Jakarta, 19 Juli 2026 – Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) resmi menggelar Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Pertanian Indonesia yang dirangkaikan dengan kegiatan Kopdar Tani Bareng MasDar dalam puncak Sarasehan Jaringan Petani bertajuk “Bersinergi, Berkolaborasi, Berdaya untuk Petani Indonesia Maju dan Berdaulat” di Jakarta, Minggu (19/7).
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antarorganisasi tani nasional. Di hadapan para peserta, Ketua Panitia Sarasehan sekaligus perwakilan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Ir. H. Muhammad Yadi Sofyan Noor, S.H., memperkenalkan sembilan pimpinan organisasi pertanian yang bersepakat membangun satu wadah integrasi nasional di bawah koordinasi HKTI dan Kementerian Pertanian.
Kesembilan organisasi tersebut diwakili oleh Budi (Ketua FK P4S), Haji Otong (Ketua P3SI), Fery Saifullah (Ketua IKAMAJA), Sarendra Sajad (Ketua Oleng), Syakir (Ketua PERAGI), serta perwakilan dari Sugenta, Kiara, dan KTNA yang Konsolidasi nasional ini akan ditindaklanjuti melalui agenda Kopdar Tani di 38 provinsi di Indonesia, dengan Sumatera Utara menjadi daerah pertama yang akan dikunjungi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum HKTI, Dr. Sudaryono, B.Eng., M.M., MBA, yang akrab disapa MasDar. Kehadirannya memberikan ruang dialog terbuka antara pemerintah dan para petani untuk menyampaikan berbagai aspirasi serta mencari solusi atas persoalan yang dihadapi sektor pertanian.
Sekretaris Jenderal KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) yang juga anggota Perkumpulan Penyuluh Pertanian Swadaya Indonesia, Muhammad Arifin, mengapresiasi penyelenggaraan forum tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah strategis yang mampu menjembatani kebutuhan petani dengan kebijakan pemerintah.
“Program yang disampaikan sangat baik. Semua aspirasi petani direspons dengan baik, mulai dari berbagai keluhan hingga kebutuhan di lapangan. Ini menunjukkan adanya komitmen bersama untuk benar-benar memberikan solusi bagi petani,” ujar Arifin.
Ia juga menilai penandatanganan MoU oleh sembilan organisasi tani merupakan langkah awal yang sangat penting dalam membangun sinergi nasional demi memperkuat sektor pertanian dan ketahanan pangan Indonesia.
“Seluruh organisasi petani yang hadir telah berkomitmen mendukung program ini. Tujuannya sama, yaitu memajukan pertanian Indonesia, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” katanya.
Lebih lanjut, Arifin berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi gerakan yang berkelanjutan hingga ke seluruh daerah di Indonesia. Ia menyambut baik arahan Wakil Menteri Pertanian agar forum diskusi, seminar, dan pertemuan kelompok tani terus diperluas ke berbagai wilayah sesuai kebutuhan masing-masing daerah.
Menurutnya, setiap daerah memiliki tantangan pertanian yang berbeda sehingga diperlukan forum rutin yang membahas pengembangan usaha tani, penerapan teknologi, hingga solusi atas berbagai kendala yang dihadapi petani.
“Pada prinsipnya, siapa pun yang memiliki kepentingan membangun sektor pertanian dapat menyelenggarakan forum seperti ini.
Ketua Umum HKTI juga menyatakan siap hadir dan mendukung selama tidak berbenturan dengan agenda yang telah dijadwalkan,” tutupnya.
Melalui penandatanganan MoU dan penguatan jejaring organisasi tani ini, BRMP bersama HKTI, Kementerian Pertanian, dan berbagai organisasi mitra berharap tercipta kolaborasi yang semakin solid dalam mendorong modernisasi pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mewujudkan pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaulat.




































