Mindhunter Jalur Hukum: Membedah Niat, Plot Twist Emosi, dan Tragedi “Khilaf” di Balik Tindak Pidana

- Jurnalis

Minggu, 29 Maret 2026 - 10:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararealitas.co  – Pernahkah Anda scroll timeline media sosial, mengamati kasus viral, dan ikut berdebat sengit: “Ini sih pembunuhan berencana!” atau “Ah, itu kan cuma refleks bela diri, masa dihukum juga?”

Di sinilah letak keseruan sekaligus kerumitan hukum pidana. Hukum tidak diciptakan sekadar untuk menghakimi rekaman CCTV atau apa yang dilakukan oleh tangan pelaku. Lebih dalam dari itu, hukum bekerja layaknya psikolog yang membedah apa yang sedang berkecamuk di dalam tempurung kepala seseorang sesaat sebelum tragedi terjadi. Asas Actus non facit reum nisi mens sit rea—perbuatan fisik saja tidak cukup membuatmu bersalah, jika pikiranmu tidak ikut bersalah—menjadi nyawanya.

Mari kita bongkar brankas pikiran manusia ini. Kita akan melihat bagaimana cara pandang hukum berevolusi dari era klasik yang serba hitam-putih, menuju pemahaman modern yang jauh lebih kompleks dan manusiawi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1.Niat (Mens Rea / Sikap Batin): Mesin Penggerak Kejahatan

Gampangnya, niat atau mens rea adalah sisi gelap di kepala seseorang; sebuah kesadaran bahwa apa yang ia lakukan itu salah, tapi ia tetap memilih untuk menginjak gas.

  • Kacamata Klasik: Di abad ke-18, filsuf seperti Immanuel Kant melihat dunia dengan sangat kaku. Niat jahat adalah murni persoalan moralitas absolut. Manusia dianggap punya kehendak bebas (free will) yang mutlak. Jadi, kalau Anda berbuat jahat, itu murni “dosa” karena Anda secara sadar menantang tatanan negara. Hukumannya jelas: pembalasan setimpal (retributif). Mata ganti mata.
  • Kacamata Modern (Kritis): Hari ini, hukum tidak lagi naif. Di era modern, niat dibedah lewat kacamata psikologi dan sosiologi kritis. Teori hukum saat ini memecah niat menjadi elemen kognitif (tahu itu melanggar hukum) dan volisional (memang menginginkan akibatnya). Lebih jauh lagi, pemikir modern (termasuk tradisi kritis seperti Mazhab Frankfurt) mulai melihat bahwa niat tidak selalu lahir dari ruang hampa. Ada tekanan sistemik, himpitan sosial, atau rasionalitas instrumental di mana pelaku memandang korban sekadar sebagai “alat” atau “halangan” semata, bukan lagi sebagai sesama manusia. Niat jahat kini dilihat sebagai produk dari interaksi sosial yang rusak, bukan sekadar dosa jiwa individu.
Baca Juga :  Menutup Tahun Dengan Kegiatan Menyenangkan Bersama Shopee 1.1 New Year Sale

2.Perencanaan (Voorbedachte Rade): Kejahatan Berdarah Dingin

Perencanaan itu bukan semata-mata soal berapa lama durasi pelaku menyiapkan kejahatannya. Ini soal kalkulasi yang dingin. Pelaku punya jeda waktu untuk berpikir, menimbang konsekuensi, tapi nuraninya tetap memilih untuk mengeksekusi.

  • Kacamata Klasik: Bapak Hukum Pidana Klasik, Cesare Beccaria, sangat memuja logika. Baginya, manusia selalu berhitung untung-rugi (rational choice). Kejahatan terencana adalah kasta kejahatan tertinggi karena pelakunya menggunakan anugerah terbesar manusia—akal sehat—justru untuk merusak. Makanya, pasal pembunuhan berencana selalu diganjar hukuman maksimal, bahkan hukuman mati.
  • Kacamata Modern: Fokusnya bergeser. Hukum modern lebih mementingkan suasana batin, atau kalm beraad en rustig overleg (pertimbangan yang tenang). Filsafat modern menyoroti matinya empati. Saat merencanakan sesuatu, pelaku bertransformasi menjadi mesin kalkulator yang kehilangan sisi humanisnya. Jeda waktu yang ia miliki seharusnya bisa digunakan untuk membatalkan niat, namun ia memilih mengabaikan suara hatinya. Di titik inilah hukum modern menjatuhkan palu terberatnya: pada ketiadaan empati yang disengaja.

3.Seketika (Opwelling / Emosi Sesaat): Saat Logika Dibajak Amarah

Ini adalah kebalikan dari perencanaan. Bayangkan sebuah momen di mana akal sehat tiba-tiba lumpuh total karena panik, amarah yang meledak, atau ketakutan yang ekstrem. Tidak ada jeda untuk berpikir. Tindakan mendahului logika.

  • Kacamata Klasik: Hukum zaman dulu kurang bisa kompromi dengan alasan ini. Logikanya, manusia dewasa seharusnya bisa mengendalikan nafsu dan amarahnya. Tindakan impulsif tetap dilihat sebagai kegagalan moral individu, sehingga pertanggungjawabannya sering kali tetap dituntut penuh.
  • Kacamata Modern: Evolusi terbesar terjadi di sini. Hukum kini menggandeng ilmu neurosains. Sistem peradilan modern mengakui konsep human frailty atau kerentanan manusiawi. Ada kalanya sistem limbik di otak (pusat emosi) sepenuhnya membajak korteks prefrontal (pusat logika). Hukum memaklumi bahwa dalam tekanan yang sangat gila—misalnya melihat anggota keluarga diserang di depan mata—sistem rasionalitas manusia bisa kolaps. Inilah mengapa kejahatan karena provokasi hebat atau emosi seketika (opwelling) nyaris selalu mendapat diskon hukuman. Hukum belajar untuk memaafkan kelemahan biologis kita.
Baca Juga :  BPH Migas Tanda Tangani PKS dengan BIN, Sinergi Pengawasan dan Pengamanan Preventif Distribusi BBM Subsidi Tepat Sasaran

4.Kelalaian / Ketidaksengajaan (Culpa): Tragedi “Ups” yang Membawa Petaka

Bagaimana jika pelaku sama sekali tidak berniat jahat, tapi kecerobohannya merenggut nyawa orang lain? Dia tidak mau akibatnya terjadi, tapi dia malas berpikir panjang atau abai pada prosedur kehati-hatian.

  • Kacamata Klasik: Pendekatannya sangat pukul rata dan objektif. Patokannya adalah “orang normal pada umumnya”. Kalau orang waras tidak akan melakukan kesalahan itu, berarti Anda bersalah. Titik. Fokusnya sekadar pada ganti rugi atau hukuman karena ada pihak yang dirugikan.
  • Kacamata Modern: Hukum modern membedahnya dengan sangat presisi. Kelalaian dipisah menjadi culpa lata (kecerobohan yang sangat fatal/berat) dan culpa levis (kelalaian ringan). Yang lebih menarik, standarnya berubah menjadi subjektif. Hakim akan melihat siapa pelakunya. Seorang dokter bedah yang salah potong urat akan dinilai berbeda dengan orang awam yang melakukan pertolongan pertama secara serampangan. Di era di mana kita dikelilingi teknologi (kendaraan cepat, AI, industri medis), filsafat hukum memandang kelalaian sebagai ancaman serius bagi masyarakat. Satu “ups” dari seorang supir bus yang bermain ponsel bisa memicu tragedi massal. Kelalaian di era modern bukan lagi sekadar kebodohan individu, melainkan kegagalan mematuhi standar komunikasi dan kewajiban hukum dalam masyarakat yang penuh risiko.

Konklusi: Memanusiakan Hukum

Perjalanan teori hukum pidana dari masa klasik ke modern pada dasarnya adalah perjalanan manusia dalam memahami dirinya sendiri. Hukum tidak lagi bekerja seperti kalkulator dosa yang hanya melihat hasil akhir.

Di ruang sidang modern, hukum mencoba duduk bersama ilmu psikologi, sosiologi, dan filsafat untuk menjawab pertanyaan esensial: Seberapa jahat rencananya? Seberapa rentan emosinya? Dan seberapa ceroboh perilakunya? Karena pada ujungnya, keadilan tidak akan pernah tegak jika kita hanya menghakimi perbuatan, tanpa mau repot-repot memahami kerumitan jiwa manusia yang terkurung di baliknya.

#Oleh : Prof. Andre Yosua M (Pengajar Filsafat Hukum & Hukum Pidana)

Berita Terkait

Gerak Cepat, Polsek Cigudeg berhasil Temukan Motor Warga yang Hilang Setalah beberapa Hari Dilaporkan Hilang
Dua Juara, Satu Semangat: PKBM Mutiara Hati Terus Kembangkan Potensi
Musrenbangdes Tulungrejo Bahas RKPDes 2027, Warga Aktif Sampaikan Aspirasi
Jaga Kebersihan Lingkungan, TP PKK Berperan Penting Tangani Persoalan Sampah
Dugaan Intimidasi di Rumah Doa GKPI Rajeg, Laporan Resmi Masuk Polresta Tangerang
Program Dekranasda, TP PKK, dan TP Posyandu Perlu Terintegrasi dalam Perencanaan Daerah
Kontainer Terbakar di NPCT 1, Polres Pelabuhan Tanjung Priok Gandeng Labfor Lakukan Penyelidikan
Tiga Orang Bawa Sajam Diduga Mengamuk di Jalan Sertu Semanan Kalideres, Warga Minta Polisi Bertindak

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 10:35 WIB

Gerak Cepat, Polsek Cigudeg berhasil Temukan Motor Warga yang Hilang Setalah beberapa Hari Dilaporkan Hilang

Jumat, 25 September 2026 - 08:52 WIB

Dua Juara, Satu Semangat: PKBM Mutiara Hati Terus Kembangkan Potensi

Rabu, 23 September 2026 - 16:05 WIB

Musrenbangdes Tulungrejo Bahas RKPDes 2027, Warga Aktif Sampaikan Aspirasi

Selasa, 22 September 2026 - 17:41 WIB

Jaga Kebersihan Lingkungan, TP PKK Berperan Penting Tangani Persoalan Sampah

Selasa, 22 September 2026 - 15:59 WIB

Dugaan Intimidasi di Rumah Doa GKPI Rajeg, Laporan Resmi Masuk Polresta Tangerang

Berita Terbaru

Nasional

PLN Indonesia Power UBP Banten 3 Lontar Perkuat Sinergi

Jumat, 25 Sep 2026 - 11:03 WIB

Berita Aktual

Dua Juara, Satu Semangat: PKBM Mutiara Hati Terus Kembangkan Potensi

Jumat, 25 Sep 2026 - 08:52 WIB

Kabar Polisi

Brimob dan Polwan Polda Metro Bagikan Roti untuk Massa Hari Tani

Kamis, 24 Sep 2026 - 21:00 WIB