Kecaman Ajakan Meninggalkan Zakat || Aceng Syamsul Hadie: Lebih Baik Nasaruddin Umar Mundur, Rakyat Sudah Muak dan Tidak Percaya.

- Jurnalis

Kamis, 5 Maret 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Suararealitas.co – Pernyataan Nasaruddin Umar tentang “meninggalkan zakat” — apa pun konteks dan klarifikasinya — telah membuka satu fakta telanjang: ada jarak serius antara elite keagamaan negara dan sensitivitas umat. Ini bukan sekadar polemik diksi. Ini adalah alarm keras tentang krisis kepemimpinan moral.

Zakat bukan wacana opsional. Ia rukun Islam. Ia fondasi keadilan sosial dalam bangunan syariat. Maka ketika seorang Menteri Agama terdengar mengucapkan frasa yang memberi kesan dekonstruksi terhadap zakat, publik tidak sedang bereaksi berlebihan. Publik sedang mempertahankan simbol paling dasar dari keyakinannya. Dalam politik simbolik, persepsi lebih kuat dari niat. Dan seorang pejabat publik hidup dalam dunia persepsi.

“Lebih baik Nasaruddin Umar mundur dari Jabatan Menteri Agama, sepertinya rakyat sudah muak dan tidak percaya lagi, karena terlalu banyak kasusnya”, desak Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM. selaku Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aceng menyoroti klarifikasinya bahwa yang dimaksud adalah “reorientasi filantropi” justru menimbulkan pertanyaan baru: mengapa seorang Menteri Agama gagal membaca dampak retoriknya sendiri? Dalam teori komunikasi politik, kegagalan mengantisipasi framing publik adalah indikator lemahnya sensitivitas kepemimpinan. Jika ini terjadi berulang, maka yang patut dipertanyakan bukan lagi isi pernyataan, melainkan kapasitas jabatan.

Baca Juga :  Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP ala Trump, Indonesia Jangan Jadi Kaki Tangan Blok Geopolitik Barat

Masalahnya tidak berdiri sendiri. Aceng menjelaskan, bahwa polemik zakat ini hadir di tengah jejak kontroversi yang sebelumnya telah menggerus wibawa kementerian. Dari sorotan tata kelola hingga isu-isu etik yang ramai diperbincangkan publik, seperti kasus jet pribadi OSO, dugaan pelecehan seksual tahun 2025, heboh penggeledahan KPK di kemenag tahun 2025, dugaan dana hibah, dan lain-lain.

“Akumulasi itu membentuk persepsi kolektif: institusi keagamaan negara sedang kehilangan gravitasi moralnya. Dalam studi governance, ini disebut erosion of public trust—erosi kepercayaan yang, jika dibiarkan, berubah menjadi delegitimasi”, ujarnya.

Pertanyaannya sederhana: apakah seorang Menteri Agama yang terus-menerus berada dalam pusaran kontroversi masih efektif memimpin umat yang majemuk dan sensitif? Kepemimpinan bukan sekadar bertahan di kursi kekuasaan. Ia soal menjaga kepercayaan. Ketika kepercayaan terkikis, bertahan justru bisa dibaca sebagai ketidakpekaan terhadap aspirasi publik.

Baca Juga :  Jakarta Utara: Antara Pesisir, Kepentingan, dan Masa Depan Kota

Aceng menegaskan, seruan agar mundur bukanlah ekspresi kebencian personal. Ini tuntutan akuntabilitas politik. Dalam tradisi demokrasi yang sehat, pejabat publik mengundurkan diri ketika legitimasi moralnya terganggu, bahkan tanpa tekanan hukum formal. Karena yang dijaga bukan sekadar individu, melainkan marwah institusi.

Jika Menteri Agama tetap memilih bertahan dengan narasi klarifikasi demi klarifikasi, publik akan membaca pesan yang lebih dalam: jabatan lebih penting daripada kepercayaan umat. Dan ketika persepsi itu menguat, yang runtuh bukan hanya reputasi personal, tetapi wibawa negara dalam mengelola kehidupan beragama.

“Indonesia membutuhkan Menteri Agama yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga presisi dalam komunikasi, bersih dari bayang-bayang kontroversi, dan memiliki empati sosial tinggi. Jika syarat itu tidak lagi terpenuhi, maka mundur adalah sikap paling rasional dan paling terhormat, karena jabatan adalah amanah, dan amanah yang terus dipertanyakan tidak bisa diselamatkan dengan klarifikasi—ia hanya bisa dipulihkan dengan tanggung jawab”, pungkasnya.[]

 

 

Penulis : ASH

Editor : Eka

Berita Terkait

Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP ala Trump, Indonesia Jangan Jadi Kaki Tangan Blok Geopolitik Barat
Mendengar Kisah Suka-Duka Wartawan Era 80–90-an: Ketika Idealisme Menjadi Nafas Profesi
Laboratorium Sosial: Pemolisian Berbasis Riset dan Keilmuan
Di Tengah Sorotan Publik, Survei ETOS Catat Kepercayaan Masyarakat ke Polda Metro Jaya di Atas 70 Persen
Jakarta Utara: Antara Pesisir, Kepentingan, dan Masa Depan Kota

Berita Terkait

Senin, 2 Maret 2026 - 12:44 WIB

Aceng Syamsul Hadie: Segera Keluar dari BoP ala Trump, Indonesia Jangan Jadi Kaki Tangan Blok Geopolitik Barat

Jumat, 27 Februari 2026 - 16:24 WIB

Mendengar Kisah Suka-Duka Wartawan Era 80–90-an: Ketika Idealisme Menjadi Nafas Profesi

Kamis, 12 Februari 2026 - 15:53 WIB

Laboratorium Sosial: Pemolisian Berbasis Riset dan Keilmuan

Rabu, 11 Februari 2026 - 16:44 WIB

Di Tengah Sorotan Publik, Survei ETOS Catat Kepercayaan Masyarakat ke Polda Metro Jaya di Atas 70 Persen

Kamis, 8 Januari 2026 - 20:42 WIB

Jakarta Utara: Antara Pesisir, Kepentingan, dan Masa Depan Kota

Berita Terbaru