TANGERANG, (23/9) Suararealitas.co – Denny JA Foundation bersama mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Teachers College Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar Pelatihan Penulisan Puisi Esai bertema “Dari Calon Guru, Tumbuh Generasi Penulis”. Kegiatan yang berlangsung di kampus UPH tersebut diikuti 30 mahasiswa dan dirancang untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus menumbuhkan kepekaan terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.
Kegiatan ini dikoordinasikan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Teachers College UPH Pitaya Rahmadi dan Direktur Denny JA Foundation Nita Lusaid yang juga bertindak sebagai fasilitator. Pelatihan menghadirkan Dhenok Kristianti, pengajar, penyair, sekaligus penggerak puisi esai, serta Monica JR, Ketua Koordinator Puisi Esai Indonesia, sebagai narasumber. Dhenok juga mendampingi peserta dalam pengembangan karya sebagai mentor dan editor.
Sebelum memperkenalkan konsep puisi esai, Monica membacakan karya Denny JA berjudul “Jangan Bully Aku, Aku Bisa Buat Bom”. Karya tersebut dipilih karena berkaitan dengan persoalan perundungan di lingkungan sekolah dan mengajak peserta melihat luka anak-anak yang mengalami pengucilan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembacaan puisi tersebut menjadi pengantar untuk membangun kesadaran mahasiswa calon guru mengenai pentingnya kehadiran pendidik yang peka terhadap kondisi siswa. Kepekaan itu diharapkan mendorong calon guru untuk mampu mengenali penderitaan yang kerap tersembunyi, mendengarkan suara anak, serta menciptakan ruang belajar yang membuat setiap siswa merasa diterima.
Dalam pelatihan tersebut, puisi esai diperkenalkan sebagai genre sastra yang dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kepedulian dan menjaga martabat manusia. Genre ini mempertemukan fakta, imajinasi, dan bahasa puitik untuk mengajak pembaca memahami pengalaman orang lain, termasuk mereka yang selama ini jarang mendapatkan ruang untuk menyuarakan pengalamannya.
Para peserta juga mempelajari sejumlah tahapan dalam penulisan puisi esai, mulai dari menggali ide, melakukan riset sederhana, menentukan tokoh dan konflik, hingga mengolah realitas menjadi narasi puitik. Praktik menulis dan pemberian umpan balik menjadi bagian penting dalam pelatihan, dengan tetap menekankan akurasi fakta serta penghormatan terhadap martabat subjek yang diangkat.
Program pendampingan terhadap peserta direncanakan berlanjut melalui pertemuan daring menggunakan Zoom dan komunikasi melalui grup WhatsApp. Karya-karya yang memenuhi standar kurasi dan penyuntingan selanjutnya direncanakan dihimpun dalam sebuah antologi digital dan diproses untuk memperoleh ISBN.
Melalui program tersebut, mahasiswa calon guru diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan menulis, tetapi juga membawa kecintaan terhadap sastra dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan ke dalam ruang kelas.



































