JAKARTA, Suararealitas.co — Upaya memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan sampah menjadi perhatian dalam Local Hero Indonesia Forum 2026 yang digelar di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (31/8/2026).
Mengusung tema “From Campaign to Collaboration: Strengthening Multi-Stakeholder Partnerships for Sustainable Waste Management”, forum tersebut menjadi ruang bertukar wawasan, berbagi pengalaman, sekaligus mendorong sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, komunitas, pemerhati lingkungan, dan generasi muda untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Dalam puncak acara tersebut juga diumumkan para pemenang Campaign Local Hero Indonesia 2026 sebagai bentuk apresiasi terhadap individu maupun kelompok yang memiliki gagasan dan gerakan nyata dalam mendorong perubahan perilaku serta pengelolaan sampah di masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengatakan persoalan sampah menjadi salah satu tantangan serius yang harus dihadapi bersama. Karena itu, Jakarta membutuhkan perubahan mendasar dalam pola pengelolaan sampah, termasuk melalui peningkatan pemilahan sejak dari sumbernya.
Pramono menjelaskan, sejak 1 Agustus 2026, Jakarta menerapkan perubahan prinsip pengelolaan sampah dari sebelumnya “angkut, buang” menjadi “pilah, angkut, olah”. Kebijakan tersebut sejalan dengan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026.
“Kalau sebelumnya prinsip pengelolaan sampah adalah angkut, buang, kini berubah menjadi pilah, angkut, olah. Perubahan prinsip ini tentunya membutuhkan keseriusan dan komitmen kita bersama agar dapat berjalan dengan baik,” ujar Pramono.
Menurutnya, penerapan kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Sejak diberlakukan, terdapat penurunan jumlah sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang sekitar 500 ton per hari.
“Di Bantar Gebang sendiri, terjadi penurunan sekitar 500 ton sampah per hari. Ini tentu menjadi perkembangan yang sangat positif bagi Jakarta,” katanya.
Pramono juga menyebutkan, sejak Gerakan Pilah Sampah dicanangkan pada 10 Mei 2026, jumlah rumah tangga yang melakukan pemilahan sampah meningkat dari 5,31 persen menjadi 23,14 persen.
Pengelolaan sampah organik melalui bank sampah juga mengalami peningkatan. Dari sebelumnya terdapat 2.247 bank sampah, volume sampah organik yang dikelola meningkat dari sekitar 1.046 ton menjadi 1.432 ton.
“Dengan demikian, apa yang kita lakukan saat ini menurut saya sudah on the right track. Namun, yang tidak kalah penting adalah memastikan adanya continuity, keberlanjutan, dan keseriusan dalam menjalankan kebijakan tersebut,” tegas Pramono.
Ia juga meminta agar persoalan sampah menjadi pembahasan rutin di lingkungan Pemprov DKI Jakarta. Menurutnya, setiap minggu perlu ada satu hari khusus untuk membahas persoalan persampahan sekaligus membuka ruang bagi berbagai pihak untuk memberikan masukan, saran, dan solusi.
Pramono menilai kolaborasi dengan pihak swasta juga dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah. Salah satunya melalui penggunaan truk kompaktor berkapasitas besar dengan skema kerja sama operator dan sistem leasing.
Menurutnya, model tersebut berpotensi mengurangi beban pemerintah karena tidak harus menanggung biaya overhead yang besar maupun menambah jumlah tenaga kerja. Selain itu, pengelolaan dapat dilakukan secara lebih transparan oleh kontraktor atau pihak swasta berdasarkan standar yang jelas.
“Ini menjadi peluang bagi Jakarta untuk membuka ruang kerja sama dengan pihak mana pun yang memiliki kompetensi dan kapasitas sebagai kontraktor di bidang pengangkutan sampah,” ujarnya.

Firdaus Ali: Sampah Jakarta Sudah Darurat
Sementara itu, Pendiri Indonesia Water Institute, Prof. Ir. Firdaus Ali, M.Sc., Ph.D., menilai persoalan sampah di Jakarta saat ini sudah berada dalam kondisi darurat. Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari, sehingga pola pengelolaan konvensional berupa kumpul, angkut, dan buang dinilai tidak lagi dapat dipertahankan.
“Kalau polanya masih pola yang lama, yaitu dikumpulkan, diangkut, dibuang, suatu saat hanya hitungan hari kita nggak akan mampu lagi untuk mengelolanya,” ujar Firdaus Ali.
Menurutnya, perubahan pola pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya. Pemprov DKI Jakarta sebelumnya telah mengeluarkan kebijakan mengenai pemilahan sampah, tetapi aturan tersebut harus diikuti dengan komunikasi, sosialisasi, serta dukungan dari seluruh lapisan masyarakat.
“Dia harus dikomunikasikan, disosialisasikan. Yang tidak kalah penting itu adalah kita ingin mendapatkan support dari semua lapisan masyarakat, dunia usaha, akademisi, pemerhati, kemudian yang paling tidak kalah penting itulah generasi muda,” katanya.
Firdaus menilai keterlibatan generasi muda sangat penting karena persoalan sampah pada akhirnya berkaitan dengan perubahan perilaku masyarakat.
“Kenapa? Karena kita merubah perilaku,” ujarnya.
Pemprov DKI Jakarta juga didorong untuk memperkuat edukasi sejak usia dini melalui Dinas Pendidikan, khususnya kepada guru PAUD dan sekolah dasar (SD). Dengan demikian, kebiasaan memilah dan mengelola sampah dapat ditanamkan sejak dini dan berkembang menjadi gerakan perubahan perilaku di masyarakat.
Langkah tersebut kemudian diperkuat melalui kampanye Local Hero Indonesia 2026 yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk menghadirkan gagasan kreatif dan inovatif dalam mengatasi persoalan sampah.
“Kita adakan kampanye ini dan tentunya terdapat gagasan-gagasan yang brilian. Kita berikan apresiasi, kita berikan tempat. Yang terbaik itu kita kirim ke luar negeri untuk melihat praktik pengelolaan sampah di sana,” jelas Firdaus.
Rorotan Jadi Alternatif Pengolahan Sampah
Terkait fasilitas pengolahan sampah di Rorotan, Firdaus mengatakan fasilitas tersebut diharapkan menjadi alternatif baru bagi Jakarta agar tidak terus bergantung pada sistem pembuangan sampah ke TPA.
Fasilitas yang dibangun Pemprov DKI Jakarta secara mandiri tersebut memiliki kapasitas total mencapai 2.500 ton sampah per hari. Saat ini, kapasitas pengolahannya disebut telah mencapai sekitar 800 hingga 900 ton per hari dan ditargetkan meningkat secara bertahap.
“Sampah Jakarta yang dibawa ke Rorotan, kita pilah, kemudian menjadi bahan bakar pengganti alternatif batu bara, yaitu digunakan pabrik semen,” ujarnya.
Sampah tersebut diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Menurut Firdaus, hasil penjualan RDF dari Rorotan juga telah mampu membantu membiayai kebutuhan collection fee.
Meski demikian, pengelolaan sampah Jakarta tidak cukup hanya mengandalkan Rorotan. Penguatan fasilitas pengolahan sampah di sejumlah lokasi lain serta pengembangan TPS 3R di tingkat komunitas juga diperlukan.
Dorong Tanggung Jawab Produsen
Firdaus juga mendorong penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) atau tanggung jawab produsen terhadap produk yang dihasilkan hingga menjadi sampah.
Melalui konsep tersebut, produsen ikut bertanggung jawab secara finansial terhadap pengelolaan sampah dari produk yang mereka hasilkan. Skema ini dinilai dapat menciptakan sumber pembiayaan baru sekaligus mengurangi beban anggaran pemerintah.
“Misalkan kalau beli satu kaleng Coca-Cola, di sana ditambahkan katakan Rp50. Uang ini dikolek dari konsumen dan tentunya produsen juga menambahkan Rp50 lagi. Jadi Rp100. Kalau kaleng ini berakhir di tempat sampah, tidak dibawa kembali untuk recycle, uang sebanyak itu digunakan untuk mengelola ini yang disebut dengan Extended Producer Responsibility,” jelasnya.
Firdaus menilai skema tersebut dapat dikembangkan melalui sistem atau aplikasi yang memberikan insentif kepada masyarakat yang mengelola dan mengembalikan sampah untuk didaur ulang.
Karena itu, ia meminta dukungan media dan berbagai pihak untuk ikut menyebarluaskan gerakan pengelolaan sampah kepada masyarakat.
“Kita butuh support dari teman-teman media. Karena ini gerakan untuk menyelamatkan masa depan kita bersama,” tegasnya.
Dari Local Hero Menuju Ekonomi Sirkular
Firdaus berharap Local Hero Indonesia Forum 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Forum tersebut diharapkan mampu melahirkan lebih banyak local hero yang bergerak dalam pengelolaan sampah, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia.
“Ya, ini kan kita berharap ini bukan seremonial semata. Kita berharap akan timbul local hero yang baru, tidak hanya di Jakarta tapi di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ia optimistis gerakan yang dimulai dari Jakarta dapat mendorong perubahan lebih luas dalam pengelolaan sampah nasional.
“Kita punya keyakinan optimistis, sampah yang selama ini menjadi gravitasi akan menjadi prospek circular economy buat Indonesia,” pungkas Firdaus Ali.




































