Mendengar Kisah Suka-Duka Wartawan Era 80–90-an: Ketika Idealisme Menjadi Nafas Profesi

- Jurnalis

Jumat, 27 Februari 2026 - 16:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA UTARA, Suararealitas.co – 27 Februari 2026 – Di tengah derasnya arus informasi digital hari ini, sulit membayangkan bagaimana wajah dunia jurnalistik empat dekade silam. Pada era 1980-an hingga 1990-an, ketika internet belum hadir dan ponsel pintar masih sebatas angan teknologi masa depan, wartawan hidup dengan keberanian, naluri tajam, serta keteguhan menjaga marwah profesi.

Kala itu, ruang redaksi dipenuhi suara denting mesin tik yang bersahut-sahutan. Setiap huruf ditekan dengan tenaga dan keyakinan. Salah ketik berarti harus mengulang atau menutupinya dengan cairan penghapus khusus. Tidak ada tombol “delete”, tidak ada fitur “edit”. Semua dikerjakan dengan kesabaran dan ketelitian.

Para wartawan berburu telepon umum demi mengirim kabar penting ke kantor redaksi. Koin receh menjadi penentu tersambung tidaknya berita eksklusif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, mesin faksimile berdiri di sudut kantor, menunggu berdering membawa dokumen penting dari luar kota. Waktu berjalan lebih lambat, namun tekanan deadline terasa sama beratnya, bahkan mungkin lebih menegangkan.

Antara Suka dan Duka di Lapangan

Bagi para jurnalis era itu, suka dan duka adalah bagian tak terpisahkan dari profesi. Kebahagiaan memuncak ketika berita yang ditulis dengan susah payah berhasil menembus halaman utama. Nama tercetak gagah di kolom byline menjadi kebanggaan tersendiri pengakuan atas kerja keras dan integritas.

Namun di balik itu, duka kerap menyertai. Hujan deras di lokasi liputan, medan sulit yang harus ditempuh tanpa kendaraan memadai, hingga tekanan dari narasumber yang tak ingin fakta terungkap menjadi tantangan sehari-hari.

Baca Juga :  Ketidakhadiran Delegasi Tingkat Tinggi Indonesia di Pemakaman Ali Khamenei || Aceng Syamsul Hadie: Apakah Politik Luar Negeri Bebas Aktif di Era Prabowo Mengalami Krisis Identitas?

Tak jarang wartawan harus berhadapan dengan risiko intimidasi, bahkan ancaman.

Salah satu jurnalis senior, Tiwong, mengenang bagaimana ia pernah harus mengetik ulang naskah hingga tiga kali karena pita mesin tik putus di tengah malam. “Kalau sudah deadline, tak ada alasan. Mesin rusak pun harus tetap jalan,” ujarnya sambil tersenyum mengenang masa itu.

Rekan seangkatannya, Cipto, mengisahkan pengalaman menunggu berjam-jam di depan kantor instansi demi satu pernyataan resmi. “Kami belajar sabar. Informasi tidak datang secepat sekarang. Tapi justru di situ nilai perjuangannya,” katanya.

Kipray dan Tarno, dua wartawan lain yang turut meramaikan dunia jurnalistik dekade tersebut, sepakat bahwa solidaritas antarwartawan menjadi kekuatan utama. Persaingan tetap ada, namun di atas segalanya, persahabatan lebih diutamakan. Mereka berbagi informasi dasar, saling mengingatkan soal etika, bahkan saling membantu saat salah satu menghadapi kesulitan di lapangan.

Romantisme Tanpa Klikbait

Era itu belum mengenal istilah klikbait. Tak ada sensasi instan demi mengejar trafik. Berita ditulis dengan verifikasi berlapis. Narasumber ditemui langsung, dokumen diperiksa fisiknya, dan setiap kutipan dipastikan akurasinya.

Idealisme menjadi fondasi. Wartawan memahami bahwa tugas mereka bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menjaga kebenaran dan menjadi jembatan antara rakyat dan kekuasaan. Mereka bekerja dalam sistem yang tidak selalu mudah, terutama menjelang akhir Orde Baru, namun semangat untuk menyuarakan fakta tetap menyala.

Baca Juga :  Rumiah Kartoredjo: Jejak Emas Atlet Nasional yang Jadi Kapolda Perempuan Pertama di Indonesia

Jika hari ini media bergerak dalam hitungan detik, maka dulu kecepatan diuji oleh ketahanan fisik dan mental. Mereka berlari mengejar narasumber, bukan notifikasi. Mereka menunggu konfirmasi, bukan sekadar mengutip unggahan.

Potret Perjuangan Yang Tak Lekang Zaman

Kisah wartawan era 80–90-an bukan sekadar nostalgia. Ia adalah potret perjuangan sebuah profesi yang dibangun di atas keberanian dan dedikasi. Pena dan kemudian papan ketik menjadi simbol bahwa kebenaran harus diperjuangkan, betapapun berat tekanan yang menghadang.

Di Jakarta, pada pertemuan sederhana 27 Februari 2026 ini, kisah-kisah itu kembali mengalir. Tiwong, Cipto, Kipray, dan Tarno duduk bersama, tertawa mengenang masa lalu yang penuh cerita. Di rambut yang mulai memutih, tersimpan pengalaman panjang yang tak ternilai.

Mereka mungkin kini hidup di era digital, menggunakan gawai dan aplikasi pesan instan. Namun satu hal tak berubah: cinta pada kebenaran. Semangat itu tetap sama seperti saat pertama kali mereka menekan tuts mesin tik, menuliskan berita dengan keyakinan bahwa tugas wartawan adalah menjaga nurani publik.

Waktu boleh berganti, teknologi boleh melesat. Tetapi nilai yang mereka pegang teguh integritas, solidaritas, dan keberanian akan selalu menjadi fondasi jurnalisme, dulu, kini, dan nanti.

Penulis : Kipray

Editor : Eka

Berita Terkait

Integritas dan Karya Menjadi Cerminan Sejati Profesi Wartawan
Pentingnya Sertifikasi Internasional bagi Wartawan
Aceng Syamsul Hadie: Hamas Menyerahkan Administrasi Sipil Gaza Bukan Menyerahkan Perlawanan
Nobar Saling Bongkar Polri vs Kejaksaan, Ngeri-Ngeri Sedap
Mengapa Pemerintah Tetap Ngotot Melanjutkan MBG? Antara Gengsi Politik, Beban Fiskal, dan Krisis Rasionalitas Kebijakan
Terkabulnya Praperadilan Roy Suryo || Aceng Syamsul Hadie: Tamparan bagi Aparat yang Menyalahgunakan Kekuasaan
Aceng Syamsul Hadie: Dibalik Kasus Jampidsus Febrie, Negara Tidak Boleh Menjadi Arena Adu Kekuatan Penegakan Hukum
Ketidakhadiran Delegasi Tingkat Tinggi Indonesia di Pemakaman Ali Khamenei || Aceng Syamsul Hadie: Apakah Politik Luar Negeri Bebas Aktif di Era Prabowo Mengalami Krisis Identitas?

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:46 WIB

Integritas dan Karya Menjadi Cerminan Sejati Profesi Wartawan

Senin, 13 Juli 2026 - 23:13 WIB

Pentingnya Sertifikasi Internasional bagi Wartawan

Senin, 13 Juli 2026 - 23:03 WIB

Aceng Syamsul Hadie: Hamas Menyerahkan Administrasi Sipil Gaza Bukan Menyerahkan Perlawanan

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:28 WIB

Nobar Saling Bongkar Polri vs Kejaksaan, Ngeri-Ngeri Sedap

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:25 WIB

Mengapa Pemerintah Tetap Ngotot Melanjutkan MBG? Antara Gengsi Politik, Beban Fiskal, dan Krisis Rasionalitas Kebijakan

Berita Terbaru