Jakarta, Suararealitas.co – PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) mencatat pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang tahun buku 2025, didorong oleh peningkatan aktivitas usaha di sektor infrastruktur, industri pengolahan aspal, konstruksi jalan khusus, dan pengembangan energi terbarukan.
Direktur SOLA, Imam Buchairi, mengungkapkan bahwa pendapatan perseroan hingga 31 Desember 2025 mencapai Rp333,99 miliar, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp119,07 miliar.
“Peningkatan pendapatan ditopang oleh pertumbuhan aktivitas usaha di sektor infrastruktur, konstruksi jalan khusus, serta pengembangan bisnis energi terbarukan yang menjadi fokus perusahaan,” ujar Imam dalam Paparan Publik Perseroan di Jakarta, Senin (15/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertumbuhan pendapatan tersebut turut mendorong kenaikan laba kotor menjadi Rp75,74 miliar dari Rp38,22 miliar pada 2024. Pada saat yang sama, perseroan berhasil menekan beban usaha menjadi Rp25,16 miliar dibandingkan Rp29,14 miliar pada tahun sebelumnya.
Efisiensi operasional tersebut berdampak pada lonjakan laba usaha menjadi Rp50,57 miliar dari Rp9,08 miliar pada 2024. Sementara laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp46,20 miliar, meningkat dibandingkan Rp6,98 miliar pada tahun sebelumnya.
Adapun laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp44,64 miliar pada 2025, melonjak dibandingkan Rp6,69 miliar pada 2024.
Dari sisi posisi keuangan, total aset perseroan meningkat menjadi Rp309,85 miliar hingga akhir 2025 dari Rp184,51 miliar pada tahun sebelumnya. Liabilitas tercatat sebesar Rp117,22 miliar, sedangkan ekuitas meningkat seiring pertumbuhan laba dan ekspansi usaha yang dijalankan perseroan.
Selain mencatat pertumbuhan sepanjang tahun buku 2025, SOLA juga membukukan kinerja positif pada kuartal I 2026. Direktur SOLA, Hasnan Riswandi, memaparkan bahwa pendapatan perseroan hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp75,26 miliar, meningkat dibandingkan Rp14,94 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong laba bruto menjadi Rp18,84 miliar dari Rp3,79 miliar pada kuartal I 2025. EBITDA meningkat menjadi Rp14,86 miliar dibandingkan Rp1,91 miliar pada periode yang sama tahun lalu, sedangkan laba bersih tercatat sebesar Rp10,53 miliar.
Hingga akhir Maret 2026, total aset perseroan mencapai Rp248,58 miliar, dengan liabilitas sebesar Rp102,40 miliar dan ekuitas Rp133,91 miliar.
Direktur Utama SOLA, Mochamad Bhadawi, menjelaskan bahwa perseroan saat ini mengembangkan bisnis melalui tiga pilar utama, yakni pengolahan aspal dan produk turunannya, konstruksi infrastruktur, serta energi terbarukan.
Perseroan memiliki enam entitas anak yang mendukung kegiatan usaha grup, yaitu PT Graha Solusi Indonesia, PT Modifikasi Bitumen Sumatera, PT Solare Bitumen Indonesia, PT Solare Bitumen Industri, PT Aplikasi Bitumen Indonesia, dan PT Bumi Raya Energi Hijau. Melalui entitas-entitas tersebut, perseroan mengoperasikan fasilitas produksi aspal di Demak, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan, serta mengembangkan bisnis konstruksi jalan dan energi terbarukan.
Produk yang dihasilkan mencakup aspal polimer, aspal emulsi, waterproofing, bitumen paint, dan berbagai produk turunan bitumen lainnya yang dipasarkan melalui merek Solabit. Perseroan juga tengah mengembangkan fasilitas produksi asphalt granule di Tuban, Jawa Timur.
Selain itu, SOLA terus memperluas portofolio bisnis energi terbarukan melalui pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dijalankan oleh PT Bumi Raya Energi Hijau. Perseroan juga menjajaki peluang proyek berbasis dekarbonisasi dan pengembangan ekonomi karbon.
Untuk memperkuat lini bisnis infrastruktur, perseroan menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Afrika Selatan dalam pengembangan teknologi nanopolimer untuk stabilisasi tanah yang ditujukan untuk mendukung proyek jalan, kawasan industri, dan berbagai kebutuhan konstruksi lainnya.
Manajemen menilai prospek usaha masih terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan dan preservasi jalan nasional, kebutuhan aspal dalam negeri, pembangunan jalan khusus untuk sektor pertambangan, logistik dan pelabuhan, serta meningkatnya investasi di sektor energi terbarukan.
Untuk tahun 2026, perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp412,57 miliar. Laba tahun berjalan diproyeksikan mencapai Rp52,73 miliar, dengan total aset sebesar Rp351,39 miliar dan ekuitas Rp245,37 miliar.
Target tersebut akan ditopang oleh penguatan bisnis pemeliharaan jalan angkutan batubara di Sumatera dan Kalimantan, optimalisasi jaringan pabrik industri aspal di Sumatera Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta pengembangan proyek EPC PLTS, PLTS IPP, dan layanan operasi serta pemeliharaan di sektor energi.
Manajemen menegaskan fokus perseroan pada tahun ini tetap diarahkan pada peningkatan kinerja operasional, penguatan backlog kontrak konstruksi, dan menjaga pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.




































