Jakarta, Suararealitas.co – PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI) membukukan kinerja yang tertekan pada kuartal pertama tahun 2026. Perseroan mencatatkan penjualan neto sebesar Rp36,54 miliar atau turun sekitar 5,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp38,85 miliar.
Berdasarkan paparan kinerja perusahaan, penurunan pendapatan diikuti oleh meningkatnya beban pokok penjualan menjadi Rp33,18 miliar dari sebelumnya Rp28,05 miliar. Kondisi tersebut menyebabkan laba bruto menyusut signifikan menjadi Rp3,35 miliar dibandingkan Rp10,80 miliar pada kuartal I 2025.
Di sisi operasional, beban usaha tercatat naik menjadi Rp9,34 miliar dari Rp7,41 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, Perseroan membukukan rugi usaha sebesar Rp5,98 miliar, berbalik dari laba usaha Rp3,39 miliar pada kuartal I 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kinerja laba juga tertekan oleh meningkatnya beban keuangan yang mencapai Rp2,90 miliar, naik dari Rp2,07 miliar pada tahun sebelumnya. Meskipun Perseroan memperoleh keuntungan selisih kurs bersih sebesar Rp493,07 juta, kontribusi tersebut belum mampu menutupi tekanan dari beban operasional dan beban keuangan.
Dengan kondisi tersebut, MAXI mencatatkan rugi neto sebesar Rp8,42 miliar pada kuartal I 2026, berbanding terbalik dengan laba bersih Rp2,00 miliar yang diperoleh pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rugi per saham dasar dan dilusian tercatat sebesar Rp0,87 per saham.
Dari sisi neraca, total aset Perseroan per 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp295,84 miliar, relatif stabil dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp297,59 miliar. Aset tidak lancar masih mendominasi dengan nilai Rp242,16 miliar, terutama berasal dari aset tetap sebesar Rp239,78 miliar.
Sementara itu, total liabilitas meningkat menjadi Rp158,19 miliar dari Rp151,52 miliar pada akhir 2025. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh bertambahnya utang bank jangka pendek menjadi Rp30,89 miliar dari sebelumnya Rp26,02 miliar. Adapun total utang bank, baik jangka pendek maupun jangka panjang, mencapai sekitar Rp136,16 miliar.
Di sisi ekuitas, nilai ekuitas Perseroan turun menjadi Rp137,65 miliar dari Rp146,06 miliar pada akhir tahun lalu, sejalan dengan rugi yang dibukukan selama tiga bulan pertama tahun ini.
Meski demikian, kondisi likuiditas perusahaan menunjukkan perbaikan. Saldo kas dan bank meningkat menjadi Rp6,82 miliar per akhir Maret 2026 dibandingkan Rp2,40 miliar pada akhir 2025. Arus kas dari aktivitas operasi juga berbalik positif dengan menghasilkan kas bersih sebesar Rp4,23 miliar, dibandingkan arus kas operasi negatif Rp15,82 miliar pada kuartal I 2025.
Manajemen menyampaikan bahwa Perseroan akan terus berupaya meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan utilisasi aset, serta memperkuat pengelolaan modal kerja guna memperbaiki kinerja dan menjaga keberlanjutan usaha di tengah tantangan industri yang masih berlangsung.




































