 WIB

Pentingnya Sertifikasi Internasional bagi Wartawan

Senin, 13 Juli 2026 - 23:03 WIB

Aceng Syamsul Hadie: Hamas Menyerahkan Administrasi Sipil Gaza Bukan Menyerahkan Perlawanan

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:28 WIB

Nobar Saling Bongkar Polri vs Kejaksaan, Ngeri-Ngeri Sedap

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:25 WIB

Mengapa Pemerintah Tetap Ngotot Melanjutkan MBG? Antara Gengsi Politik, Beban Fiskal, dan Krisis Rasionalitas Kebijakan

Berita Terbaru